Mabbim 2025 Teguhkan Bahasa sebagai Pilar Diplomasi Serumpun

- Penulis

Kamis, 30 Oktober 2025 - 13:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Badan Bahasa menyelenggarakan Seminar Kebahasaan Antarbangsa Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia. (dok. rentak.id)

Badan Bahasa menyelenggarakan Seminar Kebahasaan Antarbangsa Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Dalam rangka memperingati Bulan Bahasa 2025, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) menyelenggarakan Seminar Kebahasaan Antarbangsa Majelis Bahasa Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia (Mabbim) di Jakarta, Selasa (28/10/2025).

Mengusung tema “Peranan Bahasa Indonesia dan Bahasa Melayu dalam Diplomasi dan Hubungan Antarbangsa,” forum ini menjadi wadah penting untuk memperkuat kolaborasi linguistik tiga bangsa serumpun sekaligus menegaskan peran bahasa sebagai instrumen strategis dalam kerja sama pendidikan, kebudayaan, dan politik luar negeri.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam sambutannya menyampaikan bahwa forum Mabbim diharapkan dapat melahirkan semangat baru guna merefleksikan visi kawasan yang berwibawa dan berdaya saing global. Menurutnya, Mabbim sejak awal berdiri menjadi simbol koordinasi kebijakan, peristilahan tata bahasa, dan pelestarian bahasa negara anggota.

“Di tengah arus global dan kemajuan teknologi yang menguat, ketiga negara memiliki peluang besar untuk membangun ekosistem kerja sama kebahasaan yang tangguh dan relevan bagi generasi mendatang—mulai dari pendidikan, diplomasi publik, hingga standardisasi istilah untuk ilmu pengetahuan,” ujar Abdul Mu’ti.

Ia juga menegaskan tiga pesan penting dalam kebijakan kebahasaan nasional. Pertama, bahasa sebagai mandat konstitusional dan rumah kebangsaan, yang memelihara persatuan dan menjaga martabat warga negara. Kedua, bahasa sebagai infrastruktur pengetahuan, melalui kehadiran KBBI, korpus peristilahan, serta standar kemahiran berbahasa yang menunjang dunia sains dan pendidikan. Ketiga, bahasa sebagai jembatan persahabatan antarbangsa, yang diwujudkan lewat diplomasi kebahasaan, pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), dan standardisasi bersama antarnegara.

Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menambahkan bahwa seminar Mabbim menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan persahabatan antarnegara serumpun. “Seminar kebahasaan antarbangsa ini menjadi momentum berharga untuk memperkuat persatuan, keragaman, dan diplomasi bahasa di kancah antarbangsa,” tuturnya.

Menurut Hafidz, bahasa Indonesia dan bahasa Melayu merupakan warisan agung yang tidak hanya mencerminkan identitas kebangsaan, tetapi juga menjembatani peradaban serumpun di Asia Tenggara. “Dalam konteks global yang terus berubah, kedua bahasa ini memegang peran strategis untuk memperkuat kerja sama regional, memperluas diplomasi budaya, dan memperkaya komunikasi antarbangsa,” ujarnya.

Dari Brunei Darussalam, Pemangku Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka, Awang Suip bin Haji Abdul Wahab, menilai bahwa Mabbim lahir dari semangat bersama untuk mendukung, memajukan, dan menyatukan bahasa Melayu dan bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu, bahasa resmi, dan bahasa integrasi antarbangsa.

“Mabbim menjadi komponen penting dalam kerja sama kebahasaan, menandakan kesepakatan tiga bangsa serumpun dalam menjadikan bahasa kita sebagai lambang ilmu dan jati diri bersama,” katanya.

Senada, Pengarah Jabatan Pembinaan Bahasa dan Sastera, Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, Tuan Haji Mohd Salahuddin bin Dato’ Paduka Mohamed, yang mewakili Hazami bin Jahari, menegaskan bahwa Mabbim telah mempererat hubungan persahabatan dan persaudaraan tiga wilayah serumpun.

“Melalui Mabbim, kita tidak hanya membicarakan bahasa sebagai alat komunikasi, tetapi sebagai bahasa ilmu dan peradaban tinggi yang menjadi jembatan penghubung antarbangsa,” ujarnya.

Forum Mabbim 2025 meneguhkan komitmen Indonesia, Brunei Darussalam, dan Malaysia untuk menjadikan bahasa sebagai fondasi persahabatan, ilmu pengetahuan, dan diplomasi antarbangsa. Dalam semangat Bulan Bahasa, ketiga negara serumpun ini membuktikan bahwa bahasa bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga kekuatan strategis yang mempererat hubungan regional dan memperkuat posisi kawasan di kancah global.

Penulis : amanda az

Editor : reni Diana

Berita Terkait

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi
Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker
Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani
Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa
90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja
Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Hampir Rampung, Kementerian PU Siapkan Asrama 5 Lantai dan Masjid 4 Lantai
Indrajaya Sentil Kebijakan Pusat: Jangan Cuma Bagus di Atas Kertas, Rakyat Harus Merasakan Dampaknya
BSU 2026 Rp900 Ribu, Ini Syarat Penerima dan Batas Gaji yang Ditetapkan Kemnaker

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 14:41 WIB

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi

Minggu, 1 November 2026 - 09:16 WIB

Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker

Minggu, 1 November 2026 - 08:43 WIB

Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani

Minggu, 1 November 2026 - 08:32 WIB

Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 13:51 WIB

90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja

Berita Terbaru