Partai Buruh dan KSP-PB Gelar Aksi Nasional: 4 Tuntutan Buruh di Depan Istana dan DPR

- Penulis

Senin, 2 Juni 2025 - 08:05 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Said Iqbal saat paparkan demo di depan kantor Kemenaker. (dok. rentak.id)

Said Iqbal saat paparkan demo di depan kantor Kemenaker. (dok. rentak.id)

JAKARTA – Gelombang perlawanan buruh kembali menggeliat. Sekitar 3.000 orang yang tergabung dalam Partai Buruh dan Koalisi Serikat Pekerja (KSP-PB) akan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran pada Selasa, 3 Juni 2025. Mereka akan memadati kawasan Istana Negara dan Gedung DPR RI untuk menyuarakan empat tuntutan utama, terutama terkait nasib pensiunan PT Pos Indonesia dan sistem kerja eksploitatif di BUMN.

Unjuk rasa ini merupakan bagian dari konsolidasi nasional yang melibatkan 67 serikat pekerja tingkat nasional dan organisasi kerakyatan lainnya. Gabungan ini mengklaim mewakili suara lebih dari 10 juta orang—baik anggota maupun keluarganya—yang tersebar di 38 provinsi dan 493 kabupaten/kota di seluruh Indonesia.

Aksi akan dimulai pukul 10.00 WIB dari depan kantor Kementerian BUMN, dilanjutkan ke Istana Negara hingga pukul 13.00, dan berakhir di kompleks parlemen, Gedung DPR RI.

Presiden Partai Buruh sekaligus Presiden KSPI, Said Iqbal, menyebutkan bahwa unjuk rasa ini adalah bentuk keprihatinan sekaligus peringatan keras terhadap pemerintah dan manajemen BUMN.

“Negara dan BUMN tidak boleh mengkhianati jasa para pensiunan. Menghapus tunjangan mereka sama saja dengan menelantarkan orang-orang yang telah membangun fondasi layanan pos nasional selama puluhan tahun,” kata Iqbal, Senin (2/6/2025).

Empat Tuntutan Utama Buruh

Dalam aksi ini, Partai Buruh dan KSP-PB membawa empat tuntutan utama:

  1. Tolak Penghapusan Tunjangan Pensiunan PT Pos Indonesia
    Para buruh mengecam rencana penghapusan sumbangan dan tunjangan pensiunan yang selama ini diberikan sebagai bentuk penghargaan atas pengabdian. Mereka menilai kebijakan tersebut tidak manusiawi dan akan menjerumuskan para pensiunan ke dalam kemiskinan.

  2. Angkat Mitra Pos Jadi Pegawai Tetap
    Sistem kemitraan dinilai hanya kedok dari hubungan kerja eksploitatif. Para mitra dipaksa bekerja melebihi jam normal, dikejar target, namun tidak mendapat kepastian kerja, jaminan sosial, maupun upah layak.

    “Istilah ‘mitra’ hanyalah kamuflase. Faktanya, mereka bekerja seperti karyawan tetap tapi tidak diberi hak dasar pekerja. Ini bentuk modern dari perbudakan kerja yang dilegalkan,” kata Said Iqbal, dalam konferensi pers menjelang aksi, Senin (2/6/2025).

    Sistem ini, lanjutnya, bertentangan dengan Pasal 27 UUD 1945 yang menyatakan bahwa setiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.

  3. Tolak Kenaikan Iuran BPJS dan KRIS
    Para demonstran juga menolak rencana pemerintah menaikkan iuran BPJS Kesehatan dan mengganti sistem kelas rawat inap menjadi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS). Menurut mereka, kebijakan ini justru membebani rakyat tanpa jaminan peningkatan mutu layanan.

    “Kesehatan itu hak, bukan komoditas. Pemerintah seharusnya memperluas manfaat BPJS, bukan malah membebani rakyat dengan sistem KRIS yang belum jelas,” ucap Said Iqbal.

    Ia juga menyoroti kesiapan rumah sakit yang belum merata, sehingga dikhawatirkan menimbulkan diskriminasi terhadap peserta BPJS dari kalangan ekonomi bawah.

  4. Stop PHK Massal dan Hapus Outsourcing
    Praktik pemutusan hubungan kerja (PHK) sepihak dan sistem outsourcing dianggap sebagai momok yang terus menghantui buruh. Said Iqbal menekankan bahwa outsourcing menciptakan ketidakpastian dan ketimpangan di dunia kerja.

    “Outsourcing melahirkan pekerja kelas dua. Kami menuntut agar sistem ini dihapus dan pemerintah menjamin kepastian kerja bagi seluruh buruh Indonesia,” katanya.

    Seruan ini sejalan dengan pidato Presiden Prabowo Subianto dalam peringatan Hari Buruh (May Day) 2025 lalu, yang menyatakan pentingnya mewujudkan keadilan bagi pekerja Indonesia.

Simbol Perlawanan Kolektif

Aksi ini tak hanya menyuarakan kepentingan buruh PT Pos Indonesia, tetapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap ketimpangan struktural yang lebih luas di sektor ketenagakerjaan nasional.

“Ini bukan sekadar aksi unjuk rasa. Ini adalah bagian dari perjuangan konstitusional kami untuk menegakkan keadilan dan mewujudkan kerja layak bagi seluruh rakyat Indonesia,” pungkas Said Iqbal.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Sugiono Temukan Akar Masalah Stunting di Subang, MBG Saja Tak Cukup
Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi
Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker
Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani
Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa
90 Peserta Ikuti InaSkills 2026, Wamenaker: Kompetensi Jadi Kunci Hadapi Dunia Kerja
Ponpes Al-Khoziny Sidoarjo Hampir Rampung, Kementerian PU Siapkan Asrama 5 Lantai dan Masjid 4 Lantai
Indrajaya Sentil Kebijakan Pusat: Jangan Cuma Bagus di Atas Kertas, Rakyat Harus Merasakan Dampaknya

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 08:53 WIB

Sugiono Temukan Akar Masalah Stunting di Subang, MBG Saja Tak Cukup

Minggu, 1 November 2026 - 14:41 WIB

Kementerian PU Buka Pendaftaran P3-TGAI 2027, Siapkan Rp2,99 Triliun untuk 13.296 Lokasi

Minggu, 1 November 2026 - 09:16 WIB

Tak Cukup Bermodal Bakat, 100 Pekerja Musik Difasilitasi Sertifikasi oleh Kemnaker

Minggu, 1 November 2026 - 08:43 WIB

Sawit Terancam Tak Produktif Usai Penertiban Hutan, Tamsil Soroti Nasib Petani

Minggu, 1 November 2026 - 08:32 WIB

Sampah Desa Bisa Jadi Energi, Mendes Yandri Bidik 75.266 Desa

Berita Terbaru