Episode Delapan
PAGI itu, warga Kampung Cibubur mendadak heboh seperti ibu-ibu yang denger harga minyak goreng naik 3.000 perak.
Taman kampung, kebanggaan warga, yang biasanya jadi tempat senam jempol dan nonton sinetron bareng di layar proyektor RT… berubah jadi ladang galian mirip lokasi syuting film tambang ilegal.
“Lah, ini taman atau lubang persembunyian ninja?” tanya Pak RT sambil ngelap kacamata dua kali karena gak percaya.
“Tadi malam gak ada apa-apa… sekarang tiba-tiba banyak gundukan kayak kuburan alien!” teriak Bu Marni dengan nada dramatis seperti pemain sinetron jam 9 malam.
Mpok Hindun yang baru selesai nyetrika daster langsung ganti mode: “Daster Detektif Level 2: Investigasi Geologis”
Dengan bekal kacamata silinder bingkai keemasan (hasil beli online, katanya anti bohong) tentenu degan sejumlah catatan mini di saku dasternya
Alat tes tanah (alias sendok teh bekas makan puding) Mpok Hindun muter-muter taman, mencium tanah, dan bilang:
“Ini bukan kerjaan tikus tanah. Ini kerjaan manusia… dengan masalah emosional!”
Ternayata pelaku ditemukan seorang gelandanan Sajana yang patah hati. Setelah nyamar jadi petugas PLN gadungan dan ngobrol di warkop selama 4 jam, Mpok Hindun menemukan pelakunya: Didi Wahyudi, gelandangan misterius, usia 30-an, rambut gondrong, bawa ransel dan catatan tanah manual.
Didi bukan orang sembarangan. Dia sarjana teknik geologi lulusan kampus negeri.
Tapi sekarang hidupnya hancur… setelah ditinggal kawin pacarnya oleh bule pemain Liga 1 yang kini jadi cadangan abadi di bangku Persik Kuningan.
“Dia tuh janji nikah sama saya… eh malah lari sama cowok asing yang gajinya tiga digit dan bonus sepatu!” curhat Didi sambil menggali pakai sendok nasi.
Motif Tambang Nikel? Saat Didi tidur di pelataran kantor kelurahan, dia nonton siaran berita:
“Anggota DPR RI mendesak agar pertambangan nikel di Raja Ampat dihentikan! Ini membahayakan ekosistem laut!”
Mendengar kata “nikel”, Didi yang setengah sadar langsung berdiri dan teriak:
“Kalau di Papua ada nikel… mungkin di Cibubur juga ada!!”
Malam itu, dengan semangat nasionalisme bercampur trauma cinta, Didi menggali seluruh taman Cibubur demi cari bijih nikel.
Aksi Ditangani, Tapi Hati Tetap Haru. Pak RT awalnya mau lapor satpol PP. Tapi setelah Mpok Hindun cerita bahwa Didi dulunya mahasiswa teladan yang kini tersesat karena patah hati dan berita politik, warga malah nangis bareng di taman.
“Biarin taman rusak, yang penting anak bangsa jangan putus asa!” teriak Bu Rossa sambil bawa air mata dan tripod buat ngonten.
Didi akhirnya dibawa ke balai RW untuk dimandikan, disuapi bubur kacang ijo, dan ditawari ikut pelatihan UMKM: “Membuat Sabun dari Limbah Dapur.”
Penutup Mpok Hindun megatakan, “Cinta memang bisa menggali luka… Tapi jangan sampai menggali taman kampung, Bang. Kalau mau nambang, tambanglah kebahagiaanmu yang hilang, bukan tanah warga!”
Nyambung lagi ye ke epidose berikutnya…
Penulis : regardo sipiroko













