Tol Getaci Mangkrak, PUKIS Desak Pemerintah Ubah Strategi agar Menarik Investor

- Penulis

Senin, 20 April 2026 - 04:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tol Getaci (foto kementerian pu)

Tol Getaci (foto kementerian pu)

JAKARTA – Mandeknya pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) Jalan Tol Gedebage–Tasikmalaya–Cilacap (Getaci) kembali menuai sorotan. Proyek yang digadang-gadang menjadi jalan tol terpanjang di Indonesia ini dinilai membutuhkan terobosan baru setelah dua kali proses lelang gagal menarik minat investor.

Pusat Kajian Infrastruktur Strategis (PUKIS) menilai pemerintah perlu segera mengubah pendekatan agar proyek tersebut tidak terus terhenti tanpa kejelasan. Direktur Eksekutif PUKIS, M. M. Gibran Sesunan, mengatakan kegagalan lelang berulang menjadi sinyal kuat bahwa skema yang digunakan saat ini belum menarik bagi pelaku usaha.

“Proyek ini sudah dua kali gagal lelang. Artinya proyeknya tidak laku dan kurang menarik di mata investor. Karena itu pemerintah harus mengubah strategi pembangunan,” ujarnya dalam keterangan di Jakarta, Sabtu (18/4/2026).

Ia menjelaskan, pada lelang pertama sebenarnya telah ada pemenang, namun konsorsium tersebut gagal mencapai tahap financial close. Kondisi ini memaksa pemerintah mengulang proses lelang, tetapi pada kesempatan kedua justru tidak ada investor yang berminat.

Menurut Gibran, kondisi tersebut seharusnya mendorong pemerintah menyiapkan langkah mitigasi yang lebih konkret. “Pemerintah mestinya memiliki rencana alternatif untuk Tol Getaci. Percuma jika terus dilelang ulang tanpa perubahan strategi pembangunan dan pengusahaan,” tegasnya.

Kegagalan ini dinilai berdampak serius terhadap keberlanjutan proyek yang menghubungkan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut. Pasalnya, kehadiran investor sangat penting untuk membentuk Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) yang bertanggung jawab dalam pembangunan hingga operasional jalan tol.

“BUJT memegang peran kunci, mulai dari perencanaan teknis hingga penyediaan dana talangan untuk pengadaan tanah. Tanpa mereka, proyek akan sulit berjalan,” kata Gibran.

Ia memaparkan beberapa faktor utama yang membuat proyek ini kurang diminati. Salah satunya adalah tingginya biaya investasi yang tidak sebanding dengan proyeksi lalu lintas. “Pendapatan dari tarif tol menjadi tidak signifikan. Ruas Gedebage–Tasikmalaya mungkin masih potensial, tetapi dari Tasikmalaya ke Cilacap volumenya diperkirakan rendah. Ini memengaruhi kelayakan proyek,” jelasnya.

Selain itu, kondisi iklim investasi infrastruktur yang sedang lesu juga menjadi tantangan. Ketidakpastian ekonomi membuat investor cenderung berhati-hati, terlebih proyek infrastruktur membutuhkan modal besar dengan pengembalian jangka panjang.

“Pasar juga melihat infrastruktur bukan lagi prioritas utama, terlihat dari anggaran yang makin terbatas dalam APBN. Ini turut memengaruhi minat investor,” tambahnya.

Sebagai solusi, PUKIS menawarkan sejumlah opsi. Pertama, pemerintah dapat terlibat langsung melalui skema dukungan konstruksi agar beban investasi lebih ringan. Namun, Gibran meragukan realisasi opsi ini.

“Dengan kondisi anggaran saat ini, apalagi prioritas pemerintah bukan di jalan tol, kami pesimistis dukungan konstruksi bisa diberikan,” ujarnya.

Alternatif kedua adalah mendorong lembaga investasi negara seperti Indonesia Investment Authority (INA) atau Danantara untuk ikut serta dalam proyek.

“Kalau pemerintah menilai proyek ini layak secara komersial, maka lembaga investasi negara seharusnya bisa mengambil peran, misalnya memimpin konsorsium dalam lelang berikutnya,” kata Gibran.

Sementara opsi ketiga adalah merevisi skema proyek dengan membagi ruas tol menjadi dua bagian, yakni Gedebage–Tasikmalaya dan Tasikmalaya–Cilacap, agar nilai investasinya lebih realistis.

“Ruas Gedebage–Tasikmalaya lebih menarik karena potensi lalu lintasnya tinggi. Jika ini berjalan, nantinya akan lebih mudah menawarkan ruas lanjutan ke investor,” jelasnya.

Gibran menegaskan, pemerintah harus segera mengambil langkah konkret agar proyek ini tidak terus stagnan. “Harus ada terobosan. Tidak bisa terus bolak-balik lelang dan gagal. Lebih baik difokuskan sampai Tasikmalaya terlebih dahulu daripada berhenti tanpa kemajuan,” pungkasnya.

Penulis : lazir

Editor : ameri

Berita Terkait

Gagal Cegah Karhutla Berulang, Raja Juli Antoni Diminta Mundur dari Menhut
Kemnaker Gelar InaSkills 2026, 90 Peserta Berebut Peluang Tembus Kompetisi Dunia
Beras SPHP Punya Kemasan Baru, BULOG Perkenalkan Beras Kita Medium
Indonesia Punya 17.343 Pulau Kecil, Baru 1.349 yang Sudah Bersertipikat
LKBH HMI Desak Menag Evaluasi Sekjen Kemenag, Polemik UINSA Ikut Disorot
Banjir Bandang Ancam Padang, Kementerian PU Siapkan Rp487 Miliar dan Bendung Penahan Sedimen
Bukan Cuma Karhutla, Mendes Yandri Soroti Sengketa Lahan hingga Koperasi Desa
Bukan Cuma Jalan, Kementerian PU Kebut Pemulihan 7 TPA di Aceh

Berita Terkait

Rabu, 21 Oktober 2026 - 09:02 WIB

Gagal Cegah Karhutla Berulang, Raja Juli Antoni Diminta Mundur dari Menhut

Rabu, 21 Oktober 2026 - 08:46 WIB

Kemnaker Gelar InaSkills 2026, 90 Peserta Berebut Peluang Tembus Kompetisi Dunia

Rabu, 21 Oktober 2026 - 05:04 WIB

Beras SPHP Punya Kemasan Baru, BULOG Perkenalkan Beras Kita Medium

Selasa, 20 Oktober 2026 - 09:33 WIB

Indonesia Punya 17.343 Pulau Kecil, Baru 1.349 yang Sudah Bersertipikat

Selasa, 20 Oktober 2026 - 08:21 WIB

LKBH HMI Desak Menag Evaluasi Sekjen Kemenag, Polemik UINSA Ikut Disorot

Berita Terbaru