CBA Desak Presiden Prabowo Transparan Soal Pemangkasan Anggaran

- Penulis

Rabu, 12 Februari 2025 - 09:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Uchok Sky Khadafi. (dok. pribadi)

Uchok Sky Khadafi. (dok. pribadi)

JAKARTA – Center for Budget Analysis (CBA) mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk menjelaskan secara transparan kebijakan pemotongan anggaran Kementerian/Lembaga (K/L) negara yang tertuang dalam Instruksi Presiden (Inpres) No.1/2025 tentang Efisiensi Belanja dalam Pelaksanaan APBN dan APBD Tahun Anggaran 2025.

Direktur CBA, Uchok Sky Khadafi, menilai kebijakan ini lebih pantas disebut pemangkasan anggaran daripada efisiensi.

“Ini bukan sekadar efisiensi, tetapi pemangkasan besar-besaran. Bahkan, para pimpinan kementerian pun terkejut, seperti terkena petir di siang bolong,” ujar Uchok dalam keterangannya, Selasa (12/2/2025).

Menurutnya, Inpres tersebut menimbulkan kebingungan di kalangan pejabat tinggi dan masyarakat.

“Presiden Prabowo harus menjelaskan secara terbuka alasan dan tujuan dari kebijakan ini. Jangan sampai rakyat dan jajaran kabinet dibuat bingung. Judulnya efisiensi, tapi yang terjadi justru pemangkasan anggaran secara besar-besaran,” tegasnya.

Uchok menambahkan bahwa efisiensi seharusnya tetap menjaga keberlanjutan program-program yang sudah ada.

“Kalau efisiensi, mestinya program masih berjalan meskipun dengan dana yang lebih kecil. Tapi kalau refocusing dilakukan dengan memangkas anggaran secara ugal-ugalan, ini jelas ada yang tidak beres,” katanya.

Ia juga mempertanyakan logika di balik kebijakan ini. “Aneh sekali, katanya efisiensi, tapi jumlah kementerian justru bertambah. Ini lucu dan tidak masuk akal,” tambahnya.

Dampak Serius bagi Perekonomian

CBA menilai pemangkasan anggaran ini bisa berdampak serius pada perekonomian nasional. “Ini bukan sekadar angka di atas kertas. Anggaran pemerintah memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar,

terutama di saat ekonomi sedang lesu. Jika dana ini justru dialihkan ke program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau belanja konsumtif lainnya, harus ada penjelasan tegas soal efektivitasnya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Uchok.

Menurutnya, kebijakan ini sudah mulai memicu reaksi pasar. “Jika banyak program pemerintah yang terhenti, ekonomi tidak bergerak, pengangguran bisa melonjak. Anak-anak sekolah pagi dapat makan gratis, tapi bagaimana dengan makan siang dan malam mereka jika orang tuanya kena PHK? Ini ironi,” kata Uchok.

Kementerian yang Dipotong dan yang Selamat

CBA juga mengungkap fakta bahwa sejumlah kementerian mengalami pemangkasan anggaran yang signifikan. Misalnya:

Kementerian PUPR: dari Rp110,9 triliun menjadi Rp29,9 triliun

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Riset: dari Rp57,68 triliun menjadi Rp35,18 triliun

Kementerian Perhubungan: dari Rp31,45 triliun menjadi Rp13,65 triliun

Namun, di sisi lain, beberapa kementerian dan lembaga justru tidak tersentuh pemangkasan, seperti Kementerian Pertahanan, DPR RI, MPR RI, Badan Intelijen Negara (BIN), POLRI, dan BPKP.

“Publik berhak tahu, kenapa pemangkasan ini tidak berlaku untuk semua kementerian dan lembaga? Ada ketidakadilan dalam kebijakan ini,” tandas Uchok.

CBA menegaskan bahwa pemerintah harus segera memberikan klarifikasi agar tidak menimbulkan ketidakpastian di masyarakat.

“Jangan sampai kebijakan ini justru memperburuk situasi ekonomi dan sosial. Transparansi adalah kunci,” pungkasnya. ***

 

 

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Produk UMKM Sulit Tembus Pasar Global? Barantin dan Kemendag Siapkan Langkah Ini
Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu
Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027
1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton
Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini
Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru
Kuota Tuna Sirip Biru Indonesia Naik 25 Persen, Berpeluang Tembus 3.170 Ton per Tahun
Laba BULOG Cetak Rekor Rp2,4 Triliun, Akhir Tahun Diprediksi Tembus Rp3 Triliun

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 09:52 WIB

Hashim Ungkap Rencana HP Gratis untuk Warga, Ada Saldo Awal Rp50 Ribu

Rabu, 14 Oktober 2026 - 23:03 WIB

Drone Pembersih Insulator Listrik Diuji, Duta Topkey Energi Bidik Implementasi pada 2027

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:42 WIB

1.985 Koperasi Merah Putih Masuk Jaringan BULOG, Pesanan Beras SPHP Capai 624 Ton

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:14 WIB

Harga Emas Antam Anjlok Rp20.000 per Gram, Perak Ikut Melemah Hari Ini

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:34 WIB

Garam Merah Putih Bima Siap Tembus Pasar Nasional, Petambak Lokal Punya Harapan Baru

Berita Terbaru