Abu Vulkanik Lewotolok Kembali Ganggu Penerbangan, Bandara Wunopito Ditutup

- Penulis

Jumat, 18 September 2026 - 11:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Aktivitas abu vulkanik Gunung Lewotolok kembali berdampak terhadap operasional penerbangan di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur.

AirNav Indonesia memperbarui informasi penutupan Bandara Wunopito (WATW), Lewoleba, menyusul masih terdeteksinya sebaran abu vulkanik di sekitar gunung tersebut.

Berdasarkan NOTAM C1196/26 yang menggantikan NOTAM C1188/26, Bandara Wunopito ditutup mulai Jumat, 18 September 2026 pukul 08.00 WITA hingga diperkirakan Sabtu, 19 September 2026 pukul 07.00 WITA.

Penutupan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi ruang udara di sekitar Gunung Lewotolok yang masih dipengaruhi aktivitas abu vulkanik. Kondisi tersebut menjadi perhatian dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional penerbangan di wilayah Lembata.

Berdasarkan ASHTAM VAWR9996, Gunung Lewotolok masih berada dalam status Orange Alert. Abu vulkanik terpantau hingga ketinggian FL060 dan bergerak ke arah barat laut (NW) dengan kecepatan sekitar 10 knot.

Pengamatan terakhir dalam ASHTAM tersebut dilakukan pada 17 September 2026 pukul 23.00 UTC. Dari pemantauan citra satelit, emisi abu vulkanik masih teridentifikasi meski dalam kondisi lemah.

Beberapa jam sebelumnya, ASHTAM VAWR9992 juga melaporkan keberadaan abu vulkanik Gunung Lewotolok hingga FL060 yang bergerak ke arah barat laut dengan kecepatan sekitar 5 knot. Emisi abu diperkirakan masih berlangsung.

Dalam ASHTAM VAWR9992, Bandara Wunopito disebut sebagai aerodrome terdekat dengan jarak sekitar 1 NM dari area yang diinformasikan. Sementara pada ASHTAM VAWR9996, Wunopito tercatat berada sekitar 5 NM dari area volcanic ash. Namun, ASHTAM VAWR9996 tidak mencatat adanya aerodrome yang terdampak.

Selain Lewotolok, aktivitas abu vulkanik juga terpantau di sejumlah gunung api lain di Indonesia.

Di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Gunung Dukono dilaporkan mengeluarkan abu vulkanik hingga FL070 yang bergerak ke arah timur laut (NE) dengan kecepatan sekitar 15 knot. Berdasarkan ASHTAM VAWR9997, Bandara Leo Wattimena (WAEW) tercatat sebagai aerodrome terdampak. Meski demikian, informasi tersebut tidak menetapkan penghentian operasional bandara.

Kondisi serupa juga terpantau di Gunung Semeru, Jawa Timur. ASHTAM VAWR9994 melaporkan abu vulkanik hingga FL150 yang bergerak ke arah timur dengan kecepatan mencapai 30 knot.

Bandara Noto Hadinegoro (WARE) tercatat dalam kategori aerodrome terdampak pada ASHTAM tersebut. Namun, informasi penerbangan itu tidak menyebut adanya penghentian operasional bandara.

Sementara itu, Gunung Ibu di Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, berdasarkan ASHTAM VAWR9995 dilaporkan memiliki sebaran abu vulkanik hingga FL080. Abu bergerak ke arah timur laut dengan kecepatan sekitar 15 knot.

Berbeda dengan kondisi di Gunung Dukono dan Semeru, ASHTAM VAWR9995 tidak mencatat adanya aerodrome yang terdampak aktivitas abu vulkanik Gunung Ibu.

AirNav Indonesia terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi ruang udara di sekitar gunung api melalui penerbitan dan pembaruan NOTAM serta ASHTAM.

Pemantauan mencakup perubahan ketinggian, arah dan kecepatan pergerakan abu vulkanik, serta potensi dampaknya terhadap aerodrome. Perubahan operasional penerbangan akan mengikuti perkembangan kondisi di lapangan dan informasi penerbangan terbaru yang diterbitkan.(***)

 

Berita Terkait

Trem Listrik Bali Digadang Atasi Macet, Pakar Ingatkan 5 Tantangan Besar
Tol Jakarta–Cikampek Contraflow Lagi, Berlaku dari KM 21 hingga KM 23
Jutaan Warga Bergantung pada Ojol, Djoko Setijowarno: Pemerintah Harus Berbenah
Asap Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Citilink Paling Terdampak
DAMRI Bawa Bus Hidrogen ke Bandung, Intip Inovasi Transportasi Masa Depan
Puluhan Jam Menyusuri Sungai, Jalan Darat Mahakam Ulu Buka Harapan Baru
AirNav Indonesia dan Telkom University Kembangkan AI untuk Navigasi Penerbangan
Bukan Cuma Sepeda Motor, Kendaraan Roda Tiga Dinilai Punya Masa Depan di Indonesia

Berita Terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 08:21 WIB

Trem Listrik Bali Digadang Atasi Macet, Pakar Ingatkan 5 Tantangan Besar

Rabu, 14 Oktober 2026 - 10:13 WIB

Tol Jakarta–Cikampek Contraflow Lagi, Berlaku dari KM 21 hingga KM 23

Senin, 12 Oktober 2026 - 07:44 WIB

Jutaan Warga Bergantung pada Ojol, Djoko Setijowarno: Pemerintah Harus Berbenah

Senin, 12 Oktober 2026 - 06:02 WIB

Asap Karhutla Ganggu 1.673 Penerbangan, Citilink Paling Terdampak

Minggu, 11 Oktober 2026 - 14:51 WIB

DAMRI Bawa Bus Hidrogen ke Bandung, Intip Inovasi Transportasi Masa Depan

Berita Terbaru