BANJAR – Musim kemarau mulai membuat warga di sejumlah desa di Kecamatan Cintapuri Darussalam, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, kesulitan mendapatkan air bersih. Sejumlah sumur yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari mengalami penyusutan debit hingga tak lagi mampu mencukupi kebutuhan warga.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengambil langkah cepat. Melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III Banjarmasin bersama Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan (BPBPK) Kalimantan Selatan, pemerintah menyalurkan bantuan air bersih ke wilayah yang mulai terdampak kekeringan.
Bantuan menyasar tiga desa, yakni Desa Benua Anyar, Desa Alalak Padang, dan Desa Sindang Jaya. Penyaluran ini dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, terutama untuk minum, memasak, mandi, mencuci, dan keperluan rumah tangga lainnya.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan salah satu fondasi penting dalam pembangunan berkelanjutan. Karena itu, dampak kekeringan perlu diantisipasi dengan langkah yang cepat dan terkoordinasi.
“Di tengah dunia yang terus berubah dan penuh ketidakpastian, air menjadi fondasi yang sangat penting bagi pembangunan berkelanjutan. Karena itu, penanganan kekeringan harus dilakukan secara cepat, terukur, dan terpadu agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan produktivitas pertanian tetap terjaga,” kata Dody, Jumat (28/8/2026)
12.000 Liter Air Bersih Disalurkan
Secara keseluruhan, sebanyak 12.000 liter air bersih didistribusikan kepada masyarakat di tiga desa yang mengalami keterbatasan air.
Rinciannya, sebanyak 2.000 liter air bersih dikirim ke Desa Benua Anyar dan 2.000 liter lainnya ke Desa Alalak Padang, Kecamatan Cintapuri Darussalam.
Sementara itu, distribusi terbesar dilakukan di Desa Sindang Jaya. BWS Kalimantan III Banjarmasin bersama BPBPK Kalimantan Selatan menyalurkan 8.000 liter air bersih untuk membantu sekitar 250 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan.
Kepala BWS Kalimantan III Banjarmasin Dedi Supriyadi mengatakan penyaluran air bersih menjadi bagian dari respons cepat pemerintah untuk memastikan kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama musim kemarau.
“Penanganan kekeringan dilakukan secara cepat dan terukur dengan menyalurkan air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur terkait untuk memastikan bantuan dapat menjangkau wilayah terdampak,” ujar Dedi.
Sumur Warga Mulai Menyusut
Kekeringan di Kecamatan Cintapuri Darussalam mulai terasa ketika sumber air yang selama ini digunakan warga mengalami penurunan ketersediaan. Sejumlah sumur warga bahkan tidak lagi mampu memasok air dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan sehari-hari.
Situasi tersebut membuat aktivitas rumah tangga ikut terdampak. Air yang tersedia harus digunakan secara lebih hemat untuk berbagai kebutuhan, mulai dari minum, memasak hingga mandi dan mencuci.
Kementerian PU memastikan penanganan dampak kekeringan akan terus dipantau berdasarkan kondisi di lapangan. Koordinasi dilakukan antara unit pelaksana teknis Kementerian PU, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan terkait.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan air sekaligus memberikan perlindungan kepada masyarakat yang menghadapi dampak musim kemarau.
Selain penyaluran bantuan, masyarakat juga diimbau menggunakan air secara bijak. Sumber-sumber air yang masih tersedia diharapkan dijaga agar tetap dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Bagi Kementerian PU, penanganan kekeringan bukan sekadar distribusi air bersih, tetapi juga bagian dari upaya memastikan layanan dasar tetap hadir ketika masyarakat menghadapi tekanan akibat perubahan kondisi cuaca.
Dengan respons cepat dan koordinasi lintas pihak, kebutuhan air bersih masyarakat di wilayah terdampak diharapkan tetap terjaga selama musim kemarau berlangsung.S
Penulis : amanda az
Editor : ameri






