JAKARTA – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah perkotaan di Pulau Jawa, khususnya Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), kian menimbulkan keresahan warga. Dalam sepekan terakhir, matahari nyaris tak muncul secara utuh. Langit mendung, hujan turun bergantian, lalu awan kembali menutup sinar matahari, menciptakan suasana lembap berkepanjangan di kawasan padat penduduk.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam prakiraan cuaca Kamis (22/1/2026) menyebutkan, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi di DKI Jakarta dan sebagian besar wilayah Jawa. Kondisi ini dipicu oleh aktivitas atmosfer yang masih aktif, termasuk pertumbuhan awan hujan yang signifikan di wilayah barat dan tengah Indonesia.
BMKG juga mengingatkan adanya potensi hujan lebat disertai angin kencang pada waktu-waktu tertentu, terutama pada siang hingga malam hari. Masyarakat diimbau waspada terhadap dampak lanjutan seperti banjir, genangan, dan gangguan aktivitas harian, khususnya di kawasan perkotaan dengan sistem drainase yang terbatas.
Matahari Menghilang, Kecemasan Warga Meningkat
Kondisi cuaca yang tak kunjung membaik ini dirasakan langsung oleh warga. Bukan sekadar soal pakaian yang sulit kering atau perjalanan yang terhambat, melainkan kekhawatiran akan dampak kesehatan dan keselamatan.
Warga Jakarta dan sekitarnya atau Jabodetabek mulai resah akibat selama tujuh hari tidak ada matahari terbit secara konsisten. Berhenti sebentar, ada matahari sebentar, kemudian ditutup oleh awan. Hal ini membuat warga mulai cemas, tidak mempersoalkan soal pakaian yang tidak kering atau anak mengantar ke sekolah, tapi takutnya berbagai penyakit akan timbul.
Kelembapan udara yang tinggi dan minimnya sinar matahari dinilai dapat memicu gangguan kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Kecemasan itu dirasakan Ibu Hani (54), warga Jakarta Timur. Ia mengaku mulai merasakan ketakutan akan munculnya penyakit akibat cuaca yang tidak menentu.
“Saya merasakan ketakutan adanya hawa-hawa penyakit. Selain itu saya juga mengkhawatirkan banjir. Banjir di Jabodetabek itu sudah mengkhawatirkan karena air yang datang dari Bogor kena hujan serentak membuat warga makin ketakutan,” kata Ibu Hani, Kamis (22/1/2026)
Menurutnya, hujan yang turun merata di wilayah hulu dan hilir membuat potensi banjir kiriman semakin besar. Warga yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rawan genangan pun mulai bersiaga.
Mata Pencaharian Terganggu
Cuaca ekstrem juga berdampak langsung pada aktivitas ekonomi masyarakat perkotaan. Sejumlah sektor informal merasakan penurunan pendapatan akibat hujan yang datang hampir setiap hari.
“Selain itu juga, warga mulai merasa kecemasan dikarenakan mata pencarian mereka mulai terganggu. Misalnya, tukang ojek, pedagang, dan banyak hal lain yang terganggu aktivitasnya selama hujan,” lanjut Ibu Hani.
BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin memantau informasi cuaca terkini, menghindari aktivitas luar ruang saat hujan lebat, serta meningkatkan kewaspadaan di wilayah rawan banjir dan genangan.
Penulis : lazir
Editor : ameri













