Jerman Krisis Tenaga Kerja, Kementerian P2MI Fokuskan Sektor Hospitality dan Konstruksi

- Penulis

Rabu, 13 November 2024 - 09:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, saat menghadiri acara Joint Committee Meeting (JCM) 2024 Program Triple Win Skema G to G di Hotel Manhattan, Jakarta. (lazir)

Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, saat menghadiri acara Joint Committee Meeting (JCM) 2024 Program Triple Win Skema G to G di Hotel Manhattan, Jakarta. (lazir)

JAKARTA – Kementerian Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) menegaskan bahwa Pemerintah Jerman saat ini sangat membutuhkan tenaga kerja asing.

Termasuk dari Indonesia, untuk sektor perawat, hospitality, dan konstruksi. Hingga kini, P2MI telah berhasil mengirimkan sebanyak 196 Pekerja Migran Indonesia (PMI) untuk bekerja di sektor perawat di Jerman.

“Tahun ini, target kami adalah mengirim sekitar 300 PMI ke Jerman khusus untuk sektor perawat. Berdasarkan informasi dari Kedutaan Besar Jerman di Indonesia, kebutuhan akan tenaga kerja profesional di bidang perawat, hospitality, dan konstruksi sangat tinggi,” ujar Wakil Menteri P2MI, Dzulfikar Ahmad Tawalla, saat menghadiri acara Joint Committee Meeting (JCM) 2024 Program Triple Win Skema G to G di Hotel Manhattan, Jakarta, Selasa (12/11/2024).

Wamen Dzulfikar menjelaskan bahwa PMI sektor perawat yang dikirim ke Jerman memiliki kualifikasi pendidikan minimal Diploma 3.

“Kami mengirim tenaga perawat yang sudah berpendidikan D3, D4, hingga S1 dan S2. Selain itu, mereka harus memiliki kemampuan bahasa Jerman karena kebanyakan pasien di sana adalah warga lokal,” kata Dzulfikar.

Namun, persyaratan bahasa Jerman menjadi tantangan besar bagi para calon PMI. Menurut Dzulfikar, calon pekerja migran diwajibkan mengikuti pelatihan bahasa Jerman selama 9 bulan, yang terkadang sulit dipenuhi.

“Dari informasi yang kami terima, Jerman sangat membutuhkan tenaga kerja. Maka kami berharap bisa ada relaksasi dalam durasi pembelajaran bahasa. Jika memungkinkan, pembelajaran cukup selama 6 bulan, lalu setibanya di Jerman mereka bisa melanjutkan penyetaraan bahasa di sana,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dzulfikar berharap agar lembaga pendidikan keperawatan di Indonesia bisa memasukkan mata kuliah bahasa Jerman ke dalam kurikulum.

“Jerman sangat terbuka bagi kita, hanya saja kita perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang siap. Saya berharap lembaga pendidikan di bidang keperawatan mulai mempertimbangkan untuk mengintegrasikan pendidikan bahasa Jerman. Dengan begitu, ketika lulusan siap bekerja, proses pengiriman tenaga kerja akan lebih cepat,” ujarnya.

Dzulfikar pun menyatakan keyakinannya terhadap kemampuan teknis para tenaga kerja Indonesia. “Secara teknis, saya sangat percaya dengan kualitas SDM kita. Persoalannya sekarang adalah bagaimana mempercepat kemampuan bahasa mereka,” tambahnya.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Thomas Graf, menyampaikan apresiasinya terhadap kompetensi dan etos kerja pekerja migran Indonesia.

Menurut Thomas, PMI di Jerman memiliki kompetensi dan etos kerja yang tinggi, bahkan di atas rata-rata pekerja dari negara lain.

“Kekurangan tenaga kerja di Jerman tidak hanya di sektor kesehatan. Semangat kerja sama bilateral Jerman dan Indonesia akan kami manfaatkan untuk memperluas kesempatan kerja di sektor lain, seperti manufaktur dan hospitality,” tutup Thomas. ***

Berita Terkait

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Bekasi
LRT Jabodebek Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Nikmati Perjalanan Kereta, Perkuat Layanan Transportasi yang Inklusif
Mengapa Nyamuk Mengisap Darah Manusia, Ternyata Ada Hikmah dan Fakta Sains yang Menarik

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Kamis, 10 September 2026 - 15:36 WIB

TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:42 WIB

GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:43 WIB

AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali

Berita Terbaru