BULELENG – Langkah pelan para Bhikkhu mulai meninggalkan kawasan Brahmavihara-Arama, Kabupaten Buleleng, Bali, Sabtu (9/5/2026). Dengan jubah khas dan semangat perdamaian, sebanyak 56 Bhikkhu dari Indonesia, Thailand, Malaysia, dan Laos memulai perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur dalam rangka Indonesia Walk for Peace 2026.
Perjalanan lintas negara ini bukan sekadar ritual keagamaan. Selama 20 hari ke depan, para Bhikkhu akan menempuh perjalanan melewati Bali, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta sambil menyebarkan pesan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafi’i menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan besar bangsa Indonesia yang harus dijaga bersama.
“Indonesia memiliki kekuatan besar karena keberagamannya. Tugas kita bersama adalah memastikan keberagaman itu menjadi sumber persatuan, bukan sumber konflik. Indonesia Walk for Peace menunjukkan bahwa nilai agama harus menghadirkan kasih sayang, ketenangan, dan kepedulian sosial,” ujar Romo Syafi’i.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Gubernur Bali I Wayan Koster, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha Kemenag RI Supriadi, jajaran pemerintah daerah, hingga tokoh lintas agama.
Romo Syafi’i juga menilai Indonesia Walk for Peace (IWFP) menjadi bagian penting diplomasi budaya dan spiritual Indonesia di mata dunia. Menurutnya, perjalanan damai para Bhikkhu ini memperlihatkan bahwa perbedaan bukan penghalang untuk hidup berdampingan.
“Perang yang paling besar itu adalah perang melawan hawa nafsu. Ketika kita sudah memiliki kekuatan mengendalikan hawa nafsu, ketika itu kita akan lahir sebagai insan yang baik. Melalui Walk for Peace ini, kita menunjukkan bahwa dengan perbedaan yang ada, kita tetap sama sebagai hamba Tuhan dan warga negara Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Gubernur Bali I Wayan Koster mengapresiasi kegiatan tersebut karena dinilai membawa citra damai Bali ke dunia internasional. Ia menyebut kegiatan itu selaras dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali yang menitikberatkan pada keharmonisan alam dan kehidupan.
“Kegiatan ini tidak semata kegiatan fisik keagamaan yang sakral, tapi juga membawa pesan kedamaian yang dipancarkan dari Bali dan akan melintasi empat provinsi. Titiang yakin seyakin-yakinnya ini akan menjadi perhatian masyarakat dunia,” ujar I Wayan Koster.
Perjalanan damai menuju Borobudur ini pun diharapkan menjadi simbol kuat bahwa keberagaman di Indonesia dapat terus dirawat melalui toleransi, spiritualitas, dan kepedulian antarsesama.
Penulis : lazir
Editor : ameri













