JAKARTA – Ketegangan di Timur Tengah kian meningkat seiring pengerahan ribuan pasukan elite Amerika Serikat ke kawasan, di tengah wacana opsi militer lanjutan terhadap Iran.
Mengutip laporan Reuters, Selasa (31/3/2026), ribuan tentara dari Divisi Lintas Udara ke-82 Angkatan Darat AS mulai tiba dan bergabung dengan Marinir serta pasukan lain yang telah lebih dulu ditempatkan.
Langkah ini dinilai memperluas opsi militer Washington, termasuk kemungkinan operasi darat, meski belum ada keputusan resmi.
“Pengerahan ini akan meningkatkan kapasitas bagi kemungkinan operasi di masa depan di kawasan,” ujar pejabat AS yang dikutip Reuters.
Sejumlah skenario tengah dibahas, mulai dari pengamanan jalur energi di Selat Hormuz hingga kemungkinan merebut Pulau Kharg yang menjadi pusat ekspor utama minyak Iran. Namun, opsi tersebut dinilai berisiko tinggi karena potensi serangan balasan Iran.
Di tengah eskalasi, Presiden AS Donald Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan damai bisa segera tercapai. Mengutip Euronews, Trump mengklaim telah menerima respons positif dari Teheran terhadap proposal gencatan senjata.
“Kami berurusan dengan orang-orang yang berbeda dari sebelumnya,” kata Trump.
Namun, Iran merespons keras. Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf, seperti dilaporkan kantor berita resmi Islamic Republic News Agency (IRNA), menuding AS hanya menggunakan diplomasi sebagai kedok untuk rencana invasi militer.
“Musuh secara terbuka mengirimkan pesan negosiasi, sementara secara rahasia merencanakan serangan darat,” tegasnya.
Situasi di lapangan juga memanas. Serangan udara menghantam fasilitas listrik di Teheran dan sekitarnya, memicu pemadaman massal. Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke Kuwait dan Arab Saudi, memperluas potensi konflik regional.
Mengutip Tasnim News Agency, Iran bahkan mengklaim telah menyiapkan hingga satu juta pejuang untuk menghadapi kemungkinan invasi darat AS dan menyebut langkah tersebut sebagai “kesalahan bersejarah”.
Hingga kini, konflik masih berada di persimpangan antara jalur diplomasi dan eskalasi militer, dengan risiko meluasnya perang di kawasan yang semakin besar.
Penulis : lazir
Editor : ameri
Sumber Berita: Dari berbagai sumber






