Masjid Raya Baiturrahman: Simbol Kekuatan Spiritual dan Sejarah Panjang Aceh

- Penulis

Rabu, 13 Maret 2024 - 10:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Ribuan umat Islam memadati Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh hingga ke taman untuk melaksanakan ibadah salat tarawih perdana bulan suci Ramadan 1445 Hijriah

Pemantauan di lapangan dari postingan instagram WisataAceh, setelah Malat Magrib, jemaah sudah terlihat mulai berdatangan, sehingga bagian dalam masjid penuh sebelum adzan isya berkumandang. 

Jemaah pun harus salat di pekarangan dan taman masjid, serta di bawah payung besar ala Masjid Nabawi tersebut. Kebanyakan jamaah juga terlihat membawa sajadah masing-masing, sehingga mereka tetap bisa melaksanakan salat berjamaah di atas rumput.

Masjid Raya Baiturrahman bukan hanya sekadar bangunan yang berfungsi sebagai tempat ibadah. Masjid itu juga merupakan simbol agama, budaya, dan perjuangan rakyat Aceh.

Sebagai bagian dari sejarah Aceh yang kaya, Masjid Raya Baiturrahman memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh bangunan lain di daerah itu. Didirikan pada awal abad ke-17, masjid itu menjadi pusat kegiatan agama, politik, dan sosial. Selain itu, masjid ini juga menjadi simbol perjuangan para pahlawan Aceh melawan penjajah.

Masjid Raya Baiturrahman memiliki arsitektur yang unik dan indah. Dalam bahasa Aceh, baiturrahman berarti ‘rumah Allah yang maha pengasih’. Bangunan ini dibangun dengan gaya arsitektur Melayu, India, dan Eropa. Bagian atap masjid memiliki 7 kubah dan mosaik yang menghiasi dinding dalamnya.

Meskipun mengalami kerusakan pada zaman kolonial Belanda dan masa konflik internal Aceh, Masjid Raya Baiturrahman selalu berhasil dipulihkan kembali dengan cara yang memperhatikan keaslian dan keindahan arsitekturnya. Masjid itu tetap menjadi tempat ibadah yang penting bagi umat muslim di Aceh dan juga menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan Aceh.

Masjid Raya Baiturrahman dibangun pada 1022H/1612M di bawah kepemimpinan Sultan Iskandar Muda dari Kesultanan Aceh Darussalam. Sejak awal, Masjid Raya Baiturrahman tidak hanya diperuntukkan untuk kegiatan ibadah saja.

Mengutip dari tirto.id, masjid ini menjadi pusat pendidikan ilmu agama Islam pada masa Kesultanan Aceh.

Menurut Hasymy (dalam Abubakar 2020: 3), perguruan tinggi Masjid Raya Baiturrahman atau juga yang dikenal dengan nama Al-Jamiah Baitturahman memiliki 15 Fakultas. Para pengajarnya tidak hanya berasal dari kalangan ulama/sarjana dari Aceh saja, tetapi didatangkan juga dari Turki, Arab, Persia, India, dan beberapa negara lain.

Saat masa perang Aceh melawan Belanda, Masjid Raya Baiturrahman ini menjadi benteng pertahanan rakyat Aceh. Dalam agresi Belanda pertama, Aceh meraih kemenangan melawan Belanda. Bahkan dalam penyerangan tersebut, panglima perang Belanda, Mayor Jenderal H. R. Kohler tewas tertembak di halaman Masjid Raya Baiturrahman (Abubakar, 2020). Agresi pertama Belanda yang gagal tersebut berdampak kepada dilancarkannya agresi kedua yang dipimpin oleh Jenderal J. van Swiesten. Dalam penyerangan tersebut, Belanda membakar habis Masjid Raya Baiturrahman. Aksi tersebut membuat amarah rakyat Aceh kian besar dan semakin sengit melawan Belanda.

Untuk menarik kembali simpati rakyat Aceh, Belanda membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman dengan satu kubah. Resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pada Kamis 13 Syawal 1296 H/09 Oktober 1879 M, batu pertama diletakkan oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Proses pembangunan masjid ini selesai pada tahun 1299 H/1881 M dengan satu kubah yang mengadopsi gaya Moghul (India) dengan arsitek asal Belanda, Gerrit Bruins, dibantu seorang Letnan Tiongkok, Lie A Sie, sebagai kontraktor. Pada tahun 1935, Masjid Raya Baiturrahman kembali diperluas oleh Belanda dengan menambah dua kubah pada sisi kanan dan kiri. Hal ini dilakukan untuk kembali menarik simpati rakyat Aceh karena saat itu masih berlangsung perang antara Aceh dan Belanda.

Masjid Raya Baiturrahman kian diperluas dari tahun ke tahun. Di bawah pemerintahan Gubernur Ali Hasjmy (1957-1964), bangunan kembali diperluas menjadi lima kubah ditambah satu Menara di halaman depan. Pada masa pemerintahan Prof. Dr. Ibrahim Hasan (1986-1993), dalam rentang tahun (1991-1993), Masjid Raya Baiturrahman kembali diperluas yaitu bagian dalam masjid meliputi bagian lantai tempat salat, perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula, dan tempat wudhu. Untuk bagian luar masjid juga diperluas yaitu taman dan 4 menara serta 1 menara utama dan 2 minaret. Dengan perluasan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman memiliki 7 Kubah, 4 menara, dan satu  menara induk dengan luas ruangan dalam masjid seluas 4.760 meter persegi dengan lantai dari marmer.

Di tengah dahsyatnya ombak tsunami Aceh 2004, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh di saat bangunan di sekitarnya hancur luluh lantak disapu ombak tsunami. Masjid ini juga menjadi tempat berlindung warga Aceh saat menyelamatkan diri dari gulungan ombak tsunami. Kini, Masjid Raya Baiturrahman dapat menampung hingga 24.000 jamaah. Perkarangan masjid yang dulunya dipenuhi rerumputan hijau diubah menjadi lantai marmer dan dilengkapi dengan 12 payung elektrik untuk melindungi jamaah dari panas sinar matahari. Perluasan ini selesai pada bulan Mei 2017 pada masa pemerintahan Zaini Abdullah (2012-2017).

Hingga kini, Masjid Raya Baiturrahman menjadi sentral kegiatan umat islam di Aceh. Tak hanya berfungsi sebagai tempat salat, masjid ini memiliki berbagai fungsi lain yakni sebagai tempat pengajian, perhelatan acara besar keagamaan seperti maulid Nabi Muhammad SAW, peringatan 1 Muharram, dan menjadi salah satu destinasi wisata religi dan budaya di Aceh yang sering dikunjungi oleh pelancong.(***)

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho
Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian
300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional
Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao
Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata
Galaxy A36 5G Antar Team Vagos Juara SGGA 2025
Debut Global yang Membanggakan! Tim Labmino Bawa Inovasi RunSight Tembus 20 Besar Dunia Samsung Solve for Tomorrow 2025
 Monitor Satu Layar untuk Gaming dan Produktivitas

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 05:00 WIB

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho

Jumat, 27 Februari 2026 - 21:43 WIB

Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:02 WIB

300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional

Selasa, 17 Februari 2026 - 12:06 WIB

Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:00 WIB

Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata

Berita Terbaru