Isra’ Mi’raj adalah salah satu peristiwa monumental dalam sejarah Islam yang diperingati setiap tanggal 27 Rajab. Pada tahun 2025, peristiwa ini jatuh pada 27 Januari. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Isra’ Mi’raj diartikan sebagai perjalanan suci Nabi Muhammad SAW yang penuh makna dan pelajaran.
Peristiwa ini terjadi pada masa akhir kenabian di Mekah sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah. Mayoritas ulama, termasuk al-Maududi, berpendapat bahwa Isra’ Mi’raj berlangsung pada tahun 620-621 M, setahun sebelum hijrah. Namun, pendapat populer lainnya adalah bahwa peristiwa ini terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-10 kenabian, sebagaimana disebutkan oleh al-Allamah al-Manshurfuri.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Isra’ [17]: 1).
Isra’ Mi’raj Perspektif Sains
Perjalanan ini sering dikaitkan dengan konsep fisika modern. Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika BRIN, Thomas Djamaluddin, menyatakan bahwa Isra’ Mi’raj adalah perjalanan melampaui dimensi ruang dan waktu. Menurutnya, perjalanan ini bukan menggunakan wahana antariksa atau menempuh jalur fisik biasa. “Dengan buraq, Rasulullah SAW keluar dari dimensi waktu dan ruang. Pertemuan di langit menggambarkan bahwa Rasul tidak lagi terikat oleh waktu,” ungkap Thomas.
Pendapat serupa diutarakan oleh Prof. Agus Purwanto. Ia menjelaskan bahwa peristiwa ini tidak dapat dijelaskan dengan Teori Relativitas Khusus yang berbasis kecepatan cahaya, melainkan membutuhkan Teori Relativitas Umum. “Mi’raj ini menembus dimensi ruang menuju ke dimensi yang lebih tinggi, immaterial, atau gaib,” jelasnya.
Fakta menarik dari peristiwa Isra’ Mi’raj ini adalah bahwa jarak antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa mencapai 767 mil jika dilakukan pencarian melalui https://www.google.comcom/maps/ Google Earth. Hal yang mengejutkan disini adalah Jarak lokasi antara Masjidil Haram-Masjidil Aqsa ternyata sesuai dengan Al-Qur’an. Kata Masjidil Haram sebelum disebut dalam Surat Al Isra tercatat dalam Surat At Taubah ayat 28. Melihat jarak antara Surat At Taubah ayat 28 menuju Surat Al Isra ayat 1, jaraknya adalah sekitar 767 ayat. Fakta ini menunjukkan keselarasan luar biasa antara Al-Qur’an dan realitas empiris.
Hikmah dan Pelajaran Isra’ Mi’raj
Isra’ Mi’raj membawa pesan mendalam bagi umat Islam, terutama terkait kewajiban shalat lima waktu. Shalat menjadi inti dari peristiwa ini, sebagaimana disebutkan oleh Seyyed Hossein Nasr dalam Muhammad Kekasih Allah. “Shalat adalah bentuk mi’raj harian bagi umat Islam,” tulisnya.
Perjalanan ini diawali dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra’), dan dilanjutkan ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh (Mi’raj). Dalam Mi’raj, Nabi Muhammad bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, seperti Nabi Adam AS di langit pertama, Nabi Musa AS di langit keenam, hingga Nabi Ibrahim AS di langit ketujuh. Nabi juga menyaksikan berbagai peristiwa simbolis, seperti kaum yang kepala mereka pecah berulang kali. “Mereka adalah orang yang malas melaksanakan shalat fardu,” jelas Malaikat Jibril.
Ada pula kaum yang memilih daging busuk daripada daging matang. “Itu adalah gambaran orang yang berselingkuh,” ungkap Jibril. Semua peristiwa ini mengingatkan pentingnya menjauhi dosa dan memperbaiki diri.
Isra’ Mi’raj juga mengajarkan umat Islam untuk lebih memahami kebesaran Allah SWT. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 1, Nabi Muhammad SAW disebut sebagai “abdun” (hamba), menunjukkan bahwa kehambaan sejati kepada Allah membawa derajat tertinggi di sisi-Nya.
Selain itu, peristiwa ini juga menegaskan pentingnya kebersihan jiwa. Sebelum perjalanan, dada Nabi Muhammad SAW dibelah dan hatinya dicuci dengan air zam-zam. “Lalu hatiku dikeluarkan, dicuci, dan diisi dengan iman dan hikmah,” sabda Rasulullah SAW (HR Bukhari).
Kesimpulan
Isra’ Mi’raj bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan spiritual yang penuh hikmah. Peristiwa ini memperkokoh keimanan dan menegaskan pentingnya shalat sebagai bentuk komunikasi langsung dengan Allah. Sebagaimana sabda Nabi, “Segala penghormatan, kemuliaan, dan keagungan hanyalah milik Allah.” Mari kita jadikan peringatan Isra’ Mi’raj sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan semakin mendekatkan diri kepada-Nya. (RKL)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Erka






