JAKARTA – Media sosial Instagram kembali dipenuhi tren baru yang cepat menyebar. Menariknya, tren yang ramai pekan ini bukan hanya datang dari kreator besar, tetapi juga lahir dari konten sederhana yang kemudian ditiru pengguna dari berbagai daerah hingga menembus luar negeri.
Mulai dari prank bapak-bapak, dance dengan sound horeg, meme kantor, tren pasangan, hingga filter kecerdasan buatan (AI), semuanya punya pola yang sama: mudah dibuat, menghibur, dan gampang diikuti.
Berikut sejumlah tren Instagram yang sedang ramai diperbincangkan pekan ini.

1. Prank “Cium atau Jilat” Bikin Netizen Ngakak
Salah satu konten yang mencuri perhatian adalah challenge “Cium atau Jilat”. Konsepnya sederhana, empat orang diminta memilih sesuai instruksi untuk mencium atau menjilat sebuah properti berwarna putih berbentuk menyerupai telur.
Namun, kelucuan justru muncul dari reaksi para pesertanya.
Peserta berbaju biru disebut terus salah sejak awal hingga akhir, tetapi tetap memasang wajah serius. Sementara peserta berbaju merah malah sampai muntah.
Dengan audio yang sangat sederhana berupa instruksi “cium, jilat”, video ini justru berhasil mengundang banyak komentar dan tawa.
2. “Jos Jis Rek” dan Sound Horeg Makin Mendunia
Tren lain yang tak kalah mencolok adalah sound “Jos Jis Rek” yang identik dengan musik horeg dan dangdut koplo Jawa Timur.
Di Indonesia, sound tersebut banyak dipakai untuk video joget, termasuk dengan gaya menggunakan selempang uang saweran.
Yang menarik, tren ini mulai muncul di berbagai negara. Bahkan, video dengan sound tersebut disebut sudah sampai Copenhagen dan diikuti warga lokal yang mencoba gerakan tangan khasnya.
Tulisan “Jos Jis Rek 🔥” juga kerap menjadi bagian dari video.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana musik lokal Indonesia, termasuk sound horeg, semakin mudah menyeberang batas negara melalui Reels dan TikTok.
3. Gaya “Laskar Cinta” sampai Dance Brazil Jadi Bahan Meme
Fashion yang terinspirasi dari gaya Laskar Cinta juga ikut naik daun. Ciri yang banyak digunakan antara lain kaus hitam, jaket hitam, bandana merah dan anting hoop.
Gaya tersebut kemudian dipadukan dengan konten humor, termasuk tren yang diberi nama “Tes Motorik Gen Z Dance Brazil”.
Alih-alih tampil lincah, sejumlah Gen Z justru sengaja bergerak kaku seperti sedang mengikuti senam ibu-ibu.
Kelucuan format ini membuat banyak pengguna dan sejumlah brand ikut membuat versi masing-masing, termasuk menggunakan headdress bergaya opera untuk memperkuat unsur komedi.
4. “Sembunyikan Bos di Antara Karyawan”
Konten tebak-tebakan juga kembali mendapatkan tempat di Instagram.
Salah satu format yang ramai adalah “Menyembunyikan Boss di Antara Karyawan”. Dalam konten tersebut, seluruh karyawan mengenakan seragam biru bertuliskan SAHABAT ABADI.
Tugas penonton sederhana: menebak siapa bos di antara seluruh karyawan.
Komentar pun berubah menjadi arena tebak-tebakan. Ada yang yakin bosnya adalah orang berkacamata, sementara pengguna lain punya tebakan berbeda.
Format seperti ini menarik karena mendorong penonton untuk berhenti sejenak, mengamati gambar dan ikut berkomentar.
5. Carousel “What We Will Do When…” Ramai diikuti
Format carousel juga belum kehilangan daya tarik.
Tren “What we will do when…” menggunakan visual bernuansa Y2K dengan warna-warni dan menampilkan tiga perempuan dalam berbagai skenario.
