Angkutan Pelajar Aman Magelang Gratis, 17 Siswa Naik 1 Armada hingga Dorong Keselamatan Pelajar

- Penulis

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Angkutan pelajar Magelang (foto.ist)

Angkutan pelajar Magelang (foto.ist)

MAGELANG — Berangkat sekolah tanpa harus diantar orang tua menggunakan sepeda motor kini menjadi pilihan yang semakin terbuka bagi pelajar SMP di Kabupaten Magelang.

Melalui Program Angkutan Pelajar Aman (APA), pemerintah daerah menyediakan angkutan sekolah gratis dengan memanfaatkan armada angkutan pedesaan yang sudah beroperasi.

Program ini tidak hanya menyasar persoalan akses pendidikan, tetapi juga menjadi upaya mengurangi risiko kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar sekaligus menghidupkan kembali angkutan umum perdesaan.

Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasihat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai penyediaan transportasi sekolah yang aman dan terjangkau merupakan bagian penting dari pembangunan daerah.

“Menjamin keselamatan sekaligus memberikan kemudahan kepada anak-anak dalam menuntut ilmu harus menjadi prioritas dalam pembangunan daerah. Transportasi sekolah bukan sekadar soal perjalanan dari rumah ke sekolah, tetapi juga menyangkut keselamatan, akses pendidikan, dan keberlanjutan angkutan umum,” kata Djoko, Rabu, (12/7/2026).

Menurut dia, tantangan mobilitas pelajar tidak bisa dilepaskan dari kondisi transportasi di daerah. Ketika anak-anak harus menggunakan kendaraan pribadi untuk pergi ke sekolah, terutama sepeda motor, risiko kecelakaan lalu lintas ikut meningkat.

Karena itu, kehadiran Program APA dinilai menjadi salah satu solusi yang cukup konkret karena memberikan layanan transportasi gratis sekaligus memanfaatkan armada angkutan pedesaan yang telah tersedia.

Pemerintah Kabupaten Magelang melalui Dinas Perhubungan menjalankan Program Angkutan Pelajar Aman (APA) khusus bagi siswa SMP. Layanan tersebut menggunakan armada Angkutan Pedesaan (Angdes) eksisting yang beroperasi pada jam keberangkatan dan kepulangan sekolah.

Para siswa dapat menggunakan angkutan tersebut secara gratis pada pagi hari ketika berangkat sekolah dan siang hari saat pulang.

Sementara di luar waktu antar-jemput pelajar, kendaraan kembali menjalankan fungsi utamanya sebagai angkutan umum dan melayani penumpang sesuai trayek yang telah ditetapkan.

Skema tersebut membuat program tidak hanya memberikan manfaat kepada pelajar, tetapi juga menjaga agar angkutan pedesaan tetap memiliki aktivitas dan sumber pendapatan.

Dinas Perhubungan Kabupaten Magelang mencatat, program APA memberikan sejumlah manfaat, mulai dari mempermudah akses transportasi siswa SMP, mengurangi biaya transportasi keluarga, hingga menekan potensi pelanggaran dan kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pelajar.

Program ini juga diharapkan dapat menumbuhkan kembali minat masyarakat, khususnya generasi muda, untuk menggunakan transportasi umum.

Urgensi transportasi sekolah semakin terlihat dari data kecelakaan lalu lintas. Berdasarkan data Satlantas Polres Kabupaten Magelang 2025, kelompok usia pelajar 10–19 tahun termasuk kelompok yang cukup banyak terlibat dalam kecelakaan.

Secara nasional, kelompok usia tersebut berada di peringkat kedua dengan kontribusi sekitar 23 persen atau 46.439 korban dari total 204.284 kejadian.

Di Kabupaten Magelang, kelompok pelajar juga menempati peringkat kedua dengan proporsi sekitar 19 persen, yakni 240 korban dari total 1.256 kejadian.

“Data kecelakaan menunjukkan bahwa mobilitas pelajar harus mendapat perhatian serius. Penyediaan angkutan sekolah yang aman dapat menjadi salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan pelajar terhadap kendaraan pribadi,” ujar Djoko.

Program APA juga memberikan manfaat langsung bagi pengemudi angkutan pedesaan. Setiap pengemudi yang menjalankan layanan tersebut memperoleh insentif sebesar Rp135.000 per hari.

Layanan beroperasi selama lima hari kerja, Senin hingga Jumat, atau sekitar 24–26 hari sekolah setiap bulan.

