RENTAK.ID – Konflik berkepanjangan antara Israel dan Palestina di Jalur Gaza telah menjadi bagian dari ketegangan politik dan kemanusiaan selama puluhan tahun. Sejarah konflik ini bermula sejak Israel menduduki Gaza usai Perang Enam Hari pada 1967, yang kemudian berlanjut dengan eskalasi serangan militer hingga hari ini.
Pada Rabu (15/1), mediator dari Qatar berhasil mencapai kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas. Menurut Sheikh Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim al-Thani, Perdana Menteri Qatar, kesepakatan ini akan mulai berlaku pada 19 Januari 2025. Dalam konferensi pers di Doha, ia menyatakan, “Kami berharap ini menjadi awal dari perdamaian yang lebih besar. Gencatan senjata ini mencerminkan komitmen semua pihak untuk menghentikan penderitaan warga Gaza.”
Tiga Fase Gencatan Senjata
Gencatan senjata ini dirancang dalam tiga tahap:
- Fase Pertama: Selama 42 hari awal, 33 sandera yang ditawan dalam serangan Hamas pada Oktober 2023, termasuk perempuan, anak-anak, dan lansia, akan dibebaskan. Pasukan Israel juga mulai ditarik dari wilayah berpenduduk di Gaza. Joe Biden, Presiden AS, menyebut kesepakatan ini sebagai “langkah besar menuju perdamaian.” Dalam pernyataannya, Biden mengatakan, “Warga Gaza yang telah lama terpaksa meninggalkan rumah mereka kini dapat kembali ke lingkungan masing-masing.”
- Fase Kedua: Menurut Biden, tahap ini disebut sebagai “fase akhir perang.” Sandera pria yang tersisa akan dibebaskan sebagai imbalan atas pembebasan lebih banyak tahanan Palestina. Sebanyak 190 tahanan Palestina yang telah dipenjara selama lebih dari 15 tahun diharapkan termasuk dalam kesepakatan ini.
- Fase Ketiga: Tahap terakhir akan fokus pada rekonstruksi Gaza yang telah hancur akibat konflik berkepanjangan. Selain itu, jenazah sandera yang meninggal akan dipulangkan ke keluarga mereka. Biden menambahkan, “Kami akan memastikan bantuan kemanusiaan mencapai Gaza, dan masyarakat internasional akan mendukung pembangunan kembali wilayah ini.”
Dukungan dan Kritik Internasional
Presiden AS Joe Biden dan para pemimpin dunia menyambut baik kesepakatan ini. “Ini adalah langkah awal menuju keadilan dan kedamaian yang telah lama dinantikan,” ujar Biden. Di sisi lain, mantan Presiden Donald Trump mengklaim memiliki peran tidak langsung dalam tercapainya gencatan senjata ini. Melalui Truth Social, Trump menulis, “Gencatan senjata ini adalah bukti dari pengaruh besar kemenangan kita di November lalu.”
Namun, Arab Saudi tetap mengkritik keras tindakan Israel. Dalam pertemuan Liga Arab pada November 2024, Riyadh menuduh Israel melakukan genosida terhadap warga Gaza. “Kami tidak akan tinggal diam melihat rakyat Palestina diperlakukan seperti ini,” tegas seorang diplomat Saudi.
Harapan Baru atau Sekadar Janji?
Dengan lebih dari 46.000 warga Palestina tewas dan jutaan lainnya terlantar, gencatan senjata ini membawa harapan baru bagi penduduk Gaza. Namun, banyak pihak skeptis terhadap keberlanjutan perdamaian ini, mengingat sejarah panjang konflik yang kerap berakhir dengan kegagalan. Pejabat Palestina memperingatkan bahwa perundingan tahap kedua dan ketiga akan menjadi ujian sejati untuk komitmen semua pihak.
Apakah ini langkah nyata menuju perdamaian, atau hanya jeda sementara dalam konflik yang tak kunjung usai? Waktu yang akan menjawab. (Rahmat Kurnia Lubis)






