Stabilitas Harga Bahan Pokok Dalam Sorotan Atikoh Ganjar Saat Blusukan di Pasar Rau

- Penulis

Senin, 11 Desember 2023 - 13:17 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Siti Atiloh saat blusukan di pasar

Siti Atiloh saat blusukan di pasar

RENTAK.ID, SERANG – Siti Atikoh Suprianti, istri dari calon presiden nomor urut 3 Ganjar Pranowo, menyoroti pentingnya kestabilan harga kebutuhan bahan pokok agar tidak merugikan petani saat harga rendah dan merugikan konsumen saat harga melambung. Hal tersebut disampaikan Atikoh setelah melakukan blusukan untuk memantau harga kebutuhan pokok di Pasar Rau, Jalan Kyai H. Abdul Latif, Cimuncang, Kota Serang, Banten pada Senin (11/12/2023).

“Atas hal ini, petani menjadi senang saat harga cabai tinggi, tetapi konsumen menjadi kasihan. Oleh karena itu, harus ada intervensi dari pemerintah saat harga hasil petani rendah agar bisa disimpan dan kemudian dikeluarkan saat harga sedang tinggi,” ujar Atikoh menjawab media pada hari tersebut.

Atikoh juga mencontohkan ketidakstabilan harga yang merugikan dalam komoditas bawang merah. Sebelumnya, harga bawang merah pada musim sebelumnya bulan September mencapai Rp 18 ribu, tetapi dijual hanya mencapai Rp8 ribu. “Tetapi ketika harga bawang merah tinggi, petani justru menguntungkan, namun konsumennya kasihan. Oleh karena itu, dua-duanya harus saling menguntungkan. Jika harga bahan pokok stabil, maka ini akan menguntungkan bagi semua orang,” jelas Atikoh.

Diketahui, Atikoh melakukan blusukan di Pasar Rau pada pukul 07.50 WIB, dan langsung mendatangi para pedagang yang menjajakan dagangannya. Atikoh juga melakukan dialog dengan para pedagang, seperti pedagang cabai.

“Ini cabai sekarang berapa harganya perkilo?,” tanya Atikoh.

“Harganya sekarang Rp 100 ribu perkilogram bu,” jawab salah satu pedang cabai.

Atikoh kemudian mengatakan bahwa harga cabai di Pasar Rau berbeda dari tempat lain yang pernah ia kunjungi sebelumnya, seperti pasar di Yogyakarta yang pada saat itu sedang tinggi mencapai Rp 130 ribu perkilogram.

“Kemarin (harga) bisa sampai Rp130 ribu perkilogram,” tambah Atikoh.

Berita Terkait

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Bekasi
LRT Jabodebek Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Nikmati Perjalanan Kereta, Perkuat Layanan Transportasi yang Inklusif
Mengapa Nyamuk Mengisap Darah Manusia, Ternyata Ada Hikmah dan Fakta Sains yang Menarik

Berita Terkait

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Kamis, 10 September 2026 - 15:36 WIB

TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:42 WIB

GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau

Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:43 WIB

AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali

Berita Terbaru