Pada 2025, pengemudi program APA berada di bawah tiga koperasi, yakni Koperasi Mekar Abadi Sentosa, Koperasi Rukun Mulyo, dan Koperasi Karter.

Memasuki 2026, terdapat tambahan operator baru, yakni Koperasi Sekar Langit Raharja. Dengan demikian, empat dari enam koperasi angkutan yang ada di Kabupaten Magelang telah menjadi operator angkutan pelajar.

Enam koperasi tersebut secara keseluruhan mengoperasikan sekitar 587 armada untuk layanan angkutan perdesaan dan perbatasan.

Program Angkutan Pelajar Aman mulai dijalankan pada pertengahan 2025 dengan tiga rute dan 15 armada. Pada tahap awal, program memperoleh dukungan dana CSR Bank Jateng sebesar Rp98 juta.

Program kemudian dilanjutkan hingga akhir 2025 melalui pembiayaan APBD Kabupaten Magelang sebesar Rp772 juta. Jumlah layanan diperluas menjadi sembilan rute dengan 59 armada.

Pada 2026, pemerintah kembali memperluas cakupan program menjadi 12 rute dengan 78 armada dan anggaran sekitar Rp2,4 miliar.

Pengembangan program dirancang secara bertahap. Pada 2027 ditargetkan mencapai 17 rute dengan 103 armada dan anggaran Rp3,8 miliar.

Kemudian pada 2028 ditargetkan 22 rute dengan 128 armada dan anggaran Rp5,2 miliar. Pada 2029 cakupan ditargetkan menjadi 27 rute dengan 153 armada dan anggaran Rp6,8 miliar.

Adapun pada 2030, program diproyeksikan mencapai 29 rute dengan 178 armada dan kebutuhan anggaran sekitar Rp8 miliar.

Evaluasi Laboratorium Transportasi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata pada 2026 menunjukkan program APA mendapat respons positif dari berbagai pihak.

Dari sisi pengemudi, mekanisme pencairan insentif dinilai sangat baik. Sebanyak 100 persen responden menyatakan pencairan berjalan tepat waktu.

Besaran insentif juga dinilai mampu menutup biaya operasional harian oleh mayoritas armada, yakni sekitar 83,33 persen.

Dari sisi pendapatan, sekitar 50 persen pengemudi memperoleh pendapatan bulanan pada kisaran Rp1 juta hingga Rp2,5 juta. Rata-rata pendapatan harian berada pada rentang Rp125.000–Rp135.000 atau sekitar Rp1,7 juta hingga Rp2,5 juta per bulan.

Namun, evaluasi juga menemukan persoalan yang perlu segera ditangani, terutama terkait kapasitas armada.

Dalam satu perjalanan, satu angkutan rata-rata membawa 17 anak. Padahal kapasitas resmi kendaraan hanya 12 penumpang.

Artinya, terjadi kelebihan kapasitas atau overcapacity pada sebagian besar operasional armada, dengan persentase mencapai 83,3 persen.

“Penambahan armada menjadi kebutuhan mendesak. Jangan sampai keberhasilan program justru menimbulkan persoalan baru karena jumlah siswa yang menggunakan layanan lebih besar dibandingkan kapasitas kendaraan,” kata Djoko.

Selain persoalan kapasitas, kondisi geografis dan waktu tempuh juga menjadi bagian evaluasi. Sekitar 66,67 persen rute melewati medan yang didominasi jalan datar dengan sebagian kontur naik-turun. Sementara efisiensi waktu tempuh 15–30 menit tercatat pada sekitar 75 persen rute.

Dari sisi aksesibilitas, mayoritas siswa berada cukup dekat dengan titik tunggu angkutan sekolah. Sekitar 26,6 persen siswa berada dalam jarak kurang dari satu kilometer.

Sebanyak 80 persen siswa yang berada pada kondisi tersebut memilih berjalan kaki menuju titik tunggu.

Dampaknya terhadap ketepatan waktu sekolah juga cukup positif. Sebanyak 87,10 persen siswa mengaku tidak pernah terlambat sampai sekolah.

Namun, kenyamanan layanan masih menjadi pekerjaan rumah. Sekitar 37 persen siswa mengaku kurang nyaman karena kondisi kendaraan yang berdesakan dan sikap pengemudi yang dinilai kurang ramah.

