BANYUWANGI – Upaya menjaga status Geopark Ijen sebagai bagian dari jaringan UNESCO Global Geopark tidak hanya bergantung pada kelestarian alam dan pengelolaan geosite. Ketersediaan transportasi publik yang mudah, aman, dan terjangkau juga menjadi bagian penting dalam mendukung keberlanjutan kawasan wisata unggulan di Banyuwangi dan Bondowoso tersebut.
Melihat pentingnya konektivitas itu, DAMRI turut memberikan dukungan dalam proses Revalidasi UNESCO Global Geopark (UGGp) Ijen yang berlangsung pada 2–6 Agustus 2026. Dukungan diwujudkan melalui layanan angkutan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Kawah Ijen yang dioperasikan DAMRI bekerja sama dengan Kementerian Perhubungan melalui Balai Pengelola Transportasi Darat (BPTD) Kelas II Jawa Timur.
Layanan tersebut hadir dengan tarif bersubsidi mulai Rp20.000 sekali jalan, sehingga masyarakat dan wisatawan memiliki pilihan transportasi umum yang lebih terjangkau untuk menuju kawasan Kawah Ijen.
General Manager DAMRI Cabang Banyuwangi, Septian Adri, mengatakan keberadaan transportasi publik menjadi salah satu unsur penting dalam memastikan kawasan Geopark Ijen dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Status UNESCO Global Geopark adalah kebanggaan sekaligus tanggung jawab bersama. Karena itu, kami ingin memastikan wisatawan maupun masyarakat lokal memiliki akses transportasi yang aman, terjadwal, nyaman, dan terjangkau untuk menjangkau kawasan geosite,” kata Septiandikutip, Rabu (11/8/2026).
Menurut dia, layanan KSPN Kawah Ijen merupakan hasil kolaborasi antara DAMRI dan Kementerian Perhubungan melalui BPTD Kelas II Jawa Timur. Dukungan subsidi pemerintah membuat tarif yang harus dibayar penumpang menjadi lebih ringan.
“Dengan adanya dukungan subsidi dari pemerintah, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menggunakan angkutan umum menuju Kawah Ijen. Ini menjadi bagian dari komitmen kami dalam mendukung konektivitas pariwisata sekaligus pengembangan transportasi publik di kawasan Geopark Ijen,” ujarnya.
Dua Koridor Layani Perjalanan Menuju Kawah Ijen
Untuk memudahkan wisatawan, layanan KSPN Kawah Ijen saat ini memiliki dua koridor utama, yakni Banyuwangi–Kawah Ijen dan Jember–Kawah Ijen.
Pada koridor Banyuwangi–Kawah Ijen, tarif ditetapkan sebesar Rp20.000 sekali jalan. Bus berangkat dari Terminal Genteng Baru pada pukul 07.00 WIB dan 21.00 WIB. Sementara perjalanan dari Kawah Ijen menuju Banyuwangi tersedia pada pukul 09.00 WIB dan 14.00 WIB.
Adapun koridor Jember–Kawah Ijen dikenakan tarif Rp25.000 sekali jalan. Keberangkatan menuju Kawah Ijen tersedia pada pukul 07.00, 08.00, 19.00, dan 20.00 WIB. Untuk perjalanan kembali dari Kawah Ijen menuju Jember, tersedia jadwal pukul 08.30, 09.00, 14.30, dan 15.00 WIB.
Septian menjelaskan, jadwal tersebut tidak dibuat secara sembarangan. Waktu keberangkatan disesuaikan dengan karakteristik perjalanan wisatawan yang hendak menikmati Kawah Ijen, termasuk mereka yang memilih melakukan pendakian pada dini hari.
“Jadwal kami sesuaikan dengan pola kunjungan wisatawan ke Kawah Ijen. Keberangkatan pada malam hari juga kami siapkan untuk mengakomodasi wisatawan yang ingin melakukan pendakian pada dini hari,” jelasnya.
Terhubung dengan Stasiun Kereta Api
Tidak berhenti pada layanan bus, DAMRI juga berupaya membangun konektivitas antarmoda agar perjalanan wisatawan menuju Kawah Ijen menjadi lebih praktis.
Titik keberangkatan layanan KSPN berada di terminal dan terhubung dengan sejumlah simpul transportasi kereta api. Penumpang yang telah melakukan pemesanan tiket melalui DAMRI Apps bahkan dapat memanfaatkan layanan penjemputan di Stasiun Rambipuji untuk wilayah Jember dan Stasiun Banyuwangi Kota untuk wilayah Banyuwangi.
“Pelanggan yang sudah memesan tiket secara daring melalui DAMRI Apps dapat dijemput di Stasiun Rambipuji untuk wilayah Jember dan Stasiun Banyuwangi Kota untuk wilayah Banyuwangi,” kata Septian.
“Dengan skema ini, pelanggan yang datang menggunakan kereta api dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju Kawah Ijen tanpa harus berkali-kali berpindah moda transportasi. Kami ingin perjalanan wisatawan menjadi lebih sederhana dan nyaman,” imbuhnya.
Transportasi Jadi Bagian dari Pariwisata Berkelanjutan
Septian menegaskan DAMRI juga membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai pihak dalam pengembangan konektivitas di kawasan Geopark Ijen.
Menurutnya, keterhubungan antarlokasi wisata atau geosite akan semakin penting seiring meningkatnya kunjungan wisatawan ke kawasan tersebut.
“Kami siap berkoordinasi dengan Badan Pengelola Geopark Ijen, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dan Bondowoso, maupun pelaku industri pariwisata untuk memperluas konektivitas antar-geosite,” tuturnya.
“Ketersediaan transportasi publik yang andal bukan sekadar soal mobilitas. Ini juga menjadi bagian dari indikator pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan,” lanjut Septian.
Dukungan tersebut menjadi semakin relevan karena Geopark Ijen tengah menjalani proses revalidasi UNESCO Global Geopark. Status tersebut pertama kali diperoleh Geopark Ijen pada 2023 dan evaluasi dilakukan secara berkala setiap empat tahun.
Dalam proses revalidasi kali ini, dua asesor UNESCO Global Geopark, yakni Dr. Andreas Schüller dari Jerman dan Qinling Zhongnanshan dari China, melakukan penilaian langsung terhadap pengelolaan kawasan Geopark Ijen.
Selama lima hari penilaian, tim asesor mengunjungi sejumlah lokasi penting di wilayah Banyuwangi. Di antaranya Pusat Informasi Geologi Geopark Ijen (PIGGI), Desa Adat Kemiren, sentra ekonomi kreatif, hingga kawasan Alas Purwo dan Teluk Pangpang di Kecamatan Grajagan.
Hasil revalidasi nantinya akan menentukan keberlanjutan status Geopark Ijen dalam jaringan UNESCO Global Geopark.
Terdapat tiga kemungkinan hasil penilaian. Green Card diberikan apabila seluruh standar yang ditetapkan UNESCO terpenuhi. Yellow Card diberikan apabila masih ditemukan aspek yang perlu diperbaiki dalam waktu dua tahun. Sementara Red Card berarti status UNESCO Global Geopark dapat dicabut.
Karena itu, keterlibatan berbagai pihak, termasuk penyedia transportasi publik, menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kualitas pengelolaan Geopark Ijen. Kehadiran layanan KSPN Kawah Ijen diharapkan tidak hanya mempermudah wisatawan mencapai destinasi, tetapi juga memperkuat ekosistem pariwisata yang terintegrasi dan berkelanjutan di Banyuwangi serta Bondowoso.
Penulis : lazir
Editor : ameri






