JAKARTA- Perum BULOG Kantor Wilayah DKI Jakarta dan Banten mencatat capaian membanggakan dalam mendukung program swasembada pangan nasional. Sepanjang musim panen Februari hingga awal Mei 2025, BULOG berhasil menyerap lebih dari 45.000 ton setara beras dari petani lokal, atau sekitar 98 persen dari target 45.970 ton yang ditetapkan Kantor Pusat.
“Alhamdulillah, hingga awal Mei ini kami telah menyerap lebih dari 45.000 ton setara beras dari hasil panen petani. Ini adalah bentuk komitmen BULOG dalam mendukung Program Asta Cita Pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional,” ungkap Bambang Prihatmoko, Pemimpin Perum BULOG Kanwil DKI Jakarta dan Banten, saat memeriksa Gudang Perum BULOG Kanwil DKI Jakarta & Banten Jalan Pelepah Raya No.5, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Sabtu (10/5/2025).
Harga penyerapan gabah kering panen (GKP) dilakukan dengan nilai Rp6.500 per kilogram. Sementara untuk beras, BULOG membelinya dari petani seharga Rp12.000 per kilogram. Menurut Bambang, harga tersebut cukup menggembirakan bagi petani. “Kami harap para petani bisa tersenyum, karena harga yang kami bayarkan menguntungkan. Ini juga bisa meningkatkan kesejahteraan mereka,” tambahnya.
Penyerapan terbesar dilakukan di wilayah Provinsi Banten, terutama di daerah-daerah sentra produksi seperti Pandeglang, Lebak, Serang, hingga Tangerang. Namun, penyerapan juga dilakukan dari petani di wilayah Jakarta, khususnya di daerah Rorotan yang masih memiliki sekitar 10 hektare lahan panen.
Rizky Puspitasari, Wakil Pemimpin Kanwil BULOG Jakarta-Banten, menambahkan bahwa jenis beras yang diserap umumnya merupakan jenis medium dengan kadar air di bawah 14 persen dan broken (beras pecah) maksimal 20 persen. “Standar kualitas kami jelas. Setiap gabah yang masuk akan melalui proses sortasi dan pengecekan, sehingga hanya gabah layak yang diterima,” jelasnya.
Capaian penyerapan harian tertinggi tercatat mencapai 1.377 ton setara beras dalam satu hari. Meski gudang BULOG saat ini telah melebihi kapasitas simpan, kegiatan penyerapan tetap berjalan. “Di Cabang Serang dan Lebak, stok CPP bahkan dua kali lipat dari kapasitas gudang. Tapi ini bukan masalah karena kami bersinergi dengan pemerintah daerah, TNI, dan BUMN lain untuk menyewa gudang tambahan,” kata Bambang.
Ia menegaskan bahwa BULOG tetap akan melanjutkan penyerapan selama musim panen masih berlangsung dan selama ada laporan dari Kelompok Tani, PPL, Dinas Pertanian, dan Babinsa terkait lokasi panen. “Meskipun target sudah hampir tercapai dan gudang penuh, kami tetap menyerap hasil tani. Ini adalah komitmen BULOG,” ujarnya.
Untuk memastikan kualitas beras di gudang tetap terjaga, pengelola gudang rutin melakukan monitoring terhadap kondisi beras, termasuk potensi hama atau penurunan mutu. “Rata-rata daya simpan beras hingga satu tahun. Tapi kita harus waspada, makanya kualitas selalu kami pantau secara berkala,” jelas Rizky.
Saat ini, BULOG belum menerima penugasan distribusi, namun pihaknya siap sewaktu-waktu diminta menyalurkan beras Cadangan Pangan Pemerintah (CPP). “Biasanya pelepasan atau distribusi dilakukan pertengahan tahun, saat operasi pasar mulai gencar. Tapi untuk sekarang, kami fokus pengadaan terlebih dahulu,” kata Bambang.
Jika penugasan distribusi sudah diterima, beras CPP akan disalurkan ke berbagai jalur sesuai arahan—baik ke pasar melalui SPAP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), ke masyarakat penerima manfaat, maupun lembaga lain yang ditetapkan pemerintah.
Dengan capaian ini, BULOG Jakarta-Banten menunjukkan peran strategisnya dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. “Stok kami aman. Wilayah DKI Jakarta dan Banten dalam kondisi sangat aman dari sisi ketersediaan beras,” tutup Bambang. ***













