JAKARTA – Perum Bulog menanggapi temuan beras impor berkutu di gudang mereka yang diungkap oleh Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. Direktur Supply Chain Pelayanan Publik Perum Bulog, Mokhamad Suyamto, menjelaskan bahwa beras sebagai komoditas pangan memang rentan terhadap serangan hama selama penyimpanan, terutama jika disimpan dalam jangka waktu yang lama.
“Beras sebagai komoditas pangan berpotensi terkena serangan hama selama penyimpanan. Apalagi beras ini sebagai cadangan pangan pemerintah yang disimpan dalam waktu yang relatif lama,” ujar Suyamto pada Minggu (16/3/2025).
Untuk mengatasi masalah tersebut, Bulog telah menerapkan konsep Pengelolaan Hama Gudang Terpadu (PHGT) dan melakukan pengawasan kualitas serta serangan hama secara rutin.
“Tindakan perawatan kualitas juga kita lakukan apabila terjadi serangan hama dengan spraying (penyemprotan) dan fumigasi untuk memastikan beras yang dikeluarkan dari gudang bebas dari hama (kutu),” jelas Suyamto.
Sebelumnya, Titiek Soeharto menemukan beras impor berkutu saat kunjungan kerja ke Gudang Bulog di Yogyakarta.
“Pada reses lalu, saya memimpin tim ke Jogja, dan kami meninjau Gudang Bulog. Di situ kami menemukan masih banyak beras sisa impor yang lalu di dalam gudang Bulog yang sudah banyak kutunya,” kata Titiek dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Selasa (11/3/2025).
Menanggapi temuan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengungkapkan bahwa berdasarkan laporan dari Perum Bulog, terdapat sekitar 100 ribu hingga 300 ribu ton beras impor yang mengalami penurunan kualitas di seluruh Indonesia.
“Memang Bulog sudah melaporkan juga ada 100 ribu – 300 ribu (ton) seluruh Indonesia dari 2 juta (ton), ini sudah masuk dalam list, termasuk Yogya. Tetapi nanti kami tanya lagi, kalau bisa dipercepat yang di Yogya,” terang Amran.
Amran menegaskan bahwa beras yang terserang kutu tersebut tidak akan disalurkan kepada masyarakat, baik untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) maupun bantuan pangan.
“Kami sudah sepakat tidak boleh untuk masyarakat, tidak boleh untuk SPHP, tidak boleh untuk bantuan, itu dikeluarin,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, meminta Bulog untuk memeriksa semua gudang secara berkala guna memastikan kualitas beras yang disimpan.
“Masing-masing Pinwil (Pimpinan Wilayah), Pinca (Pimpinan Cabang), Kepala Gudang harus cek secara berkala kualitas beras di gudang Bulog,” ujarnya.
Arief menekankan pentingnya fumigasi rutin untuk menjaga kualitas beras di gudang Bulog.
“Seharusnya dilakukan fumigasi untuk mengelola kualitas stok beras,” tambahnya.
Menko Pangan, Zulkifli Hasan, juga menanggapi temuan beras berkutu ini. Ia menyatakan bahwa jumlah beras yang terkena kutu sangat sedikit dan bukan masalah besar.
“Jumlahnya tidak banyak, hanya beberapa karung saja,” ujarnya saat inspeksi di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Kasus ini menyoroti pentingnya manajemen penyimpanan beras yang optimal di gudang-gudang Bulog. Faktor kelembaban dan lamanya penyimpanan sering kali menjadi penyebab utama penurunan kualitas beras. Oleh karena itu, pengawasan ketat serta rotasi stok yang cepat menjadi kunci untuk memastikan beras tetap dalam kondisi layak konsumsi sebelum disalurkan ke masyarakat. (***)













