PALEMBANG – Sesaat menjejakkan kaki di Kota Palembang, nuansa sejarah langsung terasa begitu kental. Seolah-olah udara di Bumi Sriwijaya ini masih menyimpan gema kejayaan masa lampau, ketika wilayah ini menjadi pusat kekuasaan maritim yang strategis dan berpengaruh di kawasan Asia Tenggara.
Kerajaan Sriwijaya: Sang Penguasa Samudra
Kerajaan Sriwijaya dikenal sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar dalam sejarah Nusantara. Tak hanya menguasai wilayah Palembang, kerajaan ini juga melebarkan pengaruhnya hingga ke Asia Tenggara dan Selat Malaka. Tak mengherankan jika bangsa-bangsa asing, termasuk Belanda, tertarik untuk menguasai wilayah strategis ini.
Nama Sriwijaya sendiri berasal dari bahasa Sanskerta, yaitu “Sri” yang berarti cahaya dan “Wijaya” yang berarti kemenangan. Dengan demikian, Sriwijaya memiliki makna “kemenangan yang gemilang.” Berdiri pada abad ke-7, kerajaan bercorak Buddha ini didirikan oleh Dapunta Hyang Sri Jayanasa.
“Sriwijaya bukan sekadar kerajaan, tetapi simbol kekuatan maritim Nusantara yang mewarnai sejarah Asia Tenggara,” ujar seorang sejarawan lokal, menegaskan betapa besarnya pengaruh kerajaan ini.
Meskipun runtuh pada abad ke-13, jejak kejayaan Sriwijaya masih bisa ditemui di berbagai sudut Palembang. Peninggalan-peninggalan bersejarahnya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu yang mengagumkan.
Kesultanan Palembang Darussalam: Pusat Kejayaan Islam di Sumatera Selatan
Tak hanya Sriwijaya, Palembang juga menjadi saksi berdirinya Kesultanan Palembang Darussalam, sebuah kerajaan Islam yang berjaya dari abad ke-17 hingga abad ke-19. Sultan pertamanya adalah Sultan Abdurrahman Khalifat al-Mukminin Sayidul Iman, yang menandai era baru dalam sejarah Palembang.
Dari kesultanan ini, lahir tokoh-tokoh pejuang yang berperan penting dalam melawan penjajahan Belanda, salah satunya Sultan Mahmud Badaruddin II. Namanya diabadikan sebagai pahlawan nasional dan menjadi ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan.
Salah satu warisan berharga dari era kesultanan ini adalah Masjid Agung Palembang, yang dibangun atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I Jayo Wikramo. Masjid ini berdiri megah sejak tahun 1724 hingga 1758 dan ditetapkan sebagai masjid nasional pada 23 Juli 2003. Selain itu, masjid ini juga dilindungi sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan peraturan pemerintah pada tahun 2009.
“Masjid Agung bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga lambang kejayaan dan kekuatan spiritual Palembang,” tutur seorang jemaah yang saya temui di lokasi masjid Agung ini.
Jembatan Ampera: Simbol Modernisasi di Atas Sungai Musi
Jika di Istanbul, Turki, kita mengenal Jembatan Bosphorus yang menghubungkan dua benua, maka di Palembang ada Jembatan Ampera, ikon kebanggaan masyarakat Sumatera Selatan. Dibangun sejak April 1962, jembatan ini membentang sepanjang 1.177 meter dan menghubungkan Seberang Ilir dengan Seberang Ulu.
Pada masanya, Jembatan Ampera merupakan jembatan terpanjang di Asia Tenggara. Keistimewaannya terletak pada bagian tengah yang bisa terangkat untuk memberi jalan bagi kapal-kapal besar yang melintas di Sungai Musi. Namun, sejak akhir 1990-an, mekanisme ini tidak lagi digunakan karena dianggap menghambat arus lalu lintas kendaraan.
Saat jembatan ini terangkat di masa lalu, pemandangannya sangat luar biasa. Kini, meskipun sudah tak terangkat lagi, Ampera tetap menjadi saksi bisu perkembangan Palembang, demikian hasil pembacaan saya terhadap sejarah kejayaan Palembang.
Sungai Musi: Nadi Kehidupan Sumatera Selatan
Jembatan Ampera melintasi Sungai Musi, sungai terpanjang kedua di Sumatera setelah Sungai Batanghari. Dengan panjang mencapai 720 km, aliran Sungai Musi melintasi beberapa provinsi, mulai dari Sumatera Selatan hingga Bengkulu.
Bermula dari Pegunungan Bukit Barisan, Sungai Musi bermuara di Selat Bangka dan Laut Cina Selatan. Sungai ini bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga sumber kehidupan dan peradaban bagi masyarakat sekitar sejak masa lampau.
Pelajaran Berharga dari Sejarah
Berkunjung ke Palembang bukan sekadar menikmati keindahan alam atau kuliner khasnya, tetapi juga memahami catatan sejarah yang menjadi fondasi budaya masyarakatnya. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus menjaga warisan sejarah ini sebagai bentuk penghargaan terhadap para pendahulu yang telah berjasa.
Sembari menyeruput kopi di pinggiran sungai Musi, pikiran saya melayang ntah kemana-mana “Kekuasaan bukan hanya tentang dominasi, tetapi tentang warisan untuk generasi mendatang. Sejarah Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam telah menunjukkan bagaimana kejayaan di masa lalu bisa menjadi pelajaran berharga untuk masa depan,” monolog dalam pikirku.
Akhirnya, marilah kita mengirimkan doa dan penghargaan kepada para raja, sultan, ulama, habaib, serta pejuang Bumi Sriwijaya dan Kesultanan Palembang Darussalam. Al-Fatihah. (Rahmat Kurnia Lubis)
Penulis : Rahmat Kurnia Lubis
Editor : Rahmat Kurnia Lubis






