Ini Tanggapan Pengamat Politik: Ada Nuansa Politik Dua Kaki di Rakernas PDIP 2023

Presiden Jokowi memapah Megawati Soeakrnoputri didampingi Ganjar Pranowo . (ist)

RENTAK.ID, JAKARTA – Dosen Ilmu Politik dan International Studies Universitas Paramadina; Direktur Eksekutif Institute for Democracy and Strategic Affairs (Indostrategic), Ahmad Khoirul Umam mengatakan, kritikan Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri terhadap kebijakan bea masuk impor gandum 0% merupakan penebalan atas kritik PDIP sebelumnya yang menyasar kegagalan kebijakan Food Estate yang dijakankan pemerintahan Jokowi.

Menjelang Pemilu 2024, kata Khoirul, atas nama wujud keberpihakan terhadap kaum Marhaen atau wong cilik, PDIP mencoba menampilkan politik dua kaki. Di satu sisi menjadi garda terdepan pendukung pemerintahan Jokowi, namun juga bekalangan menujukkan sikapnya yang tidak sungkan-sungkan mengkritik keras kebijakan pemerintahan Jokowi.

Bacaan Lainnya

“Kritik PDIP kali ini menggarisbawahi ketidakmampuan pemerintahan Jokowi menghadirkan alternatif diversivikasi pangan dan ketidakhadiran negara dalam kebijakan perdagangan komoditas pangan, yang berdampak pada semakin tingginya ketergantungan pasar dan konsumen Indonesia pada komoditas pangan dari luar negeri. Hal ini tentu tidak sesuai dengan janji kampanye Jokowi yang mengklaim hendak menghadirkan kedaulatan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani lokal.,” katanya, Minggu (1/10/2023).

Pasca ketegangan yang coba diredam antara PDIP dengan keluarga Jokowi pasca penetapan Kaesang sebagai Ketum PSI, maka kehadiran Jokowi di acara Rakernas PDIP kemarin mengindikasikan Jokowi akan memainkan politik dua kaki di Pilpres 2024 mendatang.

“Gimmick bisikan Jokowi ke Ganjar ditujukan untuk menjaga kesan bahwa Jokowi seolah masih berada di pangkuan PDIP. Hal itu dilakukan Jokowi untuk mencegah konfrontasi terbuka antara dirinya dengan PDIP atau dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri,” ucapnya.

Namun demikian, mencermati tidak solidnya dukungan sel-sel kekuatan politik di sekitar Jokowi pada pencapresan Ganjar, tampaknya PDIP telah mengantisipasi itu semua dengan menata hati, keyakinan dan taktik politik, dimana baik dengan dukungan Jokowi maupun tanpa dukungan Jokowi, PDIP akan terus melanjutkan perjuangan memenangkan pencapresan Ganjar Pranowo.

“Artinya, PDIP ingin menunjukkan karakter dan infrastruktur mesin politiknya yang “berdikari”, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak bergantung pada bayang-bayang pengaruh politik Jokowi,” ucapnya.

Forum Rakernas PDIP, kata Khoirul, juga seolah hendak menegaskan bahwa PDIP akan mempertimbangkan variabel Nahdlatul Ulama (NU) dalam menetapkan Cawapres bagi Ganjar Pranowo. Hal itu diantisipasi untuk menghindarkan terkonsolidasinya basis suara Nahdliyyin ke mesin pencawapresan Muhaimin melalui PKB.
“Karena itu, nama-nama seperti Mahfud MD dan Khofifah menguat dalam bursa pencawapresan Ganjar maupun Prabowo, untuk memecah kekuatan politik jaringan kaum Santri, terutama di Jawa Timur dan Jawa Tengah yang memiliki jumlah populasi besar. Dalam konteks Cawapres Ganjar, tampaknya nama Mahfud MD kian menguat yang diindikasikan oleh hangatnya respon bersahabat para kader PDIP saat namanya disebut dalam Rakernas PDIP kemarin,” tutupnya.

Pos terkait