Perjalanan Solo H. Amsyal: Menikmati Pesona Alam Sumatera Barat Seperti di Swiss

- Penulis

Rabu, 15 Oktober 2025 - 05:20 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

H. Amsyal saat perjalanan solo ke Sumbar. (dok. pribadi)

H. Amsyal saat perjalanan solo ke Sumbar. (dok. pribadi)

MEDAN – Mengendarai motor sendirian melintasi jalan-jalan berliku Sumatera Barat menjadi pengalaman tak terlupakan bagi H. Amsyal, seorang pegiat touring asal Medan.

Perjalanan dimulai pada 5 Oktober 2025 dari Medan dan berakhir kembali di kota yang sama pada 11 Oktober 2025 itu membawanya menjelajahi berbagai destinasi wisata alam nan memesona.

Rute yang ditempuh cukup panjang: Medan – Bukittinggi – Danau Singkarak – Solok – Aia Angek Gunung Kili – Danau Kembar (Danau Di Ateh dan Danau Di Bawah) – Alahan Panjang – Sitinjau Lauik – Jembatan Siti Nurbaya – Pantai Taplau Padang – Pantai Gandoriah Pariaman – Danau Maninjau – Bukittinggi – Medan.

“Saya sengaja perjalanan sendirian supaya bisa menikmati setiap destinasi tanpa terburu-buru,” ujar H. Amsyal, Rabu (15/10/2025)

“Kalau ramai-ramai, biasanya banyak kompromi dan tidak bisa benar-benar menikmati suasana alam dan masyarakat setempat.”

Menjelajah Alam dan Budaya Minang

Menurut H. Amsyal, jalanan di wilayah Sumatera Barat relatif bagus dan aman untuk touring, terutama di sekitar Danau Singkarak.

“Jalannya mulus, tapi tetap harus hati-hati karena banyak tikungan tajam dan pemandangan indah yang bikin mata teralihkan,” katanya sambil tertawa.

Setelah dua hari perjalanan, ia berhenti di Pemandian Air Panas Aia Angek Gunung Kili di Kabupaten Solok. Dengan tiket masuk hanya Rp5.000, pengunjung sudah bisa menikmati air panas alami dan parkir gratis.

“Lokasinya nyaman, ada masjid yang bersih dan indah untuk shalat subuh sebelum lanjut jalan,” ujarnya.

Ia juga menginap di penginapan sekitar lokasi pemandian dengan tarif Rp150.000 per malam.

“Pelayanannya ramah, tempatnya bersih, dan harganya jauh lebih murah dibanding pemandian Sidebuk-debuk di Karo, Sumatera Utara,” jelasnya.

Menikmati “Swiss-nya Sumatera Barat” di Alahan Panjang

Perjalanan berlanjut ke Alahan Panjang, yang terkenal dengan sebutan Swiss-nya Sumatera Barat. Terletak di ketinggian 1.560 meter di atas permukaan laut, kawasan ini menawarkan udara sejuk dengan suhu siang hari sekitar 21°C dan malam hari 17°C.

“Benar kata orang, Alahan Panjang itu kota dingin tanpa salju. Pemandangannya luar biasa, apalagi di tepi Danau Di Ateh,” ujar H. Amsyal kagum.

Dengan tiket Rp10.000 per orang, wisatawan sudah bisa menikmati panorama seperti di Eropa.

Dari Alahan Panjang, ia melanjutkan perjalanan ke Kota Padang. Setelah bermalam, ia melakukan city tour ke Jembatan Siti Nurbaya, Pantai Air Manis (lokasi legenda Malin Kundang), Pantai Taplau, dan Pantai Gandoriah Pariaman.

“Pantai Gandoriah sangat bersih dan terawat. Biaya masuknya gratis di hari biasa, dan hanya Rp10.000 di akhir pekan. Ini patut dicontoh oleh daerah wisata lain,” katanya sambil mengutip pernyataan Wali Kota Pariaman, Yota Balad, S.STP., M.Si., yang ditemuinya di lokasi.

Singgah di Kampung Halaman dan Bertemu Komunitas Touring

Setelah dari Padang, H. Amsyal melanjutkan perjalanan ke Lubuk Basung, Kabupaten Agam, dan bermalam di rumah rekannya, Om Eppi, anggota Touring Motor Indonesia Regional Sumbar.

Keesokan harinya, ia menyempatkan servis motor sebelum menuju Desa Bayur, Danau Maninjau, kampung halamannya yang sudah lama tak ia kunjungi.

Perjalanan diakhiri dengan bermalam di Bukittinggi sebelum kembali ke Medan.

“Yang paling berkesan itu keramahan masyarakat Sumatera Barat dan murahnya biaya wisata. Belum lagi kuliner Minangnya, enak dan terjangkau,” ujarnya dengan senyum puas.

Ia juga mengaku senang bisa bergabung dalam kopdar Touring Motor Indonesia Regional Sumbar, tempat ia bertemu banyak rekan baru sesama pecinta touring.

“Touring bukan hanya soal perjalanan, tapi juga tentang persaudaraan dan bagaimana kita menghargai setiap tempat yang kita lewati,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

MotoGP Mandalika 2026 Tembus 150 Ribu Penonton, Dampak Ekonomi Capai Rp5 Triliun
Bukan Sekadar Ritual, Tawur Agung di Batur Jadi Cermin Pariwisata Budaya Bali
143 Peserta JWB 2026 Sambangi Berastagi, Potensi Wisata Karo Jadi Sorotan
JWB ke-4 Buka Peluang Bisnis Wisata Medan dan Karo, Owner Widy Holidays: Dampaknya Sangat Bagus
WIG 2026 di Yogyakarta: Kuliner Nusantara Didorong Jadi Penggerak Pariwisata dan Ekonomi
Bantuan Rp1 Miliar Digelontorkan untuk Pulihkan Ekonomi Warga Sade Pascakebakaran
Indonesia Tourism Outlook 2026/2027 Diluncurkan, Ini Arah Baru Pariwisata Indonesia
Kuliner Indonesia Dibawa ke Panggung Dunia, WIG 2026 Resmi Dibuka di Solo

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 04:54 WIB

MotoGP Mandalika 2026 Tembus 150 Ribu Penonton, Dampak Ekonomi Capai Rp5 Triliun

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:31 WIB

Bukan Sekadar Ritual, Tawur Agung di Batur Jadi Cermin Pariwisata Budaya Bali

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:06 WIB

143 Peserta JWB 2026 Sambangi Berastagi, Potensi Wisata Karo Jadi Sorotan

Selasa, 6 Oktober 2026 - 10:10 WIB

JWB ke-4 Buka Peluang Bisnis Wisata Medan dan Karo, Owner Widy Holidays: Dampaknya Sangat Bagus

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 09:05 WIB

WIG 2026 di Yogyakarta: Kuliner Nusantara Didorong Jadi Penggerak Pariwisata dan Ekonomi

Berita Terbaru