JAKARTA — Kekayaan budaya Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkuat pengaruh Indonesia di panggung dunia. Gagasan tersebut mengemuka dalam peluncuran gerakan Nusantara Rising: Indonesia Soft Power Initiative “Dari Budaya Jadi Daya” yang digagas Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.
Peluncuran tersebut digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian IdeaFest 2026. Acara ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan industri kreatif dengan membawa semangat untuk menjadikan kreativitas, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan sebagai kekuatan baru Indonesia.
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon yang hadir dalam agenda tersebut memberikan apresiasi terhadap inisiatif KADIN Indonesia. Menurutnya, gerakan Nusantara Rising sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang bertumpu pada kekayaan budaya nasional.
Fadli mengatakan, Indonesia memiliki modal budaya yang sangat besar. Keberagaman tersebut bukan hanya perlu dilestarikan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi sumber gagasan dan kekuatan ekonomi.
“Hal tersebut merupakan satu komitmen besar karena kita adalah negara yang sangat kuat secara budaya. Kita ini negara yang sebenarnya adalah super power di bidang kebudayaan,” ujar Fadli.
Ia menilai posisi Indonesia sebagai negara dengan mega cultural diversity memberikan peluang besar untuk mengembangkan berbagai ekspresi budaya menjadi sumber ekonomi baru.
“Indonesia adalah negara mega cultural diversity, dan begitu banyak ekspresi-ekspresi budaya yang berpotensi untuk menjadi sumber-sumber ide dan kemudian akan menjadi ekonomi budaya,” lanjutnya.
Fadli juga menyoroti perkembangan ekosistem budaya dan seni Indonesia dalam beberapa tahun terakhir yang menunjukkan tren positif.
Di bidang seni, Kementerian Kebudayaan saat ini tengah membangun lima ekosistem melalui program Manajemen Talenta Nasional, yakni seni pertunjukan, sastra, film, musik, dan seni rupa.
Menurut Fadli, pembangunan ekosistem tersebut penting agar talenta dan karya kreatif Indonesia tidak hanya berkembang di dalam negeri, tetapi juga mampu memperoleh pengakuan di tingkat internasional.
Salah satu sektor yang dinilai menunjukkan perkembangan signifikan adalah industri film nasional.
“Secara domestik, perkembangan film Indonesia kini luar biasa bagus, market share di film Indonesia sebanyak 67 persen,” kata Fadli.
Kementerian Kebudayaan, lanjutnya, juga terus mendorong sineas Indonesia untuk tampil di berbagai festival film internasional sebagai bagian dari upaya memperluas rekognisi terhadap karya-karya nasional.
“Kementerian Kebudayaan sangat aktif mengirim para sineas Indonesia ke festival-festival film internasional untuk mendapatkan rekognisi internasional,” ujarnya.
Tak hanya film, industri musik juga disebut memiliki basis pasar yang kuat. Fadli menyebut sebagian besar masyarakat Indonesia mendengarkan karya musisi dalam negeri.
“Musik Indonesia juga punya potensi yang sangat besar. Bahkan kalau kita lihat, 80 persen orang Indonesia mendengarkan musik Indonesia. Artinya, para musisi kita sudah menghasilkan karya-karya yang sangat digemari,” tuturnya.
Melihat potensi tersebut, Fadli mendorong adanya kolaborasi hexahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, media, serta mitra global.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor dibutuhkan agar kekayaan budaya tidak berhenti sebagai warisan yang hanya dijaga, tetapi dapat dikembangkan menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.
“Modal besar” berupa kekayaan budaya Indonesia, kata Fadli, harus mampu diolah menjadi engine of growth atau motor penggerak pertumbuhan ekonomi.
Ia pun optimistis gerakan Nusantara Rising dapat mempercepat perubahan cara pandang terhadap budaya, dari sekadar aset pelestarian menjadi sumber strategis ekonomi kreatif sekaligus instrumen diplomasi budaya Indonesia.
Melalui konsep tersebut, budaya diharapkan mampu memperkuat soft power Indonesia, yakni kemampuan suatu negara membangun pengaruh global melalui daya tarik budaya, kreativitas, nilai, dan identitas nasional.
Sejalan dengan Fadli Zon, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya turut memaparkan strategi pemerintah dalam mengembangkan potensi budaya, talenta, dan kreativitas Indonesia.
Menurutnya, kekayaan tersebut perlu diorkestrasi agar mampu menjadi kekuatan ekonomi sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang memiliki pengaruh melalui sektor kreatif dan budaya.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Rahayu Saraswati menekankan pentingnya menjadikan kekayaan budaya Indonesia sebagai kekuatan ekonomi global melalui pendekatan soft power.
Peluncuran Nusantara Rising menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, legislatif, dan pelaku industri kreatif untuk mendorong budaya Indonesia naik kelas.
Sejumlah pejabat Kabinet Merah Putih turut hadir dalam agenda tersebut, di antaranya Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya dan Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan.
Dari jajaran KADIN Indonesia, hadir Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia Rahayu Saraswati; Wakil Ketua Umum KADIN bidang Pembangunan Manusia, Kebudayaan dan Pembangunan Berkelanjutan Shinta Kamdani; serta Ketua Komite Tetap Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan KADIN Indonesia Ivan Chen.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon, Staf Ahli Menteri bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya, Direktur Film, Musik, dan Seni Irini Dewi Wanti, serta Direktur Kerja Sama Kebudayaan Mardisontori.
Fadli berharap gerakan Nusantara Rising tidak berhenti sebagai sebuah gagasan, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama yang mampu membangun ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya secara konkret.
Ia ingin paradigma terhadap budaya berubah. Budaya tidak seharusnya hanya dipandang sebagai biaya yang harus ditanggung negara, melainkan sebagai investasi yang dapat menghasilkan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.
“Mudah-mudahan melalui gerakan ini, kebudayaan bisa memasuki tahap baru yang lebih konkret. Kita bisa membangun ekosistem yang lebih maju,” ujar Fadli.
Dengan ekosistem yang semakin kuat, ia berharap kekayaan budaya Indonesia dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di tingkat global.
“Sehingga kebudayaan bukan menjadi beban atau cost center, tapi justru menjadi investasi yang sirkular dan berkelanjutan,” pungkasnya.
Penulis : amanda az
Editor : reni diana






