JAKARTA – Pembaruan layanan kereta api penumpang di Sumatera Utara terus menunjukkan perkembangan, meski masih dibayangi sejumlah tantangan infrastruktur. Di tengah meningkatnya kebutuhan mobilitas masyarakat, penguatan konektivitas antardaerah dinilai harus berjalan beriringan dengan peningkatan keselamatan perjalanan, modernisasi prasarana, serta perluasan jaringan rel.
Akademisi Program Studi Teknik Sipil Unika Soegijapranata sekaligus Dewan Penasehat Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), Djoko Setijowarno, menilai pengembangan layanan kereta api di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian (BTP) Kelas I Medan memperlihatkan potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kawasan.
“Pengembangan layanan kereta api penumpang di wilayah kerja Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Medan terus bergerak dinamis. Potensi konektivitas regional yang besar harus diimbangi dengan penyelesaian berbagai tantangan infrastruktur, terutama karena sebagian besar lintasan masih menggunakan jalur tunggal atau single track,” kata Djoko, Rabu (15/7/2026).
Saat ini BTP Kelas I Medan mengelola jalur kereta api sepanjang 881,45 kilometer. Dari jumlah tersebut, 456,45 kilometer merupakan jalur aktif, sedangkan 425 kilometer lainnya masih berstatus nonaktif.
Di sepanjang lintasan terdapat 640 pelintasan sebidang, namun hanya 160 pelintasan atau sekitar 25 persen yang dijaga. Sisanya, sebanyak 480 pelintasan atau 75 persen, belum memiliki penjagaan sehingga menjadi salah satu tantangan utama dalam aspek keselamatan perjalanan.
Selain itu, wilayah operasional memiliki 46 stasiun aktif dan 20 stasiun nonaktif. Pemerintah juga merencanakan pembangunan dua stasiun baru di lintas Medan-Binjai, yakni Stasiun Sunggal dan Helvetia. Wilayah kerja tersebut juga mencakup jalur Lhokseumawe-Bireuen di Aceh sepanjang 29,4 kilometer dengan lebar rel standar 1.435 mm.
Layanan kereta api penumpang di wilayah Sumatera Utara saat ini mencapai 64 perjalanan setiap hari. Sebanyak enam perjalanan merupakan layanan komersial, sedangkan 58 perjalanan lainnya merupakan kereta bersubsidi atau Public Service Obligation (PSO).
Layanan tersebut dioperasikan melalui tujuh armada, yakni KA Sribilah Utama sebagai layanan komersial, KA Putri Deli, KA Siantar Ekspres, KA Datuk Blambangan, KA Srilelawangsa, KA Srilelawangsa Bandara, serta KA Cut Meutia sebagai layanan perintis.
Beberapa layanan menjadi tulang punggung transportasi masyarakat. KA Putri Deli melayani rute Medan-Tanjung Balai sejauh 174,4 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat jam 20 menit dan tarif Rp27.000.
Sementara KA Siantar Ekspres menghubungkan Medan dengan Pematangsiantar sejauh 129 kilometer dalam waktu sekitar dua jam 53 menit dengan tarif Rp22.000.
Untuk layanan perkotaan, KA Srilelawangsa melayani lintas Medan-Binjai-Kuala Bingai hingga 20 perjalanan per hari. Sedangkan KA Srilelawangsa Bandara menjadi moda andalan menuju Bandara Internasional Kualanamu dengan frekuensi mencapai 24 perjalanan setiap hari.
Djoko mengatakan KA Siantar Ekspres kini memiliki peran strategis karena tidak hanya melayani mobilitas masyarakat, tetapi juga mendukung sektor pariwisata.
“KA Siantar Ekspres telah menjadi primadona konektivitas regional. Kereta ini menghubungkan Medan, Tebing Tinggi, Pematangsiantar hingga tiga kabupaten, sekaligus menjadi moda favorit wisatawan yang melanjutkan perjalanan menuju Kawasan Strategis Pariwisata Nasional Danau Toba,” ujarnya.
Ia juga menilai kebijakan subsidi tarif pada KA Srilelawangsa Bandara berhasil meningkatkan minat masyarakat menggunakan transportasi berbasis rel.
“Penurunan tarif secara signifikan membuat masyarakat semakin memilih KA Srilelawangsa Bandara sebagai moda transportasi utama menuju Kualanamu. Kebijakan PSO terbukti mampu meningkatkan keterjangkauan sekaligus mendorong pertumbuhan jumlah penumpang,” katanya.
Sepanjang Januari hingga Mei 2026, jumlah penumpang kereta api di wilayah kerja BTP Kelas I Medan mencapai 2.265.806 orang.
Sebanyak 1.378.961 penumpang berasal dari layanan perkotaan atau sekitar 60,9 persen, sedangkan 886.845 penumpang lainnya merupakan layanan antarkota dengan kontribusi 39,1 persen.
Meski demikian, rata-rata jumlah penumpang harian turun 11,84 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi sekitar 15.005 orang per hari. Penurunan terutama terjadi pada layanan komuter akibat masih diterapkannya kebijakan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) di sejumlah instansi dan perusahaan. Sebaliknya, penumpang antarkota justru meningkat 7,57 persen.
Jalur Tunggal dan Pelintasan Sebidang Jadi Tantangan
Menurut Djoko, tantangan terbesar pengembangan kereta api di Sumatera Utara masih berkisar pada keterbatasan kapasitas jalur tunggal, keselamatan pelintasan sebidang, hingga ketahanan infrastruktur menghadapi bencana hidrometeorologi.
“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana menyeimbangkan kapasitas infrastruktur yang masih single track dengan tingginya frekuensi perjalanan. Modernisasi sistem keselamatan, penanganan pelintasan sebidang, dan mitigasi bencana menjadi kunci agar masyarakat kembali menjadikan kereta api sebagai pilihan utama,” jelasnya.
Ia menjelaskan dominasi pelintasan tidak dijaga menyebabkan risiko kecelakaan masih tinggi sehingga masinis kerap harus mengurangi kecepatan atau melakukan pengereman darurat yang berdampak terhadap ketepatan waktu perjalanan.
Selain itu, penggunaan jalur tunggal membuat gangguan kecil pada satu perjalanan dapat memicu keterlambatan berantai pada perjalanan kereta lainnya.
Djoko juga menyoroti keterbatasan jaringan rel yang belum menjangkau seluruh kawasan pertumbuhan baru di sekitar Medan, tingginya persaingan dengan moda transportasi jalan, serta kerentanan infrastruktur terhadap bencana hidrometeorologi seperti yang menyebabkan penghentian sementara operasional KA Cut Meutia sejak Desember 2025.
Djoko menegaskan masa depan angkutan kereta api di Sumatera Utara sangat bergantung pada percepatan pembangunan infrastruktur yang lebih adaptif.
“Penyelesaian jalur tunggal, peningkatan ketahanan infrastruktur terhadap bencana, serta sterilisasi pelintasan sebidang harus menjadi prioritas utama. Dengan begitu, subsidi tarif PSO dapat benar-benar memberikan manfaat maksimal sekaligus meningkatkan keselamatan, ketepatan waktu, dan kepercayaan masyarakat terhadap layanan kereta api,” pungkasnya.
Penulis : lazir
Editor : ameri












