Jawab Tudingan Tergugat Kasus Lahan Kota Galuh, Pemegang Inkrah Dari MA Minta Pihak Tergugat: Tunjukkan Surat Asli

Dedi Suheri CS saat gelar konferensi pers bersama T. Gamal Telunjuk Alam dan Nurhayati selaku pemenang kasus lahan di Kota Galuh. (ebiet)

RENTAK.ID, SERDANG BEDAGAI – Pihak Penasehat Hukum dari Kantor Advokat DSP Law Firm (Dedi-Suhendri & Partners) Dedi Suheri dan Partner, dampingi Nurhayati selaku Pemenang dari MA dalam kasus lahan seluas 64 Ha di Dusun IV Desa Kota Galuh, kecamatan Perbaungan, berikan klarifikasi, Minggu 2 Juni 2024.

Keterangan pers yang diterima RENTAK.ID kemarin pihak Dedi Suheri menuding, kala,u Konpresnsi Pers yang digelar Andy alias A’eng Jombo dengan Narasumber Tengku Ahmad Thala’a yang bergelar Sultan Serdang, Sultan Deli ke-14, Sultan Mahmud Aria Lamantjiji Perkasa Alamsyah, OK Saidin, Pangeran Bedagai T.Syafii, Mardi Sijabat selaku Kuasa Hukum A’eng hanyalah opini sesat belaka.

Bacaan Lainnya

Dedi Suheri didampingi Novel Suhendri dan Ikhwan Khairul Fahmi, sekaligus dihadiri Nurhayati dan Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam.

Para narasumber itu, kata Dedi mencoba mengintervensi putusan Inkrah yang sudah dikeluarkan oleh Mahkamah Agung. Agar proses Konstatering Dan Eksekusi Lahan yang dimenangkan Nurhayati atas 3 objek di Dusun IV Desa Kota Galuh, Kecamatan Perbaungan.

Meskipun dalam amar putusan Inkrah Mahmakah Agung (MA) Nurhayati berhak seluruhnya atas lahan seluas 64 HA di Dusun IV Desa Kota Galuh Tersebut.

“Soal Silsilah Nurhayati, bahwa dianya bukan turunan Tengku, dan Surat Grand Sultan 102/1924 yang dibeli Nurhayati dari Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam pada tahun 1979 adalah palsu, semua itu kami kesampingkan. Terpenting bagi kami mendesak PN Sei Rampah untuk sesegera mungkin melakukan Konstatering ulang dan Eksekusi sesuai perintah MA yang sudah mengeluarkan ketetapan inkrah dengan no.2690.k/Pdt/2023 atas kemenangan Nurhayati selaku klien saya,” ujar Dedi Suheri, Seni, 3 Juli 2024.

Dedi menjelaskan, Grand Sultan 102/1924 tersebut diterima Pangeran Bedagai Tengku Zainal Al Rasyid, selanjutnya berpindah haknya kepada Tengku Ain Al Rasyid (ayah dari Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam) pada 28 Desember 1943, dan pada tanggal 17 Januari 1971 Tengku Ain Al-Rasyid menyerahkan kepada anaknya Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam, dan pada Tanggal 27 Juli 1979 Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam mengganti rugikan kepada T.Nurhayati dengan perjanjian jual beli diatas segel dan diketahui Kota Praja kota Medan.

“Jadi dimana palsunya Grand Sultan 102/1924 tersebut, bahkan perjalanan Grand Sultan 102 ini dibuat surat keterangannya oleh Yayasan Ma’moen Al Rasyid dan di Tanda Tangani Ketua Umum Yayasan IR.T, Reizan Ivansyah pada 15 Desember 2020 lalu,” kata Dedi Suheri.

Dedi Suheri sempat menantang pihak Narasumber yang diundang A’eng untuk menunjukkan Grand Sultan yang Asli yang berada di Dusun IV Desa Kota Galuh tersebut.

“Jika Grand Sultan 102/1924 yang dibeli klien saya T.Nurhayati dari Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam adalah palsu, tunjukkan sama saya Grand yang aslinya, dan lagian aneh, disaat lahan 3 objek yang sebentar lagi akan di Eksekusi baru muncul para pahlawan kesiangan membantu A’eng CS,” tegas Dedi.

Dedi juga mengancam, akan memproses secara hukum orang-orang yang ada di lahan 64 HA, jika ternyata ada timbul Sertifikat Hak Milik (SHM) nya di kantor ATR/BPN Serdang Bedagai, termasuk oknum-oknum yang ikut serta dalam penerbitan SHM atau Sertifikat lainnya.

