RENTAK.ID – Para arkeolog barat meragukan bahwa situs Gunung Padang di Cianjur, Jawa Barat, merupakan piramida tertua di dunia dan yang diklaim berusia lebih dari 25.000 tahun.
Klaim tersebut berdasarkan penelitian Danny Hilman Natawidjaja yang menyatakan dalam jurnal ilmiah Archaeological Prospection bahwa situs Gunung Padang kemungkinan berusia 10.000 tahun lebih tua dari Piramida Giza di Mesir dan Stonehenge yang terkenal di Inggris.
Namun, para arkeolog barat menyatakan bahwa bukti yang disajikan oleh tim peneliti tidak membenarkan kesimpulan mengenai usia Gunung Padang. Mereka berpendapat bahwa permukiman di sana mungkin baru dibangun sekitar 6.000 hingga 7.000 tahun yang lalu.
Flint Dibble, seorang arkeolog dari Cardiff University menegaskan bahwa data yang disajikan dalam makalah ini tidak mendukung kesimpulan akhir, bahwa permukiman tersebut sangat tua. “Namun itulah yang mendorong berita utama. Saya sangat kaget makalah ini dipublikasikan seperti ini,” kata Dibble.
Protes ini membuat editor Archaeological Prospection, yang diterbitkan oleh Wiley, melakukan penyelidikan terhadap konten ilmiah makalah tersebut.
Danny Hillman dan timnya menyimpulkan bahwa sampel tanah yang diekstrak dari bahan yang diambil dari dalam bukit di bawah situs tersebut diindikasikan berusia 16.000 hingga 27.000 tahun, dengan penambahan lebih lanjut diperkirakan berusia sekitar 8.000 tahun. Tim tersebut menyimpulkan bahwa Gunung Padang menunjukkan bukti jelas bahwa pembangunannya dapat ditelusuri kembali hingga 25.000 tahun atau lebih, pada saat planet ini masih berada dalam zaman es terakhir.
Namun, klaim ini ditolak mentah-mentah oleh Dibble dan yang lainnya. Mereka menunjukkan bahwa Natawidjaja dan timnya tidak memberikan bukti bahwa bahan yang terkubur itu dibuat oleh manusia.
Mereka berpendapat bahwa sampel tanah itu mungkin lebih dari 20.000 tahun yang lalu, tetapi mungkin berasal dari alam karena tidak ada bukti keberadaan manusia, seperti fragmen tulang atau artefak, di tanah tersebut.
Peneliti lain seperti Bill Farley, seorang arkeolog dari Southern Connecticut State University di New Haven, juga meragukan kesimpulan yang dibuat oleh Danny Hilman.
“Kesimpulan ini benar-benar lemah dan saya pikir sangat masuk akal jika makalah ini sedang diselidiki. Ini tidak layak dipublikasikan dan tidak akan membuat saya terkejut jika akhirnya ditarik kembali,” kata Farley.
Kontroversi semakin berkembang setelah ditemukan bahwa makalah ini disunting oleh penulis kontroversial asal Inggris, Graham Hancock. Ia berpendapat bahwa terdapat budaya kuno yang canggih, seperti sains, teknologi, pertanian, dan arsitektur monumen, setelah zaman es, lalu peradaban itu hancur dalam insiden kosmik. Gunung Padang bisa menjadi contoh peradaban itu, seperti yang ia sampaikan dalam serial Netflix-nya, Ancient Apocalypse.
Namun, Natawidjaja menyatakan kepada Observer pekan lalu bahwa ia menganggap ide-ide Hancock sebagai hipotesis kerja yang masuk akal. Gunung Padang terletak di antara kebun pisang dan teh, hampir 3.000 kaki di atas permukaan laut dan 75 sekitar 110 kilometer sebelah selatan Jakarta. Situs ini terdiri dari serangkaian teras batu yang berada di puncak gunung berapi yang sudah punah. Serpihan tembikar menunjukkan bahwa situs ini berusia beberapa ribu tahun.***













