RENTAK.ID – Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Anwar Makarim secara resmi meluncurkan Indonesian Heritage Agency (IHA) di Museum Benteng Vredeburg, Yogyakarta, pada Kamis malam, 16 Mei 2024.
Para pejabat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X, perwakilan negara sahabat, sejumlah tokoh dan pelaku seni dan budaya turut hadir dalam acara peluncuran ini.
Keberadaan para tamu undangan tersebut menunjukkan kolaborasi yang mendasar antara semua pihak, dalam upaya pelestarian warisan budaya dan sejarah Indonesia.
Suasana yang makin istimewa ketika Mendikbudristek membuka sambutannya dengan puisi dari mendiang sastrawan Joko Pinurbo yang berjudul “Jogja Terbuat dari Rindu, Pulang, dan Angkringan”.
Puisi tersebut dipilih sebagai pembukaan sambutan, karena nilai-nilai sosial, keramahtamahan, dan rasa kekeluargaan merupakan identitas kota Jogja yang sangat menonjol.
Jogja adalah tempat yang jauh lebih dari sebuah destinasi wisata, tetapi tempat yang membuat hati dan pikiran merasa nyaman, selaras dengan kesan rumah sendiri.
Mendikbudristek juga menekankan pentingnya peran dari museum dan cagar budaya sebagai sarana pembelajaran untuk mendukung gerakan Merdeka Belajar di ruang publik.
“Perjalanan 5 tahun gerakan Merdeka Belajar dan kelahiran IHA menandai langkah bersama menuju keberlanjutan transformasi dunia pendidikan dan ekosistem budaya Indonesia,” katanMendikbudristek.
Mendikbudristek mengatakan, “Saatnya kita mengambil langkah berani untuk mentransformasi museum dan cagar budaya. Saatnya memperlakukan museum dan cagar budaya sebagai ruang belajar yang terbuka dan mendukung pembelajar sepanjang hayat,”.
Ia berharap bahwa masyarakat juga dapat berpartisipasi aktif dalam proses revitalisasi museum dan cagar budaya Indonesia.
Menurutnya, museum, terutama yang telah direvitalisasi, memberikan pengalaman, wawasan, dan pengetahuan yang tak terlupakan bagi pengunjung. Dia memuji dan mencontohkan keberhasilan revitalisasi Museum Song Terus di Pacitan yang dapat menjadi acuan bagi pengelola museum di berbagai kota di Indonesia.
Peluncuran IHA juga diramaikan oleh sejumlah pertunjukan seniman Yogyakarta, termasuk Jogja Hip Hop Foundation.
Para pengunjung, bahkan masyarakat, menjadi saksi hadirnya ‘wajah’ baru Museum Benteng Vredeburg tersebut. Mereka juga menyaksikan sejarah perjuangan Bangsa Indonesia yang tercermin melalui berbagai penampilan yang menggabungkan elemen seni pertunjukan dan keindahan visual.
Seperti video mapping tentang sejarah Museum Benteng Vredeburg dan pertunjukan air mancur yang memukau.
Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X menyampaikan bahwa pendirian IHA merupakan langkah monumental dalam pelestarian dan pencerahan budaya.
Beliau turut menyampaikan selamat kepada IHA sebagai badan layanan umum pengemban visi kolaboratif dalam mendorong daya cipta, perubahan sosial, serta pembangunan masyarakat yang berbudaya.
IHA sendiri mengelola 18 museum dan 34 cagar budaya sebagai Badan Layanan Umum (BLU). Direktur Jenderal (Dirjen) Kebudayaan, Hilmar Farid, menjelaskan bahwa ada tiga aspek utama dalam konsep Reimajinasi yang diusung oleh IHA, yaitu reprograming (pemrograman ulang), redesigning (perancangan ulang), dan reinvigorating (memperkuat tata kelola).
Peluncuran IHA membawa harapan dalam kebangkitan semangat pelestarian dan pengembangan budaya. Seluruh elemen masyarakat harus terlibat untuk memastikan bahwa kekayaan budaya Indonesia tetap menjadi bagian penting dari identitas nasional dan sumber inspirasi bagi semua.