Megawati Sebut Surabaya “Dapur Nasionalisme” Bung Karno, PDIP Diminta Kembali Jadi Kandang Banteng

- Penulis

Senin, 24 Agustus 2026 - 07:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (foto. pdip)

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri (foto. pdip)

SURABAYA – Surabaya bukan sekadar kota yang menyimpan jejak sejarah perjuangan bangsa. Bagi Ketua Umum DPP PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri, kota ini merupakan tempat penting yang ikut membentuk cara berpikir dan semangat perjuangan Presiden pertama RI Soekarno atau Bung Karno sejak usia muda.

Megawati bahkan kembali menggaungkan istilah yang pernah disampaikan Bung Karno bahwa Surabaya merupakan “Dapur Nasionalisme”. Menurutnya, Jawa Timur memiliki posisi strategis dalam sejarah perjalanan pemikiran dan perjuangan Bung Karno menuju Indonesia merdeka.

Hal itu disampaikan Megawati saat memberikan pengarahan dalam Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Surabaya, Minggu (23/8/2026).

“Dalam perspektif ideologis dan historis, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjuangan Bung Karno,” ujar Megawati.

Ia menambahkan, Bung Karno sendiri menyebut Surabaya sebagai dapur nasionalisme.

“Beliau sendiri menyebutkan Surabaya merupakan ‘Dapurnya Nasionalisme’,” katanya.

Dari Kamar Sempit, Bung Karno Menggembleng Pemikiran

Megawati kemudian mengajak kader PDIP melihat kembali perjalanan Bung Karno ketika masih muda. Surabaya menjadi salah satu tempat penting dalam proses pembentukan karakter, wawasan, sekaligus gagasan politiknya.

Di kota tersebut, Bung Karno menyelesaikan pendidikan di HBS atau Hoogere Burgerschool. Ia juga berguru kepada tokoh pergerakan HOS Tjokroaminoto.

Kehidupan Bung Karno ketika itu jauh dari kemewahan. Megawati mengisahkan, Bung Karno pernah tinggal di sebuah ruangan sempit tanpa jendela dengan penerangan sederhana menggunakan lampu teplok.

Namun, keterbatasan tersebut tidak menghalangi Bung Karno untuk memperluas cakrawala berpikirnya.

Justru dari tempat sederhana itu, Bung Karno banyak membaca buku dan berdialog secara intelektual dengan berbagai pemikiran dunia.

Nama-nama besar seperti Thomas Jefferson, George Washington, William Gladstone, Karl Marx, Sun Yat-sen, Mustafa Kemal Atatürk, hingga Jean-Jacques Rousseau menjadi bagian dari bacaan yang membentuk wawasan Bung Karno.

“Surabaya dengan demikian menjadi tempat di mana Bung Karno menggembleng diri menjadi patriot yang tangguh. Dari usia yang begitu muda, 16 tahun, beliau telah berimajinasi dan kemudian berjuang untuk Indonesia Merdeka,” tutur Megawati.

Megawati Minta Anak Muda Berani Bermimpi

Megawati menilai perjalanan hidup Bung Karno relevan untuk menjadi pelajaran bagi generasi muda saat ini. Menurut dia, keterbatasan ekonomi maupun situasi zaman tidak semestinya mematikan keberanian seseorang untuk memiliki cita-cita besar.

Bung Karno, kata Megawati, merupakan contoh anak muda yang mampu membangun visi besar tentang masa depan bangsanya meski hidup dalam keterbatasan.

“Surabaya pada tahun 1916 sudah menjadi pusat kapitalisme global. Namun Bung Karno bisa membuktikan bahwa kekuatan kolonialisme terbesar di dunia, yakni Hindia Belanda, bisa dikalahkan melalui kemerdekaan Indonesia,” ujarnya.

Karena itu, Megawati meminta generasi muda tidak takut memiliki mimpi besar.

“Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar dan berjuang bagi cita-citanya,” katanya.

Kader PDIP Diminta Perkuat Akar Rumput

Pesan Megawati tidak hanya ditujukan kepada generasi muda. Dalam konsolidasi tersebut, ia juga meminta seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDIP menjaga semangat perjuangan serta memperkuat kerja politik di tengah masyarakat.

