Surplus Perdagangan 68 Bulan Beruntun, DPR Dorong Penguatan Nilai Tambah Ekspor

- Penulis

Senin, 2 Februari 2026 - 20:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib (dok. rentak.id)

Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib (dok. rentak.id)

JAKARTA – Indonesia kembali menegaskan ketahanan ekonominya di tengah ketidakpastian global dengan mencatatkan surplus neraca perdagangan selama 68 bulan berturut-turut.

Capaian ini dinilai menjadi sinyal kuat kokohnya fondasi ekonomi nasional dalam menghadapi perlambatan ekonomi dunia dan fluktuasi harga komoditas internasional.

Anggota Komisi VI DPR RI, Ahmad Labib, menilai konsistensi surplus tersebut mencerminkan arah kebijakan ekonomi yang berada di jalur tepat. Meski demikian, ia mengingatkan agar capaian ini tidak berhenti pada kebanggaan statistik semata, melainkan dimanfaatkan sebagai momentum memperkuat struktur perdagangan nasional.

“Surplus 68 bulan berturut-turut adalah prestasi, tetapi yang lebih penting adalah memastikan surplus ini bersumber dari sektor yang berkelanjutan dan bernilai tambah tinggi,” ujar Ahmad Labib di Jakarta, Senin (2/2/2026)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia mencatat surplus perdagangan sebesar USD 2,51 miliar pada Desember 2025. Surplus tersebut terutama ditopang sektor nonmigas yang mencapai sekitar USD 4,60 miliar, sementara sektor migas masih mencatatkan defisit.

Menurut Ahmad Labib, dominasi surplus nonmigas menunjukkan peran strategis industri dan sektor pengolahan dalam menopang kinerja ekspor nasional. Namun, ia menegaskan perlunya penguatan kebijakan hilirisasi agar ketergantungan pada ekspor komoditas primer dapat terus ditekan.

Ia juga mendorong pemerintah, khususnya Kementerian Perdagangan, untuk menjadikan tren surplus ini sebagai pijakan mempercepat transformasi ekspor nasional. Upaya tersebut mencakup diversifikasi pasar tujuan ekspor serta peningkatan daya saing produk dalam negeri, termasuk produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Kita harus memastikan bahwa ekspor Indonesia tidak hanya besar secara volume, tetapi juga kuat dari sisi nilai tambah, kualitas, dan daya saing global,” tegasnya.

Menutup pernyataannya, Ahmad Labib menekankan bahwa keberlanjutan surplus perdagangan harus diiringi kebijakan yang berpihak pada penguatan industri nasional dan penciptaan lapangan kerja. Menurutnya, surplus yang sehat adalah surplus yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Surplus ini harus kita jaga, bukan hanya sebagai pencapaian jangka pendek, tetapi sebagai fondasi menuju kemandirian ekonomi nasional,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Komisi VI DPR RI dan BULOG Bersinergi Kawal Bantuan Pangan di Jakarta
KSPI Usulkan Upah Minimum 2027 Naik 7,5-9,5 Persen, Ini Hitungannya
DPD RI Minta TKD dalam RAPBN 2027 Naik Jadi Rp760 Triliun, Ini Alasannya
Libur Nasional 2027 Ada 18 Hari, Ini Daftar Lengkap Tanggalnya
Pemerintah Berencana Rekrut 80 Ribu Polhut, DPR Ingatkan Soal Anggaran dan Teknologi
Ateng Sutisna Ungkap 5 Agenda HPDKI 2026-2031, dari Pakan hingga Pasar Ekspor
Indonesia-Filipina Percepat MoU Tata Kelola Migrasi Tenaga Kerja
Bencana NTT, BULOG Salurkan 1,84 Juta Kg Beras dan Siapkan Stok 93,7 Juta Kg

Berita Terkait

Kamis, 17 September 2026 - 21:16 WIB

Komisi VI DPR RI dan BULOG Bersinergi Kawal Bantuan Pangan di Jakarta

Kamis, 17 September 2026 - 10:09 WIB

KSPI Usulkan Upah Minimum 2027 Naik 7,5-9,5 Persen, Ini Hitungannya

Kamis, 17 September 2026 - 07:38 WIB

Libur Nasional 2027 Ada 18 Hari, Ini Daftar Lengkap Tanggalnya

Rabu, 16 September 2026 - 10:07 WIB

Pemerintah Berencana Rekrut 80 Ribu Polhut, DPR Ingatkan Soal Anggaran dan Teknologi

Selasa, 15 September 2026 - 17:29 WIB

Ateng Sutisna Ungkap 5 Agenda HPDKI 2026-2031, dari Pakan hingga Pasar Ekspor

Berita Terbaru