JAKARTA – Di tengah kabar menggembirakan tentang turunnya kasus campak secara signifikan di awal 2026, peringatan keras justru datang dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menilai pemerintah tidak boleh lengah hanya karena capaian statistik tersebut.
Ia menegaskan, penurunan hingga 95 persen yang dilaporkan pemerintah tetap menyisakan persoalan serius di lapangan, terutama masih adanya anak-anak yang meninggal dunia akibat komplikasi campak.
“Kita tidak boleh hanya terpaku pada angka 95 persen. Penurunan kasus itu memang hasil kerja keras, tetapi fakta bahwa masih ada anak yang meninggal menunjukkan ada sistem yang belum tuntas. Statistik bukan segalanya jika kita masih kehilangan nyawa anak-anak kita,” ujarnya, Minggu (29/3/2026).
Politisi PKS itu mengingatkan adanya celah kekebalan atau immunity gap yang berpotensi menjadi bom waktu jika tidak segera diatasi secara permanen. Menurutnya, keberhasilan menekan angka kasus hanyalah langkah awal, sementara angka kematian menjadi indikator masih lemahnya penanganan di tingkat akar rumput.
“Satu nyawa anak Indonesia itu terlalu mahal untuk dikompensasi dengan angka persentase penurunan. Jangan sampai kita merayakan penurunan kasus, sementara di saat yang sama ada orang tua yang sedang berduka karena anaknya terlambat mendapatkan proteksi,” tegasnya.
Netty juga mendesak Kementerian Kesehatan Republik Indonesia untuk tidak mengendurkan upaya pengendalian penyakit, meski tren kasus tengah melandai. Ia meminta evaluasi menyeluruh terhadap distribusi vaksin serta kecepatan penanganan komplikasi di fasilitas kesehatan, khususnya di wilayah yang sebelumnya menjadi zona merah.
“Pemerintah jangan cepat puas. Penurunan ini harus dibarengi dengan jaminan bahwa tidak akan ada lagi KLB di masa depan. Kita butuh jaminan perlindungan total, bukan sekadar laporan statistik di atas kertas,” pungkas Netty.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana













