JAKARTA – Pergerakan harga emas dunia masih berada dalam fase konsolidasi pada perdagangan Selasa (21/7/2026). Meski sempat tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS, logam mulia tetap mampu bertahan di atas level psikologis US$4.000 per troy ounce berkat meningkatnya permintaan aset safe haven akibat memanasnya konflik di Timur Tengah.
Pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat, harga emas spot berada di kisaran US$4.007,7 per troy ounce, sementara kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus 2026 ditutup di US$4.015,9 per troy ounce. Pergerakan tersebut mencerminkan tarik-menarik antara sentimen negatif dari kebijakan moneter AS dan sentimen positif dari meningkatnya risiko geopolitik.
Tekanan terhadap harga emas datang dari menguatnya indeks dolar AS yang membuat logam mulia menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Di saat yang sama, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS juga mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil.
Selain itu, lonjakan harga minyak dunia ikut meningkatkan ekspektasi inflasi. Kondisi tersebut memunculkan spekulasi bahwa bank sentral, terutama Federal Reserve (The Fed), masih akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama guna mengendalikan tekanan harga.
Namun, pelemahan emas tidak berlangsung dalam karena investor tetap memburu aset aman di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah. Amerika Serikat dilaporkan kembali melancarkan serangan udara terhadap sejumlah target militer di Iran, yang kemudian dibalas Teheran melalui peluncuran drone dan rudal ke beberapa pangkalan militer AS di kawasan Teluk.
Situasi semakin memanas setelah kelompok Houthi menyatakan akan memberlakukan blokade maritim terhadap Arab Saudi sebagai respons atas konflik yang terjadi di Yaman. Ketidakpastian tersebut membuat permintaan terhadap emas sebagai instrumen lindung nilai tetap terjaga.
Di sisi lain, data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid juga menjadi faktor yang membatasi kenaikan harga emas. Setelah inflasi menunjukkan tren melambat, sejumlah indikator seperti penjualan ritel, klaim pengangguran, aktivitas manufaktur hingga survei sentimen konsumen menunjukkan perekonomian AS masih cukup tangguh.
Kondisi itu membuat pelaku pasar memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan Juli, tetapi peluang kenaikan sebesar 25 basis poin pada September masih terbuka.
Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun bertahan di atas 4,22 persen, sedangkan tenor 10 tahun berada di atas 4,60 persen. Penguatan dolar AS yang mengikuti kenaikan yield tersebut kembali menjadi hambatan bagi penguatan emas.
Managing Partner sekaligus Market Strategist Sprott Inc., Paul Wong, menilai pelemahan harga emas saat ini justru membuka peluang pembalikan arah.
“Semakin banyak indikator yang menunjukkan kondisi oversold, semakin sulit mendorong harga emas turun lebih dalam. Secara probabilitas, peluang pembentukan dasar harga menjadi semakin besar,” ujar Wong seperti dikutip Kitco.
Ia menilai emas berpotensi membentuk titik terendah siklus sebelum September. Dalam jangka panjang, pelemahan nilai mata uang fiat dan meningkatnya kebutuhan aset lindung nilai masih berpotensi mendorong harga emas mencetak rekor baru.
Sementara itu, analis Vibiz Research Center memperkirakan harga emas masih berpotensi bergerak terbatas selama tekanan dari dolar AS dan ekspektasi suku bunga tinggi belum mereda.
“Harga emas masih berisiko melemah apabila penguatan dolar AS berlanjut dan kenaikan harga minyak terus meningkatkan ekspektasi inflasi sehingga mendorong kebijakan suku bunga tetap tinggi,” tulis analis Vibiz dalam laporannya.
Secara teknikal, harga emas spot diperkirakan bergerak pada area support US$3.980 hingga US$3.952 per troy ounce, sedangkan level resistance berada di kisaran US$4.038 hingga US$4.068 per troy ounce.
Adapun emas berjangka AS diperkirakan memiliki area support di US$3.987–US$3.957, dengan resistance pada US$4.046–US$4.075 per troy ounce.
Di dalam negeri, harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) pada Selasa (21/7/2026) terpantau relatif stabil. Produk Logam Mulia Antam masih menjadi pilihan utama investor karena memiliki tingkat kemurnian 99,99 persen (24 karat) serta telah memperoleh akreditasi London Bullion Market Association (LBMA) sehingga diakui dalam perdagangan internasional.
Setiap emas batangan Antam juga telah dilengkapi teknologi keamanan CertiEye pada pecahan 0,5 gram hingga 100 gram. Sistem ini memungkinkan pemilik memverifikasi keaslian produk melalui aplikasi resmi sehingga meminimalkan risiko pemalsuan.
Bagi investor, para analis mengingatkan bahwa investasi emas lebih tepat digunakan sebagai instrumen jangka panjang. Sebelum membeli maupun menjual kembali (buyback), investor disarankan memperhatikan selisih harga beli dan harga buyback serta memantau perkembangan harga emas dunia, nilai tukar dolar AS, dan arah kebijakan suku bunga The Fed yang masih menjadi penggerak utama pasar logam mulia.
Penulis : guntar
Editor : ami






