KARAWANG – Di tengah riuh geliat industri Karawang, tersembunyi jejak bersejarah yang tenang namun sarat makna. Di sebuah kampung bernama Pulobata, Kecamatan Lemahabang, berdiri sebuah kompleks makam yang sejak ratusan tahun lalu menjadi saksi bisu perjalanan Islam pertama kali hadir di tanah Sunda — Makam Syekh Quro.
Nama Syekh Quro mungkin sudah tak asing di telinga para peziarah, khususnya mereka yang mengagumi kisah penyebaran agama Islam di Nusantara. Ulama besar yang nama aslinya adalah Syekh Hasanuddin, atau dikenal pula sebagai Syekh Qurotul Ain dan Syekh Mursahadatillah ini, adalah tokoh penting yang membawa ajaran Islam ke Karawang pada abad ke-15.
Bermula dari pendirian Pondok Quro pada tahun 1418 Masehi (1340 Saka), Syekh Quro bersama para santrinya — Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur, dan Nyai Subang Larang — mendirikan sebuah pusat pendidikan Alquran. Di tanah pesantren itulah kemudian dibangun masjid pertama di Karawang, cikal bakal dari Masjid Agung Karawang yang kini menjadi salah satu ikon kota.
Mengikuti jejak sejarah, Syekh Quro juga tercatat sebagai penganut Mazhab Hanafi. Ia memperkuat penyebaran dakwahnya dengan menikahi Ratna Sondari, putri dari Ki Gedeng Karawang. Dari pernikahan ini lahir Syekh Akhmad, yang kelak dikenal sebagai penghulu pertama di Karawang, meneruskan perjuangan sang ayah di Pondok Quro.
Tak hanya mendidik, Syekh Quro juga mengutus para santrinya untuk memperluas dakwah. Syekh Abdul Rohman dan Syekh Maulana Madzkur dikirim ke wilayah selatan Karawang, seperti Telukjambe, Ciampel, Pangkalan, hingga Tegalwaru. Sementara Syekh Bentong — santri yang dikenal dengan nama asli Syekh Darugem bin Jabir Modafah atau Syekh Maghribi, keturunan Sayyidina Utsman bin Affan RA — mengikuti Syekh Quro ke utara Karawang, menetap di Pulo Bata.
Di Pulo Bata inilah Syekh Quro dan Syekh Bentong membangun Sumur Awisan, yang hingga kini masih digunakan warga sekitar. Di tempat suci itu pula, Syekh Quro menutup perjalanan hidupnya, meninggalkan pesan abadi kepada para muridnya:
“Ingsun titip masjid, langgar, lan fakir miskin, anak yatim, dhuafa.”
Seiring waktu, keberadaan makam Syekh Quro sempat terlupakan hingga akhirnya ditemukan kembali pada tahun 1859 Masehi oleh Raden Somaredja (Ayah Djiin atau Pangeran Sambri) bersama Syekh Tolha, atas perintah Kesultanan Cirebon untuk mencari makam leluhur mereka. Keaslian makam tersebut diperkuat dengan kunjungan Sunan Kanoman Cirebon, Pangeran Haji Raja Adipati Jalaludin, serta surat pernyataan dari Putra Mahkota Pangeran Jayakarta Adiningrat XII pada tahun 1992.
Hari ini, makam Syekh Quro menjadi magnet bagi para peziarah, tak hanya dari Karawang, tapi juga dari berbagai daerah di luar Jawa Barat. Setiap akhir pekan, deretan bus pariwisata, mobil pribadi, hingga rombongan sepeda motor, memenuhi jalanan menuju Pulobata. Mereka datang untuk berdoa, mengenang, dan mengambil hikmah dari perjalanan dakwah seorang ulama besar yang dengan sabar membangun pondasi Islam di tanah Sunda.
Menyusuri kompleks makam Syekh Quro seolah menghidupkan kembali lembaran sejarah yang membentuk Karawang hari ini — bukan hanya sebagai kota industri, tetapi juga kota yang kaya akan nilai spiritual dan jejak peradaban.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana






