JAKARTA – Papua tengah menulis cerita baru dalam pembangunan pertanian Indonesia. Di tengah peringatan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia, kawasan timur Indonesia itu mulai menunjukkan wajah pertanian yang semakin modern, produktif, dan berbasis pada kekuatan masyarakat lokal.
Pemerintah hingga 2026 telah mengembangkan 137.429 hektare kawasan pertanian di Tanah Papua, terdiri atas 83.030 hektare cetak sawah dan 54.399 hektare optimalisasi lahan. Pengembangan tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan produksi pangan, tetapi juga mendorong pendapatan petani, membuka lapangan kerja baru, serta menyiapkan generasi muda Papua sebagai penggerak pertanian modern.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pembangunan pertanian di Papua dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya membuka dan mengoptimalkan lahan, tetapi juga membangun infrastruktur, menyediakan sarana produksi, memperkuat mekanisasi, serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal.
Menurut Amran, keberhasilan program pertanian tidak boleh hanya dilihat dari luas lahan atau jumlah produksi. Ukuran paling penting adalah seberapa besar manfaat pembangunan tersebut benar-benar dirasakan masyarakat.
“Program ini dibangun sepenuhnya untuk masyarakat Papua. Yang paling penting bagi kami adalah manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat. Faktanya, setelah program berjalan, pendapatan petani di sejumlah wilayah meningkat hingga 300 persen. Bahkan, masyarakat kini justru mengusulkan agar program cetak sawah terus diperluas,” kata Amran, Jumat(14/8/2026).
Dari total 137.429 hektare kawasan pertanian yang dikembangkan, Papua Selatan menjadi wilayah dengan cakupan terbesar. Pemerintah telah mengembangkan 48.934 hektare cetak sawah dan 53.499 hektare optimalisasi lahan di provinsi tersebut.
Pengembangan pertanian juga mencakup Provinsi Papua seluas 24.248 hektare, Papua Barat Daya 4.675 hektare, Papua Barat 3.373 hektare, serta Papua Pegunungan 2.000 hektare.
Untuk mempercepat transformasi tersebut, pemerintah dalam dua tahun terakhir mengalokasikan sekitar Rp5 triliun untuk pembangunan sektor pertanian di Papua.
Khusus Papua Selatan, pemerintah menyiapkan dukungan senilai Rp1,33 triliun pada 2026. Anggaran itu digunakan untuk pengembangan lahan dan irigasi, alat dan mesin pertanian, benih, pupuk, hingga pengembangan tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, dan peternakan.
Amran menegaskan, pembangunan pertanian Papua dirancang sebagai sebuah ekosistem. Pemerintah ingin memastikan lahan yang dikembangkan dapat menghasilkan secara berkelanjutan melalui mekanisasi, benih unggul, brigade pangan, pendampingan petani, dan pembangunan infrastruktur pendukung.
Dampak program tersebut mulai terlihat di sejumlah wilayah, salah satunya Merauke. Di daerah ini, indeks pertanaman meningkat dari sebelumnya sekitar 1,05 menjadi 1,82 hingga 2,00.
Artinya, petani yang sebelumnya rata-rata hanya dapat menanam sekali dalam setahun kini mulai mampu melakukan penanaman hingga dua kali dalam setahun.
Produktivitas padi pun ikut meningkat. Jika sebelumnya hasil panen berada di kisaran tiga ton per hektare, di sejumlah lokasi kini produktivitas telah mencapai empat hingga tujuh ton per hektare.
“Di Merauke, indeks pertanaman kini sudah mencapai sekitar dua kali tanam dalam setahun. Produktivitasnya juga terus meningkat. Jika sebelumnya hasil panen berkisar tiga ton per hektare, sekarang di sejumlah lokasi sudah mencapai empat hingga tujuh ton per hektare,” ujar Amran.
Peningkatan produktivitas tersebut turut berdampak pada luas panen, produksi beras, dan pendapatan petani. Dengan demikian, pembangunan lahan tidak berhenti pada peningkatan produksi, tetapi mulai menciptakan perubahan ekonomi di tingkat masyarakat.
Teknologi Modern Mulai Dikuasai Putra-Putri Papua
Transformasi pertanian Papua juga ditandai dengan semakin luasnya penggunaan teknologi modern. Drone pertanian, rice transplanter, combine harvester, traktor, serta berbagai alat mekanisasi mulai digunakan dalam proses pengolahan lahan hingga panen.
Yang menarik, teknologi tersebut tidak hanya didatangkan ke Papua, tetapi mulai dioperasikan oleh masyarakat lokal.