Meski demikian, waktu tunggu relatif singkat. Sekitar 53 persen siswa menyebut waktu tunggu berada pada kisaran 5–10 menit. Sebanyak 83 persen siswa juga menilai pelayanan sopir sudah baik.

Hal yang paling banyak diharapkan siswa adalah penambahan armada, yang disuarakan 50 persen responden. Mereka juga berharap layanan diperluas hingga Sabtu serta kualitas pelayanan dan keramahan pengemudi ditingkatkan.

Program APA juga memberikan dampak positif bagi keluarga siswa. Mayoritas orang tua penerima manfaat berasal dari kelompok penghasilan menengah ke bawah, dengan pendapatan sekitar Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan.

Kehadiran angkutan sekolah gratis membuat pengeluaran transportasi keluarga menjadi lebih ringan. Sebanyak 40 persen orang tua bahkan merasakan efisiensi pengeluaran transportasi hingga 41–50 persen.

Dari aspek waktu dan keamanan, seluruh responden orang tua atau 100 persen menyatakan program membantu mengurangi beban waktu untuk mengantar dan menjemput anak.

Mereka juga merasa lebih aman dan tenang ketika anak berangkat menggunakan transportasi publik.

Sebanyak 67 persen orang tua menilai penambahan armada menjadi kebutuhan penting. Mereka juga berharap layanan diperluas hingga hari Sabtu.

Salah satu keunggulan Program APA adalah kemampuannya menggabungkan kepentingan pendidikan dan transportasi publik.

Armada angkutan pedesaan yang sebelumnya menghadapi tantangan akibat menurunnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum tetap dapat beroperasi.

Kendaraan tidak sepenuhnya dialihkan menjadi angkutan khusus pelajar. Di luar jam antar-jemput sekolah, angdes tetap dapat melayani penumpang umum sesuai trayek.

Dengan skema tersebut, program APA memberikan kepastian pendapatan bagi pengemudi sekaligus membantu menjaga keberadaan angkutan pedesaan.

“Program seperti ini seharusnya dilihat sebagai kebijakan yang menghubungkan sektor pendidikan, keselamatan lalu lintas, dan transportasi publik. Pelajar mendapatkan akses perjalanan yang aman, orang tua terbantu, sementara angkutan pedesaan tetap memiliki ruang untuk bertahan,” tutur Djoko.

Program Angkutan Pelajar Aman di Kabupaten Magelang pada akhirnya menunjukkan bahwa transportasi gratis bagi pelajar bukan hanya persoalan ongkos perjalanan.

Jika dikelola secara konsisten, program tersebut dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan keselamatan siswa, mengurangi beban keluarga, sekaligus mempertahankan keberadaan angkutan umum di daerah.

Meski demikian, evaluasi menunjukkan perluasan armada, pengendalian kapasitas penumpang, peningkatan keramahan pengemudi, serta perluasan hari operasional menjadi sejumlah pekerjaan penting agar manfaat program dapat dirasakan lebih luas dan berkelanjutan.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Trem Listrik Bali Digadang Atasi Macet, Pakar Ingatkan 5 Tantangan Besar
Tol Jakarta–Cikampek Contraflow Lagi, Berlaku dari KM 21 hingga KM 23
Jutaan Warga Bergantung pada Ojol, Djoko Setijowarno: Pemerintah Harus Berbenah
Asap Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Citilink Paling Terdampak
DAMRI Bawa Bus Hidrogen ke Bandung, Intip Inovasi Transportasi Masa Depan
Puluhan Jam Menyusuri Sungai, Jalan Darat Mahakam Ulu Buka Harapan Baru
AirNav Indonesia dan Telkom University Kembangkan AI untuk Navigasi Penerbangan
Bukan Cuma Sepeda Motor, Kendaraan Roda Tiga Dinilai Punya Masa Depan di Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Trem Listrik Bali Digadang Atasi Macet, Pakar Ingatkan 5 Tantangan Besar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:13 WIB

Tol Jakarta–Cikampek Contraflow Lagi, Berlaku dari KM 21 hingga KM 23

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:44 WIB

Jutaan Warga Bergantung pada Ojol, Djoko Setijowarno: Pemerintah Harus Berbenah

Senin, 12 Oktober 2026 - 06:02 WIB

Asap Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Citilink Paling Terdampak

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:51 WIB

DAMRI Bawa Bus Hidrogen ke Bandung, Intip Inovasi Transportasi Masa Depan

Berita Terbaru