INDRAGIRI HILIR — Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian harga pangan global, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, justru tampil sebagai daerah yang paling progresif dalam membangun pertanian berkelanjutan. Dengan strategi jitu dan kebijakan berani di bawah kepemimpinan Bupati Herman, wilayah ini menjelma menjadi contoh nyata keberhasilan daerah dalam mendukung ketahanan pangan nasional.
“Produksi padi di Indragiri Hilir meningkat signifikan. Kami melihat hasil yang sangat positif berkat modernisasi pertanian dan dukungan infrastruktur,” ujar Umar Hamdi, Kepala Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) setempat, dikutip, Rabu (2/5/2025).
Pernyataan itu tak berlebihan. Dengan luas lahan panen mencapai 54.000 hektare, kabupaten ini kini menyumbang kontribusi besar terhadap keberhasilan Indonesia menghentikan impor beras konsumsi pada tahun 2025.
Langkah strategis ini selaras dengan data Bulog yang mencatat rekor penyerapan beras petani sebanyak 1,2 juta ton dalam periode Januari–Mei 2025 — tertinggi dalam lima tahun terakhir. Kontribusi Indragiri Hilir sangat menonjol dalam pencapaian tersebut. Bahkan, cadangan beras pemerintah per Mei 2025 tercatat menyentuh angka 3,7 juta ton, cukup untuk menjaga stabilitas harga beras yang kini turun ke kisaran Rp12.300–Rp13.500/kg, atau sekitar 8% lebih rendah dari tahun lalu.
Inflasi bahan pangan pun ikut terkendali. Di Riau, angka inflasi pangan menurun dari 4,2% pada kuartal pertama menjadi hanya 2,8% di kuartal kedua berkat distribusi beras pemerintah dan operasi pasar yang masif.
Namun keberhasilan Indragiri Hilir tak hanya soal angka. Inovasi menjadi kunci. Melalui Balai Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Riau, petani kini mendapatkan akses terhadap benih tahan kekeringan. Di Kecamatan Kempas, misalnya, kelompok tani menerima distribusi benih unggul dan pelatihan teknologi adaptif untuk menghadapi musim kemarau yang kian ekstrem.
“Program pemerintah yang mendukung petani dengan teknologi modern dan bantuan keuangan sangat penting untuk meningkatkan produksi dan kualitas pertanian,” ujar Rizky Mulyadi, Sekretaris Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Riau. Ia juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. “Dengan kerja sama yang solid, petani bisa lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” tambahnya.
Infrastruktur juga mendapat perhatian besar. Pemerintah menggelontorkan dana hingga Rp1,7 triliun untuk pembangunan irigasi di lahan pasang surut. Hasilnya? Produktivitas pertanian melonjak hingga 15%.
Secara regional, prestasi Indragiri Hilir ikut menopang posisi Indonesia sebagai produsen beras terbesar di ASEAN, dengan total produksi 34,6 juta ton pada 2024/2025. Angka ini melampaui Thailand (34,3 juta ton) dan Vietnam (27,1 juta ton), sekaligus menggeser peta perdagangan beras di Asia Tenggara. Ekspor beras Thailand bahkan turun 20% akibat perubahan dinamika ini.
Transformasi di Indragiri Hilir juga menyentuh aspek kelembagaan dan perlindungan lahan. Sebanyak 12.000 hektar ditetapkan sebagai lahan abadi yang dilarang dialihfungsikan. Ini diperkuat dengan revisi Perda Perlindungan Lahan Pertanian yang menutup celah konversi lahan produktif ke sektor non-pertanian.
Sebagai tambahan, pemerintah daerah meluncurkan Klinik Pertanian Keliling, lengkap dengan mobil berisi alat uji tanah, pestisida organik, hingga teknologi drone untuk memantau hama secara real-time. Fasilitas ini menjangkau berbagai kecamatan dan menjadi garda terdepan dalam deteksi dini ancaman pertanian.
Di sisi lain, pertanian ramah lingkungan juga tumbuh subur. Kecamatan Kempas kini tengah mengembangkan 5.000 hektar sawah organik dengan target produksi 4 ton per hektar. Langkah ini diambil tidak hanya untuk memenuhi pasar beras organik yang meningkat, tetapi juga sebagai bagian dari komitmen terhadap kelestarian lingkungan.
“Kami berharap agar semua pihak terus mendukung petani, agar ketersediaan beras tetap merata dan terjangkau,” kata Umar Hamdi.
Keberhasilan Indragiri Hilir bukan hanya pencapaian lokal, tetapi gambaran bagaimana visi besar bisa dijalankan dengan pendekatan inovatif, inklusif, dan konsisten. Di tengah krisis global pangan dan iklim, kabupaten ini menegaskan bahwa Indonesia mampu berdiri di kaki sendiri — bukan hanya sebagai negara swasembada, tetapi juga sebagai inspirasi bagi daerah lain untuk membangun pertanian masa depan yang kuat dan berkelanjutan.
Penulis : lazir
Editor : ameri













