LUMAJANG – Pergantian kepemimpinan menjadi salah satu agenda penting dalam perjalanan organisasi. Hal itu pula yang dilakukan Dewan Pimpinan Komisariat (DPK) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Institut Teknologi dan Bisnis Widya Gama Lumajang melalui Musyawarah Komisariat (Muskom), Senin (24/8/2026).
Muskom digelar di KopiBang, Jogoyudan, Lumajang, dan diikuti perwakilan Pengurus Cabang GMNI Kota Lumajang, jajaran DPK, serta kader GMNI Komisariat ITB Widya Gama Lumajang.
Forum tertinggi di tingkat komisariat tersebut menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus menentukan arah kepemimpinan dan program kerja ke depan.
Sejumlah agenda dibahas dalam Muskom, mulai dari laporan pertanggungjawaban pengurus periode sebelumnya, Garis-Garis Besar Haluan Organisasi (GBHO), hasil sidang komisi, rekomendasi strategis, hingga pemilihan Ketua dan Sekretaris Komisariat.
Ketua Komisariat GMNI ITB Widya Gama Lumajang periode 2024–2026, Ilham Akbar Deo Yoga Andreansyah, mengatakan Muskom bukan sekadar agenda pergantian kepengurusan. Menurutnya, forum tersebut harus menjadi ruang evaluasi sekaligus pijakan untuk memperkuat organisasi.
“Muskom kali ini jangan hanya menjadi rutinitas seremonial, tetapi harus benar-benar menghasilkan gagasan segar, kepemimpinan yang progresif, dan semangat juang baru,” ujar Ilham, yang akrab disapa Bung Lemo.
Ia berharap kepengurusan berikutnya mampu melanjutkan proses kaderisasi secara lebih kuat dan melahirkan kader yang berani menyampaikan sikap, kritis terhadap berbagai bentuk ketidakadilan, serta tetap berpegang pada nilai-nilai Marhaenisme.
“Kami berharap lahir generasi penerus yang berani bersuara, kritis terhadap ketidakadilan, serta konsisten menghidupi ideologi Marhaenisme di tengah gempuran era post-modern,” katanya.
Dalam Muskom tersebut, Muhammad Rizal terpilih sebagai Ketua Komisariat GMNI ITB Widya Gama Lumajang. Ia menegaskan komitmennya membawa organisasi menjadi ruang kaderisasi yang progresif, revolusioner, dan berjiwa Marhaenis.
Rizal mengatakan arah kepemimpinan yang akan dibangunnya tetap berpijak pada ideologi Marhaenisme dan garis perjuangan GMNI, terutama dalam mendorong terwujudnya Indonesia yang berdaulat secara politik, berdikari secara ekonomi, serta berkepribadian dalam bidang kebudayaan.
“Fokus utama kami adalah membentuk kader yang tidak hanya menjadi anggota organisasi semata, tetapi juga menjadi pejuang pemikir dan pemikir pejuang,” ujar Rizal.
Menurutnya, kader GMNI harus memiliki semangat juang, kesadaran kritis, sekaligus tanggung jawab sosial. Karena itu, penguatan kaderisasi akan menjadi salah satu perhatian utama dalam menjalankan roda organisasi.
“Mereka harus memiliki semangat juang tinggi, kesadaran diri yang tajam, serta tanggung jawab sosial yang besar,” jelasnya.
Rizal juga menekankan pentingnya keberpihakan organisasi terhadap masyarakat, khususnya rakyat kecil dan kaum Marhaen. Ia menyebut advokasi terhadap persoalan rakyat harus menjadi bagian dari gerakan kader GMNI.
“Kami akan berupaya melahirkan generasi yang aktif dalam advokasi rakyat kecil dan kaum Marhaen. Keberpihakan kepada rakyat menjadi pijakan utama dalam setiap gerakan dan pemikiran yang dibangun oleh kader-kader GMNI,” tegasnya.
Ia menambahkan, keberpihakan tersebut merupakan bagian dari amanat ideologis Marhaenisme yang menempatkan masyarakat tertindas sebagai bagian penting dalam perjuangan.
“Ini merupakan bagian dari amanat ideologis Marhaenisme yang menempatkan kaum tertindas sebagai subjek utama perjuangan. Kami ingin memastikan setiap kader GMNI mampu menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat,” pungkas Rizal.
Hasil Muskom diharapkan tidak hanya menghasilkan kepemimpinan baru, tetapi juga memperkuat kaderisasi, meningkatkan efektivitas kerja organisasi, serta menjaga kesinambungan perjuangan GMNI Komisariat ITB Widya Gama Lumajang.
Penulis : ndy
Editor : yp






