RENTAK.ID, BATAM – Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Batam (BP Batam) sedang berupaya agar Amerika Serikat (AS) memilih Pulau Batam sebagai tempat untuk membangun industri semikonduktor yang diinginkan oleh AS.
Kepala Pusat Pengembangan BP Batam, Irfan Syakir Widyasa mengatakan, pemerintah sangat serius dalam mengembangkan Batam sebagai kawasan perdagangan bebas dan ekonomi khusus.
Hal tersebut diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 1/2024, di mana diatur syarat-syarat pengembangan Batam, Bintang, dan Karimun agar ketiga pulau tersebut tidak bersaing, tetapi masing-masing memiliki spesialisasi perekonomian.
Irfan Syakir Widyasa menjelaskan dalam diskusi Sinergi DPR RI dan Wartawan Parlemen
“Dalam Mendukung Batam sebagai Kawasan Ekonomi Khusus di Kota Batam, bahwa ke depannya Batam akan lebih fokus pada industri ringan yang dapat memberikan nilai tambah yang tinggi, seperti industri semikonduktor, data center, dan industri animasi,” katanya dalam diskusi.Sinergi DPR RI dan Wartawan Parlemen di Batam, Jumat (23/2/2024) malam.
Khusus untuk pengembangan industri semikonduktor, Irfan mengatakan, bahwa peluang untuk menarik investasi asing sangat besar.
“Alasannya, AS sedang mencari lokasi untuk membangun pabrik-pabrik industri semikonduktor baru di luar China, karena adanya perang dingin antara kedua negara tersebut.) ” beber Irfan.
Menurut Irfan, Batam menjadi salah satu daerah yang dilirik oleh AS. Menurutnya, DPR AS bahkan telah menyetujui anggaran sebesar US$50 miliar per tahun untuk mencari negara mana yang cocok untuk investasi, dan Indonesia – pada khususnya Batam – telah menjadi salah satu dari enam negara yang dipantau oleh AS.
Irfan menyebutkan, bahwa realisasi investasi penanaman modal asing di Batam pada tahun 2023 telah mencapai US$295,9 juta dari 3.551 proyek.
Lima negara yang paling banyak berinvestasi di Batam adalah Singapura dengan US$366,5 juta, China dengan US$51,8 juta, Hongkong dengan US$41,7 juta, Prancis dengan US$40,8 juta, dan Jepang dengan US$22,7 juta. ****