Mulai dari melihat teman jatuh, menyaksikan orang berkelahi, bertemu anak kecil, masuk rumah hantu, mengalami catcalling, hingga mendengar gosip baru.
Setiap slide menampilkan pilihan reaksi yang dipersonalisasi dengan foto wajah mereka.
Tren ini cocok untuk konten kelompok pertemanan karena bisa dibuat dengan konsep yang sederhana tetapi tetap mengundang interaksi.
6. Tren “654321” Jadi Andalan Konten Couple
Pasangan yang ingin membuat konten romantis juga punya tren sendiri melalui format 654321.
Konsepnya menggunakan tangkapan layar percakapan berisi pertanyaan berurutan. Misalnya, enam hal yang sering dikatakan pasangan, lima hal yang disukai, empat hal yang disukai dari pasangan, dan seterusnya hingga hitungan mundur menuju momen romantis.
Uniknya, sejumlah pengguna bahkan mengaku menggunakan bantuan AI untuk menyusun jawaban agar terdengar lebih manis dan romantis.
7. “Astaga Bercanda” Jadi Earworm di Instagram
Dari sisi musik, lagu jedag-jedug “Astaga Bercanda” ikut menjadi salah satu sound yang banyak digunakan.
Format videonya biasanya berupa sketsa sederhana. Misalnya, seseorang sedang serius bertengkar atau berada dalam situasi tertentu, kemudian lagu tersebut tiba-tiba terdengar dari kafe.
Situasi pun berubah menjadi momen joget.
Bagian lirik yang menggambarkan hati berdebar membuat sound ini mudah menempel di kepala dan cocok dipadukan dengan video komedi.
8. Filter AI Mermaid Bikin Foto Berubah Jadi Putri Duyung
Tren berbasis AI juga masih kuat.
Salah satu filter yang banyak menarik perhatian adalah AI Mermaid, yang mengubah foto pengguna menjadi video bergaya putri duyung.
Pengguna bisa menampilkan sosok dengan ekor berkilau, lengkap dengan latar suasana bawah laut.
Tren semacam ini memperlihatkan bahwa konten AI masih menjadi salah satu cara cepat bagi kreator untuk membuat visual yang berbeda dari unggahan biasa.
Format Reels yang Masih Banyak Dipakai
Di luar tren spesifik tersebut, beberapa format konten masih mendominasi Instagram pada 2026.
Di antaranya video vertikal berdurasi sekitar 15-45 detik dengan konsep storytelling atau POV, carousel informatif, konten Get Ready With Me (GRWM), behind the scenes, aktivitas sehari-hari, hingga remix sound yang sedang viral.
Kuncinya tetap sama: konten harus cepat menarik perhatian sejak beberapa detik pertama dan memberikan alasan bagi pengguna untuk terus menonton.
Kreator Instagram Perlu Lebih Hati-Hati dengan Trial Reels
Di tengah maraknya tren, kreator juga perlu memperhatikan perubahan dalam distribusi konten Instagram.
Penggunaan Trial Reels kini semakin ketat. Variasi konten yang terlalu mirip, meskipun menggunakan B-roll berbeda, berpotensi mendapatkan peringatan bahwa video tersebut tidak akan memperoleh jangkauan besar karena terlihat seperti konten yang pernah dibagikan sebelumnya.
Artinya, sekadar mengganti latar atau potongan video belum tentu cukup.
Kreator perlu membuat setiap unggahan terasa benar-benar berbeda, terutama pada bagian pembuka atau hook, alur cerita, visual, dan cara penyampaian.
Dengan tren yang bergerak cepat, peluang mendapatkan perhatian memang terbuka lebar. Namun, kreativitas tetap menjadi pembeda utama. Mengikuti tren boleh, tetapi membuat versi yang punya karakter sendiri jauh lebih berpeluang membuat konten bertahan lebih lama di tengah derasnya arus Reels.
Penulis : dafri jh
Editor : ameri






