JAKARTA – Pernyataan kontroversial Menteri Kebudayaan Fadli Zon terkait Tragedi Mei 1998 menuai kecaman dari berbagai pihak. Salah satunya datang dari Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Badan Persaudaraan Antariman (DPP BERANI), Pdt. Lorens Manuputty, yang menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk pengingkaran terhadap sejarah kelam bangsa dan penghinaan terhadap para korban.
“Pernyataan Menteri Budaya Fadli Zon bukan sekadar kekhilafan, tetapi merupakan bentuk pengingkaran atas fakta sejarah yang telah diungkap secara resmi. Ini sangat melukai para korban yang masih menyimpan trauma mendalam, serta mencederai hati nurani bangsa,” ujar Pdt. Lorens , Selasa (17/6/2025).
Ia menegaskan bahwa Tragedi Mei 1998 bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan realitas sejarah yang menyimpan luka mendalam bagi bangsa, terutama bagi para perempuan korban kekerasan seksual.
“Bangsa yang dewasa adalah bangsa yang berani mengakui kesalahan masa lalunya. Pengakuan atas peristiwa kelam merupakan penghormatan kepada para korban dan keluarganya. Sebaliknya, pengingkaran hanya akan memperdalam luka mereka,” tambahnya.
Sebagaimana dilaporkan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) pada 1998, terdapat puluhan kasus kekerasan seksual dalam rangkaian kerusuhan Mei, dengan korban sebagian besar perempuan dari etnis Tionghoa. Data resmi mencatat sedikitnya 52 korban pemerkosaan, di antaranya 14 disertai penganiayaan, serta puluhan kasus kekerasan dan pelecehan seksual lainnya.
“Setiap data tersebut bukan sekadar angka, melainkan penderitaan nyata korban yang hingga kini banyak yang belum mendapatkan keadilan,” tegasnya lagi.
Sebagai organisasi lintas iman yang menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dan keadilan, DPP BERANI menyerukan kepada para pejabat publik untuk lebih bijak dan bertanggung jawab dalam merespons peristiwa sejarah bangsa.
“Pengingkaran atas fakta sejarah bukanlah jalan menuju rekonsiliasi. Hanya dengan kejujuran, keadilan, dan pengakuan atas penderitaan korban, bangsa ini bisa pulih dan melangkah menjadi bangsa yang beradab dan bermartabat,” pungkas Pdt. Lorens.
Penulis : lazir
Editor : ameri













