RENTAK.ID – Pasca letusan Gunung Marapi di Sumatera Barat, bencana alam berupa banjir bandang lahar dingin terjadi dan menimbulkan dampak parah di beberapa wilayah disana.
Berdasarkan laporan dari BNPB, sebanyak 37 orang meninggal dunia akibat bencana ini dan 17 orang masih hilang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Ph.D. mengatakan bahwa banjir bandang lahar dingin ini dipicu oleh hujan deras di hulu Gunung Marapi yang memicu aliran lahar menyapu ke bawah.
“Kejadian ini terjadi pada 11 Mei 2024 malam dan melanda empat kabupaten di Sumatra Barat,” kata Abdul Muhari, dilutip Senin, 13 Mei.2024.
Belum lama ini, Gunung Marapi juga mengalami letusan yang sama pada akhir April 2024, dengan status Level II atau Waspada.
Perubahan curah hujan di wilayah Hulu Gunung Marapi justru mulai terjadi pada tanggal 12 Mei 2024. Saat ini, kondisi meningkat dan merujuk pada risiko bahaya susulan.
Oleh karena itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) meminta agar masyarakat yang berada di sekitar bantaran sungai yang berhulu ke Gunung Marapi waspada dan mengikuti petunjuk dari pihak berwenang dalam melakukan evakuasi mandiri ke tempat yang lebih aman.
“Untuk saat ini, upaya pencarian dan pertolongan masih terus dilakukan untuk menemukan 17 orang yang masih hilang,” ujarnya.
Banjir bandang akibat letusan Gunung Marapi harus menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu bersiap menghadapi ancaman bencana alam dan menghindari lokasi yang berpotensi berbahaya.
Semoga korban yang masih hilang dapat ditemukan dan kondisi di Sumatra Barat segera membaik.