“Karena kami selaku PH Nurhayati sudah memegang video statemen A’eng saat unjuk rasa di PN Sei Rampah dan DPRD Serdang Bedagai yang mengatakan bahwa sebanyak 300 KK di Dusun IV Desa Kota Galuh seluruhnya penyewa dari Yayasan Darwisyah. Kita juga sudah pegang bukti surat sewa menyewanya, kita juga sudah pegang Copy Kwitansi yang diduga kwitansi panjar jual beli antara Yayasan Darwisyah kepada Andy alias A’eng Jumbo seluas 1.175 Rante atau 47 HA dengan harga Rp.71.000.000,- Nah ini apa namanya kalau bukan mafia tanah, tidak punya atas hak, dan Yayasan Darwisyah juga sudah 2 kali kalah dengan Nurhayati, jadi apalagi yang mau kalian sebarkan opini sesat kepada masyarakat,” pungkas Dedi.

Menjawab tudingan Sultan Deli ke -14 dalam kaitan ini yang menyatakan Grand Sultan 102/1924 berada pada Poltax Taxi di Jalan Brigjend Katamso Medan.

“Saya jelaskan Grand Sultan 102 Poltax Taxi Medan ini luasnya hanya 1 HA lebih saja dan mengeluarkan Grand Sultand itu Kesultanan Deli, sedangkan Grand Sultan 102/1924 yang saya miliki dan sudah saya jual kepada Nurhayati itu luasnya 64 HA dan yang mengeluarkan Sultan Sulaiman Sinar Raja Negeri Serdang dan diserahterimakan kepada Pengeran Bedagai Tengku Zainal Al Rasyid pada 17 Mei 1924 dan selanjutnya berpindah haknya kepada Tengku Ain Al Rasyid yang merupakan ayah saya sendiri pada 28 Desember 1943, dan pada tanggal 17 Januari 1971 Ayah saya menyerahkan kepada saya dan pada Tanggal 27 Juli 1979 saya menjualnya kepada T.Nurhayati dengan perjanjian jual beli diatas segel dan diketahui Kota Praja kota Medan, karena dulunya lahan seluas 64 HA hanya boleh dijual kepada kerabat kerajaan saja, dan Nurhayati merupakan anak dari T.Bolina yang merukan Zuriat atau keturunan Raja,” papar T.Raja Gamal Telunjuk Alam.

“Pertama nama saya bukan Tengku Gamaluddin melainkan Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam, dan Telunjuk alam itu bukan gelar, dan katanya saya tidak punya tanah, dan buktinya Grand sultan 102/1924 itu diturunkan dari Sultan Sulaiman Sinar Raja Negeri Serdang kepada Pangeran Bedagai Tengku Zainal Al Rasyid dan berpindah kepada ayah saya Tengku Ain Al Rasyid dan berpindah ke Saya Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam dan saya ganti rugikan ke Nurhayati pada Tahun 1979, jadi perjalanan Grand Sultan 102/1979 itu jelas sesuai terjemahan Dosen Program Studi Bahasa Arab USU,” Jelas Tengku Raja Gamal Telunjuk Alam.

Sedangkan Nuhayati menegaskan, apapun yang disebarkan opini negative tentangnya, Nurhayati samasekali tidak begeming.

”Saya tidak peduli dengan opini dan isu negatif tentang saya, ada yang persoalkan silsilah, surat palsu, yang jelas saya sudah dimenangkan pihak MA dan sudah berkekuatan hukum tetap atau Inkrah, dan saat ini saya minta pihak PN Sei Rampah untuk menyegerakan Kontatering ulang dan Eksekusi, jangan diperlama lagi karena semua yang diminta PN Sei Rampah mulai dari Biaya Sekum, anmaning dan biaya pengamanan sudah saya lunasi semuanya sesuai perminataan pihak PN Sei Rampah, dan saya tidaqk mau lagi kena perdaya sama pihak PN Sei Rampah yang melakukan Konstatering atau Pra Eksekusi tanpa menurunkan pihak pengamanan sehingga saya dirugikan dimana dua orang keluarga saya dianiaya puluhan orang diduga warga suruhan,” tegas Nurhayati.

Untukndiketahui, kalau Andy alias Aeng Dumbo ini mewakili sekitar 300 penyewa diatas lahan yang menjadi obyek sengketa selama puluhan tahun.

Bahkan Aeng juga mengakui kalau diatas lahan tersebut, disewa oleh warga Suku Jawa dan Banjar sekitar 30 % dan sisanya sekitar 70 % adalah suku Tionghoa.

Bahkan,saat ini ada seratusan lebih warga yang sudah mempunyai Sertifikat Hak Milik (SHM) padahal status tanah tersebut Sewa.

Dan saat ini Nurhayati selaku Pemilik lahan yang sudah dibelinya pada tahun 1979 dari Tengku Gamal,sesuai surat keputusan dari Mahkamah Agung adalah pemilik yang sah dari lahan tersebut. ***

Pos terkait