APTRI Desak DPR dan Pemerintah Atur Ulang Impor Gula Rafinasi untuk Lindungi Petani

- Penulis

Rabu, 6 Agustus 2025 - 20:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi petani tebu menangis di kebun tebu miliknya karena impor gula rafinasi yang merugikan mereka. (ilustrasi oleh ai-rentak.id)

Ilustrasi petani tebu menangis di kebun tebu miliknya karena impor gula rafinasi yang merugikan mereka. (ilustrasi oleh ai-rentak.id)

JAKARTA – Sekretaris Jenderal DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Sunardi Edy Sukamto, menyampaikan kekhawatiran atas maraknya impor gula rafinasi yang dinilai mengancam keberlangsungan hidup petani tebu lokal.

Ia mendesak pemerintah dan DPR untuk segera mengatur tata niaga gula secara adil agar petani tidak semakin terpuruk.

Sekjen DPP APTRI, Sunardi Edy Sukamto, menyuarakan aspirasi petani tebu rakyat kepada berbagai lembaga terkait, termasuk Komisi VI DPR RI, Kementerian BUMN, PTPN Group (SGN), DANANTARA, dan kementerian teknis lainnya.

Ia berharap agar sektor pergulaan nasional dapat dikelola lebih baik, terutama dalam pengendalian distribusi dan impor gula rafinasi.

“Sudah kami sampaikan semua hal tersebut ke rekan-rekan Komisi Pertanian DPR RI, BUMN, SGN, DANANTARA, dan lainnya. Semoga pertanian, khususnya pergulaan, ke depan lebih baik dalam segala hal. Doa kami menyertai,” kata Sunardi dalam keterangannya lewat video singkat yang diterima Rentak.id, Selasa (6/8/2025).

Sunardi juga mengaku khawatir para petani yang sebelumnya mulai percaya dan semangat menanam tebu bisa kehilangan harapan akibat ketidakpastian pasar.

“Saya sangat khawatir, petani yang beberapa tahun terakhir sudah mulai percaya dengan budidaya tebu bisa kapok menanam tebu,” ujarnya.

Sunardi juga telah menyampaikan permasalahan tersebut langsung kepada Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Nasim Khan, dan meminta dukungan konkret.

Menanggapi hal tersebut, Anggota DPR RI Nasim Khan mengungkapkan bahwa kebutuhan gula nasional saat ini berkisar antara 4,5 hingga 5 juta ton per tahun. Dari angka itu, sekitar 2,5–3 juta ton adalah gula konsumsi rumah tangga, sedangkan sisanya, sekitar 1,5–2 juta ton, adalah gula rafinasi untuk industri.

“Produksi gula nasional dari pabrik gula kita hanya sekitar 2,5–3 juta ton per tahun, jadi masih ada kekurangan yang harus ditutup lewat impor,” jelas Nasim.

Ia menambahkan bahwa untuk kebutuhan industri, Indonesia mengimpor gula mentah (raw sugar) sebanyak 3–3,4 juta ton per tahun, yang kemudian diolah menjadi gula rafinasi oleh perusahaan-perusahaan industri.

Nasim menegaskan pentingnya membedakan pengelolaan gula industri dan gula konsumsi rumah tangga agar tidak merugikan petani.

“Petani gula butuh support dan dukungan. Tata niaga gula, terutama gula petani tebu rakyat, sedang mengalami krisis. Sekarang tidak ada pedagang besar yang mau membeli. Sudah satu bulan tebu yang ditebang belum dibayar karena gula tidak laku dan harganya anjlok. Kami berharap besar kepada pemerintah,” ucapnya.

Hingga kini, impor gula kristal rafinasi di Indonesia dikuasai oleh 11 perusahaan besar yang tergabung dalam Asosiasi Gula Kristal Rafinasi Indonesia (AGRI). Perusahaan-perusahaan tersebut mendapat izin impor dari Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian untuk mengolah raw sugar menjadi gula rafinasi yang digunakan industri.

Berikut daftar distributor gula rafinasi di Indonesia:

PT Angels Products

PT Jawamanis Rafinasi

PT Sentra Usahatama Jaya

PT Permata Dunia Sukses Utama

PT Dharmapala Usaha Sukses

PT Sugar Labinta

PT Duta Sugar International

PT Makassar Tene

PT Berkah Manis Makmur

PT Andalan Furnindo

PT Medan Sugar Industry

Impor ini dilakukan dari negara pemasok utama seperti Thailand, Australia, dan Brasil, yang kemudian diolah untuk memenuhi kebutuhan industri makanan, minuman, hingga farmasi.

APTRI mendesak agar pemerintah segera mengevaluasi dan membatasi impor gula rafinasi, serta menciptakan skema perlindungan harga bagi petani tebu rakyat.

Selain itu, perlu sinergi antar-lembaga untuk memperbaiki tata niaga gula nasional agar petani tebu tidak terus merugi dan bisa kembali semangat menanam tebu sebagai komoditas andalan nasional.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga
Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya
Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali
Cegah Pangan Berbahaya, BPOM Rilis Aturan Baru Cemaran Mikroba
Stok Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino, BULOG Pastikan Ketahanan Pangan Terjaga
BULOG Genjot Bantuan Pangan di Lombok Utara, Puluhan Ribu Warga Jadi Sasaran
Pelaporan SPT Tembus 10,7 Juta, DJP Dorong Wajib Pajak Segera Aktifkan Coretax
Panen Raya Ngawi Digenjot, BULOG Kejar Target 4 Juta Ton demi Swasembada Pangan 2026

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 14:27 WIB

Pantau Langsung di Bekasi, BULOG Pastikan Bantuan Pangan Presiden Tepat Sasaran dan Diserbu Warga

Rabu, 15 April 2026 - 11:08 WIB

Ratusan Ternak Impor Masuk, Barantin Pastikan Bebas Penyakit Berbahaya

Selasa, 14 April 2026 - 18:59 WIB

Pantau Pasar Jakarta, BULOG Pastikan Minyakita Cukup dan Harga Terkendali

Selasa, 14 April 2026 - 09:45 WIB

Cegah Pangan Berbahaya, BPOM Rilis Aturan Baru Cemaran Mikroba

Jumat, 10 April 2026 - 08:09 WIB

Stok Beras Aman di Tengah Ancaman El Nino, BULOG Pastikan Ketahanan Pangan Terjaga

Berita Terbaru

Inara Rusli/Instagram Inara Rusli

Hiburan

Pemeriksaan Inara Rusli Akan Dijadwal Ulang

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:33 WIB

Hiburan

Dinar Candy Tolak Tawaran Rp1 Miliar untuk Kencan

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:24 WIB