SAMARINDA – Keamanan anak di asrama, dugaan perundungan, hingga akses layanan kesehatan menjadi sejumlah persoalan yang disampaikan orang tua siswa kepada anggota Komisi VIII DPR RI, Hetifah Sjaifudian, saat mengunjungi Sekolah Rakyat Terintegrasi 2 Samarinda, Kalimantan Timur.
Aspirasi tersebut menjadi catatan penting untuk mengevaluasi penyelenggaraan Sekolah Rakyat agar tidak sekadar menyediakan akses pendidikan bagi anak dari keluarga kurang mampu, tetapi juga menjamin perlindungan, kesehatan, dan masa depan mereka.
Dalam dialog langsung maupun melalui masukan tertulis, para orang tua menyampaikan berbagai persoalan, mulai dari pola pendisiplinan di asrama, pemenuhan gizi, fasilitas kesehatan, hingga peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Hetifah mengapresiasi keterbukaan orang tua yang berani menyampaikan pengalaman dan kekhawatiran mereka. Menurutnya, masukan tersebut harus menjadi dasar perbaikan pelayanan.
“Saya sangat menghargai kepercayaan para orang tua yang telah menitipkan anak-anaknya di Sekolah Rakyat. Setiap masukan perlu kita dengarkan agar pelayanan semakin baik dan benar-benar menjawab kebutuhan anak-anak,” ujar Hetifah, Kamis (15/10/2026).
Dugaan Perundungan dan Kekerasan Jadi Sorotan
Salah satu perhatian utama dalam kunjungan tersebut adalah laporan dugaan perundungan dan kekerasan antarsiswa. Orang tua juga mengkhawatirkan penerapan disiplin di lingkungan asrama dan berharap pengawasan terhadap siswa diperketat.
Hetifah menegaskan, setiap laporan dugaan kekerasan harus ditelusuri secara objektif dengan mengutamakan keselamatan anak dan perlindungan terhadap korban.
“Anak-anak yang bersekolah di sini datang dari latar belakang kehidupan yang beragam. Sebagian mungkin memiliki pengalaman keluarga yang sulit atau traumatis. Karena itu, mereka membutuhkan pengasuhan yang penuh kesabaran, kasih sayang, dan pemahaman,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa kedisiplinan tidak boleh diterapkan melalui kekerasan fisik maupun verbal. Sekolah Rakyat, menurutnya, harus menjadi lingkungan yang membuat anak merasa aman, dihargai, dan nyaman untuk belajar.
Anak dengan Kelainan Jantung Butuh Perhatian
Selain perlindungan anak, orang tua mengusulkan penguatan layanan kesehatan, termasuk ketersediaan tenaga medis atau klinik untuk menangani kebutuhan kesehatan siswa.
Salah satu persoalan yang disampaikan berkaitan dengan anak yang memiliki kelainan jantung bawaan dan masih membutuhkan tindakan medis lanjutan, sementara keluarganya menghadapi keterbatasan biaya.
“Jangan sampai ada anak yang kesulitan mengikuti pendidikan karena kebutuhan kesehatannya belum tertangani. Saya berharap sekolah bersama Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, dan fasilitas kesehatan dapat membantu mencari solusi sesuai kebutuhan medis anak,” ujar Hetifah.
Orang tua juga meminta perbaikan kualitas makanan, pemenuhan kebutuhan gizi khusus, kecukupan waktu istirahat, serta pembenahan fasilitas dasar asrama.
Siswa Ingin Kuliah, Beasiswa Perlu Disosialisasikan
Di tengah berbagai persoalan tersebut, muncul pula harapan agar lulusan Sekolah Rakyat memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
Hetifah menilai keinginan siswa untuk kuliah menunjukkan besarnya cita-cita mereka dalam mengubah masa depan melalui pendidikan.
“Saya senang mendengar anak-anak sudah memikirkan bagaimana mereka bisa kuliah. Kita perlu memastikan mereka mendapatkan informasi, bimbingan, dan pendampingan untuk mengakses berbagai kesempatan pendidikan tinggi,” katanya.
Ia mendorong sosialisasi program bantuan pendidikan, termasuk Beasiswa Gratispol dari Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dan KIP Kuliah bagi siswa yang memenuhi persyaratan.
Selain akses kuliah, orang tua mengusulkan penguatan pendidikan agama, penambahan kegiatan ekstrakurikuler, pembelajaran bahasa asing, serta penataan tata tertib asrama.
Persoalan keluarga juga menjadi bagian dari aspirasi. Sejumlah orang tua mengungkapkan kesulitan ekonomi, termasuk belum memiliki rumah sendiri dan berharap memperoleh akses bantuan perumahan.
Menurut Hetifah, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan Sekolah Rakyat tidak bisa dilepaskan dari upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga.
“Pendidikan anak, kesehatan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan ekonomi keluarga harus saling mendukung agar perubahan yang dihasilkan benar-benar berkelanjutan,” ujarnya.
DPR Minta Aspirasi Ditindaklanjuti
Sebagai anggota Komisi VIII DPR RI yang bermitra dengan Kementerian Sosial, Hetifah menegaskan bahwa aspirasi siswa dan orang tua perlu ditindaklanjuti melalui evaluasi serta pengawasan terhadap penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Ia meminta persoalan yang mendesak, terutama terkait keselamatan, kesehatan, dan kesejahteraan psikologis anak, mendapat perhatian serius dari pengelola sekolah dan instansi terkait.
“Keberhasilan Sekolah Rakyat bukan hanya berapa banyak anak yang berhasil kita sekolahkan, tetapi juga seberapa aman mereka tinggal, seberapa baik mereka diasuh, seberapa sehat mereka tumbuh, dan seberapa besar peluang mereka meraih masa depan yang lebih baik,” tegasnya.
Hetifah juga mengapresiasi kepala sekolah, guru, wali asuh, tenaga kependidikan, dan jajaran Dinas Sosial yang mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat di Samarinda.
Ia berharap keterbukaan terhadap kritik dan masukan menjadi bagian dari upaya memperkuat kualitas program tersebut, sehingga anak-anak dari keluarga kurang mampu tidak hanya memperoleh pendidikan, tetapi juga lingkungan yang aman, dukungan yang memadai, dan kesempatan untuk meraih cita-cita.
Penulis : lazir
Editor : ameri






