JAKARTA – Ancaman fenomena Godzilla El Nino yang diperkirakan melanda pada 2026 dinilai dapat menjadi ujian serius bagi sektor pertanian nasional.
Potensi kekeringan berkepanjangan diperkirakan akan menekan luas tanam hingga produksi pangan, sehingga pemerintah diminta menyusun APBN 2027 dengan fokus pada program yang memberikan hasil paling efektif.
Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet, menegaskan bahwa setiap alokasi anggaran harus mampu menghasilkan peningkatan produksi pangan secara maksimal, terutama di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.
“Bila ancaman El Nino benar-benar terjadi, setiap rupiah anggaran harus memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi peningkatan produksi pangan. Karena itu, program yang lebih efisien harus menjadi prioritas,” kata Slamet, Jumat (3/7/2026)
Berdasarkan alokasi anggaran tahun 2026, program Cetak Sawah memperoleh dana sebesar Rp8,75 triliun untuk target pengembangan 250.000 hektare atau sekitar Rp35 juta per hektare. Sementara itu, program Optimalisasi Lahan (Oplah) mendapat alokasi Rp1,65 triliun untuk 300.000 hektare, dengan biaya sekitar Rp5,5 juta per hektare.
Artinya, biaya pengembangan melalui program Cetak Sawah mencapai sekitar 6,4 kali lebih besar dibandingkan Optimalisasi Lahan.
Menurut Slamet, kondisi tersebut menunjukkan bahwa Oplah merupakan pilihan yang jauh lebih efisien karena memanfaatkan lahan pertanian yang telah tersedia sehingga hasilnya bisa dirasakan lebih cepat.
Untuk tahun 2027, pemerintah menargetkan Optimalisasi Lahan seluas 200.000 hektare dan Cetak Sawah 100.000 hektare dengan total kebutuhan anggaran sekitar Rp4,6 triliun. Rinciannya, Rp1,1 triliun dialokasikan untuk Oplah dan Rp3,5 triliun bagi program Cetak Sawah.
Slamet menilai besarnya anggaran Cetak Sawah layak dievaluasi. Menurut perhitungannya, apabila dana Rp3,5 triliun tersebut dialihkan ke program Optimalisasi Lahan, pemerintah berpeluang mengoptimalkan sekitar 636.000 hektare lahan pertanian.
Ia pun mengusulkan agar sebagian anggaran Cetak Sawah dialokasikan untuk memperkuat infrastruktur pertanian, mulai dari rehabilitasi jaringan irigasi, pembangunan embung, pompanisasi, perpipaan, jalan usaha tani hingga penyediaan alat dan mesin pertanian.
Investasi pada sektor tersebut dinilai akan memberikan dampak lebih besar dalam menjaga produktivitas lahan, meningkatkan indeks pertanaman, sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional saat menghadapi musim kering ekstrem.
“Program Cetak Sawah tetap penting sebagai strategi jangka panjang. Namun pelaksanaannya harus selektif dan difokuskan pada wilayah yang benar-benar siap. Dalam menghadapi ancaman Godzilla El Nino, prioritas utama adalah memastikan lahan pertanian yang sudah ada tetap produktif melalui Optimalisasi Lahan serta penguatan infrastruktur pertanian,” tutup Slamet.
Penulis : lazir
Editor : ameri












