RENTAK.ID – Kementerian Perhubungan mencatat lonjakan signifikan dalam penggunaan angkutan umum, dengan total mencapai 769.593 orang.
Moda kereta api menjadi primadona dengan jumlah penumpang terbanyak, mencapai 28,28% dari total. Namun, di balik angka-angka tersebut, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diatasi.
Data tersebut terpantau dari Posko Pusat Angkutan Lebaran Terpadu 2024 di Kantor Kemenhub, Jakarta, Jumat (12/4/2024).
“Pada H2 Lebaran, pengguna angkutan umum terbanyak ada pada moda kereta api, yakni sebanyak 217.614 orang atau 28,28% dari total penumpang angkutan umum,” ujar Juru Bicara Kementerian Perhubungan Adita Irawati, dalam keterangannya, Sabtu (13/4/2024).
Menariknya, angkutan umum menjadi pilihan utama banyak orang dalam merayakan Lebaran. Dengan total mencapai 769.593 penumpang, moda kereta api menjadi favorit dengan 217.614 penumpang, menyumbang lebih dari seperempat dari total penumpang angkutan umum. Namun, bukan hanya kereta api yang mendapat sorotan, angkutan jalan (bus), penyeberangan, udara, dan laut juga mengalami lonjakan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun sebelumnya dan pergerakan normal harian pada tahun 2024.
Arus Angkutan Pribadi
Sementara itu, angkutan pribadi juga tetap menjadi pilihan bagi sebagian besar masyarakat. Jumlah mobil yang keluar dan masuk Jabodetabek mencapai 552.796 kendaraan dan 2.763.980 orang, sementara sepeda motor juga mencatatkan lonjakan pergerakan yang cukup signifikan. Meskipun angka ini menunjukkan preferensi masyarakat terhadap kenyamanan dan fleksibilitas yang ditawarkan oleh kendaraan pribadi, namun demikian, penting untuk tetap memperhatikan aspek keselamatan dalam perjalanan jarak jauh.
Keselamatan dan Kesiapan Operasional
Dalam laporan tersebut, Kementerian Perhubungan juga menyoroti pentingnya keselamatan dan kesiapan operasional selama periode Lebaran. Adanya insiden kecelakaan di perlintasan tanpa palang pintu di daerah Brebes, Jawa Tengah, menjadi sorotan serius, yang memicu permintaan untuk dilakukan investigasi mendalam oleh pihak berwenang. Selain itu, sebaran debu abu vulkanik dari beberapa gunung di Indonesia juga menjadi perhatian serius, menuntut langkah-langkah preventif dari operator bandara dan maskapai penerbangan.
Antisipasi untuk Arus Balik
Dengan mendekati akhir periode Lebaran, fokus pun bergeser pada antisipasi terhadap arus balik. Kementerian Perhubungan menekankan pentingnya pengaturan dan pengendalian arus lalu lintas untuk menghindari kemacetan yang parah. Pemantauan terus dilakukan terhadap pergerakan massa di berbagai titik pintu masuk dan keluar, sambil memastikan bahwa operator transportasi dan stakeholder terkait siap menghadapi lonjakan penumpang yang diharapkan.
Lebaran bukan hanya tentang perayaan dan berkumpul bersama keluarga, tetapi juga tentang mobilitas dan keselamatan dalam perjalanan. Melalui pemantauan yang cermat dan tindakan preventif yang tepat, diharapkan semua orang dapat merayakan Lebaran dengan aman dan nyaman, sambil memperkuat hubungan antarmanusia yang erat dalam semangat kebersamaan dan solidaritas. ***