Kondisi ini membuka peluang munculnya profesi baru di kawasan perdesaan. Anak-anak muda Papua dapat berperan sebagai operator drone, operator alat dan mesin pertanian, hingga pengelola brigade pangan.
“Kami bangga melihat putra-putri Papua kini menjadi penggerak pertanian modern di daerahnya sendiri. Inilah yang ingin kami bangun, yaitu transfer pengetahuan dan teknologi agar mereka mampu menguasai teknologi pertanian yang telah diterapkan di berbagai negara maju,” kata Amran.
Menurutnya, penguasaan teknologi oleh masyarakat lokal menjadi bagian penting dari keberlanjutan pembangunan. Bantuan pemerintah tidak boleh berhenti sebagai fasilitas yang digunakan sementara, melainkan harus menjadi pengetahuan dan keterampilan yang dapat terus dikembangkan masyarakat Papua.
Selain membangun lahan dan memperkuat mekanisasi, Kementerian Pertanian juga mendorong regenerasi petani melalui Gerakan Kembali Berkebun yang melibatkan 150 mahasiswa Papua.
Program tersebut mendorong generasi muda memanfaatkan lahan keluarga dan mengembangkan komoditas sesuai dengan karakter wilayah masing-masing.
Kopi, kakao, pala, sagu, ubi jalar, hingga peternakan menjadi bagian dari potensi yang dapat dikembangkan. Pendekatan berbasis potensi lokal dinilai penting karena kondisi alam, budaya, dan sumber pangan setiap wilayah di Papua tidak sama.
“Saya ingin membangun Gerakan Pemuda Tani Papua. Kalau adik-adik mahasiswa punya lahan di kampung, mari kita tanam mulai sekarang. Begitu lulus kuliah, pendapatannya bisa lebih tinggi daripada pegawai,” ujar Amran.
Untuk memperkuat gerakan tersebut, Kementerian Pertanian menambah bantuan pengembangan kopi seluas 100 hektare bagi kelompok petani muda di Papua Pegunungan.
Pemerintah juga menyiapkan bantuan alat pertanian untuk mendukung pengembangan pangan lokal, terutama ubi jalar yang menjadi salah satu komoditas penting di Papua Tengah dan Papua Pegunungan.
“Untuk Papua Pegunungan dan Papua Tengah, kita siapkan bantuan alat pertanian sesuai kebutuhan karena komoditas utamanya adalah ubi. Ini menjadi program khusus untuk memperkuat pengembangan pangan lokal,” kata Amran.
Pelibatan generasi muda menjadi salah satu kunci keberlanjutan pembangunan pertanian Papua. Lahan yang luas dan teknologi modern tidak akan cukup jika tidak dibarengi regenerasi petani dan penguatan kapasitas masyarakat lokal.
Karena itu, anak muda Papua didorong tidak hanya menjadi penerima manfaat program. Mereka diharapkan tampil sebagai petani modern, pengusaha pertanian, operator teknologi, sekaligus penggerak ekonomi baru di daerahnya.
Memasuki usia ke-81 Republik Indonesia, transformasi pertanian di Papua menjadi gambaran bahwa pembangunan nasional harus memberikan ruang yang sama bagi seluruh wilayah Indonesia.
Kemerdekaan tidak hanya dimaknai sebagai kemampuan menghasilkan pangan, tetapi juga ketika masyarakat mampu mengelola sumber daya di wilayahnya, menguasai teknologi, meningkatkan pendapatan, dan menentukan masa depan melalui kekuatan sendiri.
“Negara hadir membangun melalui anggaran pemerintah, tetapi pada akhirnya seluruh hasil pembangunan ini adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” tegas Amran.
Ke depan, Kementerian Pertanian akan melanjutkan pengembangan kawasan pangan, memperkuat infrastruktur dan mekanisasi, meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal, serta mengembangkan komoditas unggulan berdasarkan potensi dan kearifan lokal.
Dari hamparan sawah di Merauke hingga kebun kopi dan kawasan ubi jalar di wilayah pegunungan, Papua kini sedang membangun masa depannya melalui pertanian.
Dari timur Indonesia, Papua tidak lagi sekadar menyimpan potensi pangan yang besar. Dengan lahan, teknologi, dan generasi muda yang mulai bergerak, Papua tengah dipersiapkan menjadi salah satu kekuatan baru ketahanan pangan nasional sekaligus sumber kesejahteraan bagi masyarakat di tanahnya sendiri.
Penulis : lazir
Editor : ameri






