Truk Ancam Mogok, Sopir Keluhkan Minimnya Perhatian Pemerintah!

- Penulis

Senin, 17 Maret 2025 - 19:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi sopir truk demo mogok kerja. (ilust.chatgpt)

Ilustrasi sopir truk demo mogok kerja. (ilust.chatgpt)

JAKARTA – Menjelang arus mudik Lebaran 2025, Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (APTRINDO) mengancam akan menghentikan operasional truk secara nasional.

Penyebabnya, kebijakan pembatasan operasional angkutan barang selama 16 hari yang dinilai terlalu lama dan berdampak buruk bagi para sopir serta pelaku usaha logistik.

Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Wakil Ketua Pemberdayaan dan Pengembangan Wilayah Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, menegaskan perlunya kompromi agar mogok massal bisa dicegah.

“Jangankan mendapatkan tunjangan hari raya (THR), mencari nafkah saja sulit karena operasional truk dibatasi. Harus ada solusi agar sopir truk tetap bisa bekerja dan mendapatkan THR,” ujar Djoko, Senin (17/3/2025)

Aturan Pembatasan Dinilai Merugikan

Pemerintah telah menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB) yang mengatur lalu lintas jalan serta penyeberangan selama masa mudik dan arus balik Lebaran 2025. Dalam aturan tersebut, pembatasan angkutan barang berlaku sejak 24 Maret hingga 8 April 2025, lebih lama dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang hanya 10-12 hari.

APTRINDO menyatakan keberatan atas aturan tersebut dan meminta pemerintah mengurangi durasi pembatasan. Jika tidak ada perubahan, APTRINDO mengancam akan menghentikan seluruh operasional angkutan barang mulai 20 Maret 2025. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik kendaraan, tetapi juga oleh pengemudi, buruh bongkar muat, pabrik, pergudangan, dan sektor logistik secara keseluruhan.

Kurangnya Perhatian terhadap Sopir Truk

Selain masalah pembatasan operasional, kesejahteraan sopir truk juga menjadi sorotan. Persaingan tarif yang ketat membuat pendapatan mereka terus menurun. Rata-rata penghasilan sopir truk berkisar antara Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per bulan, masih di bawah upah minimum di berbagai daerah.

“Dulu, sopir truk masih bisa menggaji kenek dan hidup lebih layak. Sekarang, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit,” keluh seorang sopir.

Survei dari Pusat Kebijakan Keselamatan dan Keamanan Badan Kebijakan Transportasi Kementerian Perhubungan juga menemukan bahwa banyak sopir yang belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) yang sesuai dengan jenis kendaraan mereka. Minimnya pelatihan dan pendidikan bagi sopir truk semakin memperburuk kondisi mereka.

Solusi: Kompromi dan Perbaikan Transportasi

Djoko Setijowarno menegaskan bahwa harus ada solusi yang menguntungkan semua pihak. Salah satu jalan tengah yang diusulkan adalah mengurangi durasi pembatasan dengan syarat hanya truk yang sesuai standar, tidak over dimension dan over load (ODOL), yang boleh beroperasi.

Selain itu, ia menyoroti perlunya pembenahan sistem transportasi umum agar tidak terlalu bergantung pada angkutan barang di jalan raya. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki potensi besar dalam penggunaan jalur kereta api dan transportasi laut untuk logistik.

Pemerintah juga diharapkan segera menetapkan standar minimum upah bagi sopir truk. “Jangan sampai tuntutan kesejahteraan ini baru didengar setelah ada mogok massal,” tegasnya.

Dengan adanya perbaikan kebijakan dan peningkatan kesejahteraan, diharapkan sektor logistik tetap berjalan lancar tanpa harus mengorbankan para sopir yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi barang di Indonesia. ***

Berita Terkait

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho
Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian
300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional
Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao
Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata
Galaxy A36 5G Antar Team Vagos Juara SGGA 2025
Debut Global yang Membanggakan! Tim Labmino Bawa Inovasi RunSight Tembus 20 Besar Dunia Samsung Solve for Tomorrow 2025
 Monitor Satu Layar untuk Gaming dan Produktivitas

Berita Terkait

Sabtu, 28 Februari 2026 - 05:00 WIB

Perkuat Sinergi, YPJI Lakukan Kunjungan Silaturahmi ke Kediaman Designer Kondang Nina Nugroho

Jumat, 27 Februari 2026 - 21:43 WIB

Bedah Buku Ustadz Abdul Somad Dihadiri Tiga Menteri, Bahas Kesiapan Menghadapi Kematian

Selasa, 17 Februari 2026 - 21:02 WIB

300 Bikers Saksikan Pelantikan Baderhoods Medan, Siap Tancap Gas ke Tingkat Nasional

Selasa, 17 Februari 2026 - 12:06 WIB

Perayaan Imlek Tahun Kuda Api di Kelenteng Hok Lay Kiong Berlangsung Khidmat, Warga Beribadah hingga Antre Angpao

Rabu, 24 Desember 2025 - 10:00 WIB

Dari Ibu Sehat Lahir Generasi Emas: DWP Kemenpora Rayakan HUT Ke-26 & Hari Ibu dengan Aksi Nyata

Berita Terbaru