Fenomena Rojali dan Rohana Kian Marak, Komisi XI DPR: Tanda Daya Beli Masyarakat Melemah

- Penulis

Rabu, 6 Agustus 2025 - 08:24 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) di pusat-pusat perbelanjaan. (dibikin oleh ai-rentak.id)

Fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) di pusat-pusat perbelanjaan. (dibikin oleh ai-rentak.id)

JAKARTA – Meningkatnya fenomena Rojali (Rombongan Jarang Beli) dan Rohana (Rombongan Hanya Nanya) di pusat-pusat perbelanjaan menjadi sorotan serius sejumlah kalangan.

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKB, Tommy Kurniawan, menilai tren ini sebagai indikasi nyata melemahnya daya beli masyarakat Indonesia.

“Kita tidak bisa menutup mata. Fenomena Rojali dan Rohana mencerminkan kondisi ekonomi masyarakat yang sedang lesu. Ini alarm penting bahwa daya beli terus melemah dan harus segera disikapi,” ujar Tommy Kurniawan, yang akrab disapa Tomkur, pada Selasa (5/8/2025).

Menurut Tomkur, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret untuk memperkuat konsumsi rumah tangga sebagai penggerak utama perekonomian nasional. Ia menekankan pentingnya inovasi baik dari sisi kebijakan maupun layanan agar masyarakat kembali bergairah dalam berbelanja.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada triwulan I-2025 hanya 4,87 persen, turun dari 4,91 persen pada periode yang sama tahun lalu. Sebagai pembanding, sebelum pandemi COVID-19, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sempat menyentuh angka 5,4 persen. Padahal, konsumsi rumah tangga menyumbang lebih dari 52 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.

“Masyarakat kini jauh lebih selektif. Kalau dulu langsung beli, sekarang mereka cek harga di e-commerce, tunggu promo, bahkan kadang hanya tanya tanpa niat beli. Akibatnya, pusat-pusat perbelanjaan jadi sepi,” jelasnya.

Tomkur memperingatkan bahwa jika fenomena ini terus dibiarkan, maka pertumbuhan ekonomi nasional berpotensi melambat lebih jauh. Karena itu, ia mendorong sinergi antara pemerintah dan pelaku usaha untuk menciptakan strategi yang mampu menggerakkan kembali daya beli masyarakat.

“Pusat perbelanjaan harus lebih kreatif dan meningkatkan kualitas pelayanan agar masyarakat tertarik untuk kembali belanja. Pemerintah pun harus hadir dengan kebijakan yang mendukung pemulihan daya beli,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan
Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen
Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton
50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia
Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun
Black October Guncang Dunia Digital, ICSF Ingatkan Indonesia Rawan Serangan Siber
Beras SPHP Dikemas Ulang Jadi 50 Kg, BULOG Turunkan Satgas Khusus ke Seluruh Indonesia
Wamentan Dorong Koperasi Beli Susu Peternak Langsung, Ini Targetnya

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:39 WIB

Ateng Sutisna Desak Pemerintah Benahi Pasar Modal, Ancaman Turun Kelas MSCI Jadi Peringatan

Senin, 2 November 2026 - 13:51 WIB

Investasi Rp1.010 Triliun Diklaim Tumbuh, Hafisz Tohir Soroti Lelang SUN Anjlok 50 Persen

Minggu, 1 November 2026 - 14:20 WIB

Di Tengah Ancaman Krisis Pangan Global, Indonesia Klaim Punya Stok Beras 25 Juta Ton

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:47 WIB

50 Orang Terkaya Kuasai Kekayaan Setara 55 Juta Penduduk, Hafisz Tohir Soroti Ketimpangan Indonesia

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 14:20 WIB

Belanja Online hingga Transaksi Kripto Sumbang Pajak Rp58,75 Triliun

Berita Terbaru