JAKARTA – Badan Karantina Indonesia (Barantin) terus memperkuat berbagai strategi guna meningkatkan daya saing ekspor komoditas hewan, ikan, dan tumbuhan Indonesia di pasar global. Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan biosecurity, digital traceability, kerja sama pre-border, hingga penerapan sistem percepatan layanan karantina atau fast clearance guna mendukung terwujudnya perdagangan bebas dunia.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia, Abdul Kadir Karding, saat menjadi pembicara dalam talkshow pembukaan pameran Nusatic, Nusapet, dan Nusahorti 2026, Jumat (12/6/2026).
Dalam paparannya, Karding menegaskan bahwa biosecurity kini menjadi syarat utama dalam perdagangan internasional dan bukan lagi sekadar pilihan bagi pelaku usaha.
“Biosecurity adalah kewajiban, bukan pilihan. Pasar internasional saat ini menuntut perubahan paradigma dalam perdagangan maupun perilaku pasar. Negara atau pelaku usaha yang ingin masuk ke pasar global harus mampu memenuhi standar yang semakin ketat,” ujar Karding.
Menurutnya, konsumen dan importir internasional saat ini tidak hanya melihat kualitas produk, tetapi juga memperhatikan aspek keamanan hayati, ketertelusuran produk, hingga tingkat kepercayaan terhadap negara asal.
“Pasar melihat yang pertama adalah kualitas, kedua biosecurity, ketiga ketertelusuran, dan yang keempat yang sangat penting adalah kepercayaan. Menurut saya Indonesia sudah memiliki modal kepercayaan itu. Jadi bukan hanya memiliki potensi varietas yang beragam, tetapi Indonesia juga telah melakukan berbagai perbaikan sehingga dipercaya pasar internasional, khususnya di bidang ikan hias,” katanya.
Karding menilai Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemimpin dunia dalam perdagangan ikan hias jika seluruh ekosistem industri mampu bergerak bersama meningkatkan kualitas dan standar produk.
“Kalau ekosistemnya sudah baik, artinya semua pihak memiliki fokus yang sama untuk memperbaiki kualitas dan mendorong Indonesia menjadi leader dalam perdagangan ikan hias dunia,” ungkapnya.
Untuk mendukung hal tersebut, Barantin terus mendorong penerapan sistem Cara Karantina Ikan yang Baik (CKIB) guna menjamin kualitas dan keamanan produk ikan hias Indonesia yang diekspor ke berbagai negara.
“Barantin mendorong penerapan sistem CKIB untuk memastikan kualitas ikan hias Indonesia tetap terjaga. Saat ini sebanyak 128 Instalasi Karantina Ikan Hias ber-CKIB telah diakui oleh General Administration of Customs China (GACC),” jelas Karding.
Selain penguatan standar kualitas, Barantin juga tengah melakukan transformasi layanan karantina melalui pemanfaatan teknologi digital. Karding mengatakan pendekatan yang sebelumnya berbasis pemeriksaan manual kini beralih menjadi sistem berbasis risiko yang lebih efektif dan efisien.
“Transformasi Barantin mengubah pendekatan inspeksi manual menjadi pendekatan berbasis risiko. Dokumen yang sebelumnya berbasis kertas kini terintegrasi secara digital. Kami juga mengubah pendekatan post-border control yang bersifat pasif menjadi pre-border control yang aktif dan preventif,” tuturnya.
Ia menambahkan, Barantin tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pengawasan, tetapi juga menjadi fasilitator perdagangan dengan memberikan pendampingan kepada pelaku usaha, membuka akses pasar baru, serta mempercepat proses layanan ekspor.
“Kami membantu perusahaan dalam memenuhi persyaratan ekspor, mempermudah proses yang ada, membuka akses pasar, dan mempercepat proses clearance. Dengan begitu biaya logistik dapat ditekan, sementara penerapan biosecurity dan ketertelusuran akan meningkatkan kepercayaan pasar yang pada akhirnya berdampak pada harga jual yang lebih tinggi,” paparnya.
Di akhir pemaparannya, Karding menegaskan bahwa keberhasilan meningkatkan ekspor nasional tidak bisa dilakukan sendiri. Karena itu, Barantin terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.
“Kami terus berkoordinasi dan berkolaborasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Pertanian, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), pelaku usaha, eksportir, hingga legislatif agar penguatan sistem karantina dan perdagangan Indonesia dapat berjalan lebih optimal,” pungkasnya.
Penulis : amanda az
Editor : ameri












