Ikan Mati Massal di Waduk Jatiluhur Bernilai 2,2 Miliar, KKP Sudah Ingatkan Pembudidaya

- Penulis

Senin, 10 Februari 2025 - 17:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

RENTAK.ID – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) segera terjun ke lapangan untuk menanggapi fenomena kematian ikan massal di Waduk Jatiluhur yang dipicu oleh cuaca ekstrem.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Tb Haeru Rahayu, menjelaskan bahwa kejadian ini disebabkan oleh upwelling yang menurunkan kadar oksigen di perairan serta penggunaan Keramba Jaring Apung (KJA) yang melebihi kapasitas. KKP juga menegaskan pentingnya langkah pencegahan dan antisipasi bagi para pembudidaya ikan.

Peristiwa ini dikatakan juga merupakan fenomena alam tahunan akibat cuaca ekstrim yang memicu penurunan massa air hingga terjadinya upwelling yang menyebabkan pasokan oksigen berkurang secara drastis. KKP setiap tahun selalu mengimbau kepada daerah yang wilayahnya memiliki perairan umum.

Imbauan ini disampaikan melalui surat pemberitahuan pencegahan kematian massal ikan di perairan umum dan juga petunjuk teknis pencegahan dan penanganan kematian massal ikan budidaya di perairan umum akibat cuaca ekstrim yang terjadi seperti di Daerah Aliran Sungai Citarum yaitu Waduk Cirata, Waduk Saguling dan Waduk Jatiluhur.

“Fenomena kematian massal ini selain upwelling, berdasarkan hasil pengecekan dari tim KKP yaitu penggunaan Keramba Jaring Apung (KJA) sudah tidak sesuai dan melebih kapasitas. KKP juga selalu mengingatkan jumlah penggunaan KJA yang sesuai dengan standar dan daya dukung dengan zonasi yang telah ditentukan. Termasuk juga periode budidaya yang direkomendasikan boleh dilakukan, kami selalu ingatkan dan Penyuluh KKP juga rutin melakukan pendampingan ke masyarakat pembudidaya,” jelas Dirjen Tebe di Jakarta, Senin (10/2).

Tebe menambahkan, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian kematian massal telah dilakukan oleh KKP. Dia berharap masyarakat pembudidaya bisa mengambil langkah antisipatif agar tidak rugi.

“Peringatan cuaca ekstrim sudah kami himbau dan tanda-tanda kualitas air tidak bagus juga sudah mulai kelihatan. Kenapa tidak dilakukan panen total atau panen awal sehingga risiko kematian massal dapat dihindari,” tegas Tebe.

KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya telah menurunkan tim untuk mengecek penyebab terjadinya kematian massal ikan di Waduk Jatiluhur. Tercatat total kematian ikan massal di Waduk Jatiluhur sebanyak kurang lebih 100 ton atau senilai Rp 2,2 milyar.

Mayoritas jenis ikan yang mengalami kematian massal adalah ikan mas. Asumsi harga ikan mas saat ini adalah Rp 22 ribu per kilogram. Lokasi kejadian kematian massal yaitu di Kampung Pasir Kole Desa Kutamanah Kecamatan Sukasari dan Kampung Citerbang Desa Panyindangan Kecamatan Sukatani.

“Mayoritas masyarakat pembudidaya sudah mengetahui adanya cuaca ekstrim dan bahaya upwelling dapat menyebabkan kematian massal ikan budidaya. Namun banyak diantaranya mereka gambling dan masih menahan panen ikan hasil budidayanya supaya bisa mencapai ukuran yang lebih besar,” jelas Direktur Ikan Air Tawar, Ujang Komarudin yang terjun langsung bersama Tim Balai Besar Perikanan Budidaya Air Tawar (BBPBAT) Sukabumi dan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Purwakarta.

Ujang mengimbau pembudidaya untuk melakukan panen total maupun panen awal untuk menghindari kematian ikan massal. Terlebih untuk jenis ikan yang  ikan mas yang sangat bergantung hidupnya pada kestabilan pasokan oksigen terlarut (O2).

“KKP merekomendasikan untuk sementara waktu tidak melakukan aktivitas budidaya di Waduk Jatiluhur hingga cuaca kembali normal dan perairan bisa merecovery kondisinya dengan stabil. Segera angkat ikan yang sudah mati dari perairan dan langsung kubur supaya kondisi perairan waduk cepat kembali normal dan tidak tercemar,” kata Ujang.(***)

 

Penulis : Zul

Editor : Ami

Berita Terkait

Terinspirasi Perjuangan Ibu yang Tak Lulus SD, Dwi Suswanti Berhasil Raih Gelar Doktor
Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid
TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia
GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau
GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau
AirNav Indonesia Tuntaskan Program Relawan Bakti BUMN 2026 di Boyolali
Kemendiktisaintek Dukung Pengembangan Day Care Berbasis Masyarakat di Bekasi
LRT Jabodebek Ajak Anak Berkebutuhan Khusus Nikmati Perjalanan Kereta, Perkuat Layanan Transportasi yang Inklusif
KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budi Daya telah menurunkan tim untuk mengecek penyebab terjadinya kematian massal ikan di Waduk Jatiluhur. Tercatat total kematian ikan massal di Waduk Jatiluhur sebanyak kurang lebih 100 ton atau senilai Rp 2,2 milyar.

Berita Terkait

Sabtu, 10 Oktober 2026 - 04:05 WIB

Terinspirasi Perjuangan Ibu yang Tak Lulus SD, Dwi Suswanti Berhasil Raih Gelar Doktor

Senin, 14 September 2026 - 16:31 WIB

Kontroversi SKNC 2026 Pekalongan, MUI Nilai Atraksi Satanic Bertentangan dengan Maulid

Kamis, 10 September 2026 - 15:36 WIB

TECNO Andalkan MEGAPAD 2 dan MEGAPAD SE 2 untuk Garap Pasar Tablet Indonesia

Senin, 7 September 2026 - 13:31 WIB

GEMPHAR Gelar Pelatihan dan Pembekalan Saksi Jelang Pilkades Sukadanau

Rabu, 26 Agustus 2026 - 12:42 WIB

GEMPHAR Gelar Santunan Anak Yatim dan Lomba Tahfiz Al-Qur’an di Sukadanau

Berita Terbaru