Megawati ingin PDIP tetap menjadi salah satu kekuatan politik utama di Pulau Jawa. Untuk mewujudkannya, ia meminta kader tidak hanya mengandalkan kekuatan politik praktis, tetapi menjadikan pemikiran dan perjuangan Bung Karno sebagai sumber energi.

“Sebab Bung Karno sendirilah yang mengatakan bahwa Surabaya adalah Dapurnya Nasionalisme. Artinya, di sini menjadi tempat penggodokan, penggemblengan, bagi lahirnya pejuang dan patriot-patriot bangsa yang tangguh,” kata Megawati.

Menurut Megawati, tantangan politik saat ini membutuhkan kekuatan ide, imajinasi, strategi, sekaligus militansi. Ia mengingatkan kader agar tidak menjadikan uang dan kekuasaan sebagai satu-satunya ukuran dalam perjuangan politik.

Sebaliknya, kekuatan ideologi, semangat perjuangan, serta kedekatan dengan rakyat di tingkat akar rumput harus tetap menjadi fondasi partai.

“Perkuatlah akar rumput. Jadikan spirit penggemblengan Bung Karno sebagai sumber energi, khususnya di Jawa Timur,” tegasnya.

Megawati Ingin Jawa Timur Kembali Jadi “Kandang Banteng”

Megawati juga menyoroti pentingnya membangun emotional bonding atau ikatan emosional, baik antara kader dengan rakyat maupun di antara sesama kader PDIP.

Menurutnya, ikatan emosional tersebut menjadi modal penting untuk menjaga soliditas partai sekaligus memperkuat hubungan dengan masyarakat.

Karena itu, Megawati berharap Jawa Timur kembali menunjukkan kekuatan politiknya sebagai “Kandang Banteng”. Ia bahkan menargetkan perolehan kursi PDIP di wilayah tersebut setidak-tidaknya dapat menyamai capaian pada Pemilu 2019.

Megawati mengingatkan bahwa militansi kader PDIP Jawa Timur bukan sesuatu yang baru. Sejarah, menurutnya, telah menunjukkan bahwa kader dan simpatisan PDIP di Jawa Timur pernah menjadi kekuatan penting ketika menghadapi tekanan politik pada masa Orde Baru.

“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” pungkas Megawati.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Anhar Gonggong: 100 Profesor Surati Prabowo, Minta Gibran Mundur!
Menko Polkam Apresiasi Sinergi TNI-Polri dan Pemda Pulihkan Keamanan Papua Barat Daya
IBSW Nilai Kiprah Dasco Responsif Selesaikan Persoalan Rakyat
Survei IPO Ungkap Tiga Pekerjaan Rumah Pemerintah: Harga Pangan, Korupsi, dan Lapangan Kerja
Prabowo Kumpulkan Menteri di Istana, Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Jadi Sorotan
Ratusan Anak Muda Padati Sekolah Partai PDIP, Komarudin Watubun Tekankan 3 Pilar Ini
Gerindra Soroti Kinerja Kabinet Prabowo, 42 Menteri dan Wamen Dinilai Belum Optimal
Deddy Sitorus Bicara Putusan MK soal Gibran, Singgung Hak Angket DPR

Berita Terkait

Kamis, 29 Oktober 2026 - 00:35 WIB

Anhar Gonggong: 100 Profesor Surati Prabowo, Minta Gibran Mundur!

Rabu, 28 Oktober 2026 - 21:09 WIB

Menko Polkam Apresiasi Sinergi TNI-Polri dan Pemda Pulihkan Keamanan Papua Barat Daya

Selasa, 27 Oktober 2026 - 17:13 WIB

IBSW Nilai Kiprah Dasco Responsif Selesaikan Persoalan Rakyat

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Survei IPO Ungkap Tiga Pekerjaan Rumah Pemerintah: Harga Pangan, Korupsi, dan Lapangan Kerja

Rabu, 21 Oktober 2026 - 14:56 WIB

Prabowo Kumpulkan Menteri di Istana, Evaluasi Dua Tahun Pemerintahan Jadi Sorotan

Berita Terbaru

Resident Evil Extinction dibintangi Milla Jovovich. (Constantin Film International GmbH & Davis Films-Impact Pictures Inc.)

Hiburan

Film Resident Evil: Extinction Tayang Malam Ini di Trans TV

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:31 WIB