MPLS 2026 di SMPN 2 Jayapura Libatkan Orang Tua, Kemendikdasmen Dorong Sekolah Jadi Rumah Kedua Siswa

- Penulis

Jumat, 17 Juli 2026 - 14:50 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pelajar SD dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Jayapura (foto.kemendikdasmen)

Pelajar SD dalam pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah di Jayapura (foto.kemendikdasmen)

JAKARTA – Pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027 di berbagai daerah terus mengedepankan konsep sekolah yang aman, nyaman, dan ramah bagi peserta didik.

Salah satu praktik baik terlihat di SMP Negeri 2 Jayapura, Papua, yang melibatkan orang tua secara aktif selama kegiatan MPLS sebagai bagian dari upaya membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN).

Melalui pendekatan tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ingin memastikan bahwa hari-hari pertama siswa di sekolah bukan sekadar ajang perkenalan, tetapi menjadi fondasi terbentuknya karakter, rasa aman, serta kerja sama antara sekolah dan keluarga.

Kepala SMP Negeri 2 Jayapura, Dorthea Caroline Enok, mengatakan pelaksanaan MPLS tahun ini mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 12 Tahun 2026 yang menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam mendukung keberhasilan pendidikan anak.

Menurutnya, kehadiran orang tua dalam rangkaian MPLS menjadi langkah strategis agar mereka memahami peran yang harus dijalankan selama anak menjalani proses pendidikan.

“Sesuai dengan Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026, keberhasilan murid tidak hanya ditentukan oleh sekolah. Karena itu, melalui MPLS kami mengajak para orang tua memahami konsep 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat agar mereka dapat mendukung perkembangan anak secara optimal,” ujar Dorthea di Jayapura, Kamis (16/7/206).

Selama kegiatan MPLS, para siswa baru dikenalkan dengan lingkungan sekolah, wali kelas, guru, serta teman-teman sekelasnya. Proses tersebut juga dimanfaatkan pihak sekolah untuk mengidentifikasi minat, bakat, hingga potensi setiap peserta didik.

Hasil pemetaan itu kemudian disampaikan kepada orang tua sebagai bahan pendampingan anak di rumah sehingga proses pembelajaran dapat berjalan lebih efektif.

“Kami tidak ingin orang tua hanya menitipkan anaknya kepada sekolah. Mereka harus memahami dasar-dasar pendidikan yang kami bangun sehingga dapat menjadi mitra kami dalam membentuk generasi hebat bagi Kota Jayapura, Tanah Papua, dan Indonesia,” kata Dorthea.

Pelaksanaan MPLS yang melibatkan keluarga tersebut mendapat apresiasi dari para orang tua. Salah satunya disampaikan Pence Langitan yang menilai kegiatan MPLS di SMP Negeri 2 Jayapura berjalan positif dan memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi siswa baru.

“Kami melihat sendiri banyak hal positif selama MPLS berlangsung. Anak-anak dapat mengenal lingkungan sekolah, guru, serta teman-teman baru dengan baik. Ini tentu menjadi bekal dan motivasi agar mereka semakin bersemangat mengikuti proses belajar ke depan,” tutur Pence.

Kesan serupa juga dirasakan peserta didik baru. Salah seorang siswa, Jowari Mofu, mengaku merasa nyaman sejak hari pertama mengikuti MPLS karena mendapat pendampingan yang ramah dari guru maupun kakak pendamping.

“Kami mendapatkan mentor yang sangat baik. Guru-guru juga menjelaskan berbagai hal dengan jelas dan ramah. Itu membuat saya dan teman-teman merasa senang, nyaman, dan semakin semangat bersekolah,” ungkap Jowari.

Sementara itu, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menegaskan bahwa seluruh satuan pendidikan harus mampu menghadirkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan penuh kasih sayang bagi setiap peserta didik.

Menurutnya, pelaksanaan MPLS menjadi momentum penting untuk menanamkan budaya sekolah yang menghargai setiap anak sekaligus mendorong mereka berkembang sesuai potensi yang dimiliki.

“Hari pertama sekolah bukan sekadar masa mengenal lingkungan baru, melainkan awal dari proses pendidikan yang akan membentuk karakter, menumbuhkan harapan, dan mengantarkan anak-anak Indonesia menuju masa depan,” tegas Abdul Mu’ti.

Kemendikdasmen berharap pelaksanaan MPLS di seluruh Indonesia dapat menjadi awal lahirnya budaya sekolah yang aman dan nyaman, sehingga setiap peserta didik merasa sekolah sebagai rumah kedua yang mendukung tumbuh kembang, prestasi, dan pembentukan karakter mereka.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

KPPTI 2026 Digelar di Surabaya, Kemdiktisaintek Dorong Kampus Lebih Berdampak bagi Masyarakat
Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto
500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik
Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri
Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA
Kemendikdasmen Raih Nusantara Awards 2026, Ini Terobosan Pendidikan yang Dapat Apresiasi
Berburu Kursi PTN, 450 Siswa SMAN 8 Bandung Andalkan Hasil TKA 2026
5.700 Mahasiswa Timor-Leste Kuliah di Indonesia, Riset Bersama Diperluas

Berita Terkait

Selasa, 3 November 2026 - 12:02 WIB

KPPTI 2026 Digelar di Surabaya, Kemdiktisaintek Dorong Kampus Lebih Berdampak bagi Masyarakat

Senin, 2 November 2026 - 14:55 WIB

Mahasiswa Indonesia Berpeluang Kuliah di Jepang, Ini Program yang Dibahas Brian Yuliarto

Senin, 2 November 2026 - 11:36 WIB

500 Inovasi Anak Bangsa Siap Dipamerkan di Surabaya, Ada Robot AI hingga Motor Listrik

Minggu, 1 November 2026 - 13:51 WIB

Semarak Hari Santri Nasional 2026, Klanting Gelar Pawai Ta’aruf dan Penyerahan Beasiswa Pendidikan Santri

Minggu, 1 November 2026 - 09:22 WIB

Bahasa Indonesia Mulai Dilirik Anak Muda Rusia, 234 Ribu Orang di Dunia Belajar BIPA

Berita Terbaru