Mengapa Rasulullah ﷺ Diperingati Maulidnya, Sementara Ulama Diperingati Haulnya!

- Penulis

Sabtu, 31 Januari 2026 - 14:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Acara Maulid Nabi Muhammad (foto. atz)

Acara Maulid Nabi Muhammad (foto. atz)

DI TENGAH  masyarakat Muslim, kita mengenal dua tradisi yang sama-sama hidup dan diterima luas: Maulid Nabi Muhammad ﷺ dan Haul para ulama. Namun, sering muncul pertanyaan kritis:
Mengapa Rasulullah ﷺ diperingati kelahirannya, sementara ulama justru diperingati wafatnya?

Jawaban atas pertanyaan ini bukan sekadar soal tradisi, tetapi menyentuh cara Islam memandang kemuliaan, kesempurnaan manusia, dan makna akhir kehidupan.
Rasulullah ﷺ: Mulia Sejak Awal hingga Akhir
Dalam Islam, Nabi Muhammad ﷺ menempati kedudukan yang tidak bisa disamakan dengan manusia mana pun.

Beliau adalah Nabi dan Rasul, yang dijaga oleh Allah dalam akhlak, risalah, dan keteladanan hidupnya.
Al-Qur’an menegaskan:
وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sungguh, engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas akhlak yang agung.”
(QS. Al-Qalam: 4)
Ayat ini tidak membatasi waktu tertentu. Artinya, kemuliaan Rasulullah ﷺ:
Bukan hanya setelah diangkat menjadi Nabi
Bukan hanya di akhir hidup
Tetapi sejak awal hingga akhir kehidupan beliau

Bahkan dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:
كُنْتُ نَبِيًّا وَآدَمُ بَيْنَ الْمَاءِ وَالطِّينِ
“Aku telah menjadi Nabi, sementara Adam masih antara air dan tanah.”
(HR. Ahmad)
Hadis ini dipahami oleh para ulama sebagai penegasan bahwa kedudukan dan kemuliaan Rasulullah ﷺ telah ditetapkan oleh Allah sejak awal penciptaan.
Karena itulah, kelahiran Rasulullah ﷺ bukan sekadar peristiwa biologis, melainkan momen hadirnya rahmat Allah ke dunia.

Al-Qur’an menegaskan:
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
“Dan Kami tidak mengutus engkau, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.”
(QS. Al-Anbiya’: 107)
Maka, Maulid Nabi ﷺ dipahami sebagai:
Ungkapan syukur atas hadirnya rahmat
Momentum mengingat keteladanan Nabi
Sarana pendidikan sejarah dan akhlak umat.

Ulama: Dimuliakan Setelah Husnul Khatimah
Berbeda dengan Rasulullah ﷺ, ulama dan manusia saleh adalah manusia biasa. Mereka bisa salah, bisa tergelincir, dan tidak dijamin keselamatan hidupnya sampai akhir, kecuali dengan rahmat Allah.
Dalam Islam, ukuran kebaikan seseorang tidak ditentukan di awal atau di tengah hidupnya, melainkan di akhir kehidupannya.

Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِخَوَاتمِهَا
“Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada akhirnya.”
(HR. Bukhari)
Inilah konsep husnul khatimah—akhir hidup yang baik. Seseorang baru benar-benar disebut baik apabila:
Wafat dalam iman
Wafat dalam ketaatan
Wafat dalam keadaan membawa kebaikan
Karena itulah, ulama diperingati haulnya (wafatnya), bukan kelahirannya.

Haul menjadi penanda bahwa:
Ilmu dan amalnya telah dijalani hingga akhir
Kehidupannya ditutup dengan kebaikan
Keteladanannya layak dikenang dan diwariskan
Bukan Perbandingan, Tapi Penegasan Kedudukan
Perbedaan antara Maulid dan Haul bukan bentuk pengistimewaan berlebihan, melainkan penegasan perbedaan maqam.

Rasulullah ﷺ:
Mulia sejak awal
Terjaga (ma‘shum)
Menjadi rahmat sejak kelahiran
Ulama:
Mulia karena perjuangan
Dinilai di akhir hayat
Dikenang karena husnul khatimah.

Dengan kata lain:
Rasulullah ﷺ dimuliakan karena kesempurnaan,
Ulama dimuliakan karena keteguhan hingga akhir.
Tradisi yang Bersifat Edukatif, Bukan Ibadah Wajib
Baik Maulid maupun Haul bukan ibadah mahdhah, melainkan:
Sarana mengingat keteladanan
Media pendidikan umat
Wasilah untuk menumbuhkan cinta pada Nabi dan ulama
Selama tidak diyakini sebagai kewajiban agama dan tidak diisi kemungkaran, tradisi ini berada dalam wilayah amalan sosial-keagamaan yang dibolehkan.

Penutup
Maulid dan Haul mengajarkan dua pelajaran besar:
Dari Maulid Nabi ﷺ, kita belajar tentang kesempurnaan teladan
Dari Haul ulama, kita belajar tentang pentingnya mengakhiri hidup dengan baik
Pada akhirnya, umat Islam tidak hanya diajak untuk lahir dengan baik, tetapi berjuang hingga akhir agar wafat dalam keadaan terbaik di sisi Allah.

Sumber Rujukan
Al-Qur’an:
QS. Al-Qalam: 4
QS. Al-Anbiya’: 107
Hadis:
HR. Ahmad: Kuntu nabiyyan wa Adam baynal ma’i wat-thin
HR. Bukhari: Innamal a‘malu bil khawatim
Al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin (bab husnul khatimah)
Ibn Hajar al-Asqalani, penjelasan keutamaan Nabi ﷺ.
(Atz)

Penulis : atz

Editor : ameri

Berita Terkait

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi
Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret
Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan
Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”
Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial
Dai 3T Bergerak: Penguatan Iman dan Nasionalisme dari Pinggiran Indonesia
Dari Hisab ke Rukyat, Gen Z Dalami Ilmu Penentuan Awal Ramadan
Kemenag Salurkan Rp596 Juta, Pulihkan Madrasah dan Guru Korban Banjir–Longsor Bandung Barat

Berita Terkait

Rabu, 15 April 2026 - 04:39 WIB

Al-Qur’an Sudah Menjelaskan 1400 Tahun Lalu, Sains Baru Memahami Rahasia Ashabul Kahfi

Kamis, 19 Maret 2026 - 20:39 WIB

Pemerintah Resmi Tetapkan Lebaran 2026 Jatuh pada, Sabtu 21 Maret

Sabtu, 28 Februari 2026 - 21:34 WIB

Minta Maaf, Menag Tegaskan Zakat Tetap Rukun Islam yang Wajib Ditunaikan

Kamis, 26 Februari 2026 - 19:12 WIB

Penegasan Nasaruddin Umar soal Filantropi Islam, Kementerian Agama Luruskan Isu “Tinggalkan Zakat”

Rabu, 18 Februari 2026 - 13:14 WIB

Ramadan 1447 H Jadi Momentum Persatuan, Menag Ajak Umat Perkuat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru

Inara Rusli/Instagram Inara Rusli

Hiburan

Pemeriksaan Inara Rusli Akan Dijadwal Ulang

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:33 WIB

Hiburan

Dinar Candy Tolak Tawaran Rp1 Miliar untuk Kencan

Rabu, 15 Apr 2026 - 19:24 WIB