JAKARTA -Kementerian Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (KemenP2MI) menggelar simulasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi siswa-siswi anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Simulasi ini diadakan di tiga sekolah: SDN 1 Gembongan Mekar, SDN Gembong, dan MI Mubtadin. Total sebanyak 1.050 siswa menerima manfaat dari program ini.
Wakil Menteri P2MI, Christina Aryani, menjelaskan, bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari perayaan Hari Pekerja Migran Internasional (Migrant Day) yang diperingati setiap 18 Desember.
“Hari ini kami menyelenggarakan simulasi MBG, yang merupakan salah satu program unggulan Bapak Presiden Prabowo. Program ini juga sedang diujicobakan di berbagai daerah. Kami memilih Cirebon karena daerah ini dikenal sebagai salah satu kantong besar pekerja migran,” ujar Christina saat acara di SDN 1 Gembongan Mekar, Senin (16/22/2024).
Christina menambahkan, berdasarkan data, sepanjang tahun 2024 terdapat sekitar 11.000 warga Cirebon yang bekerja sebagai migran, terutama di Hong Kong dan Taiwan.
“Banyak anak-anak di sini yang orang tuanya sedang bekerja di luar negeri. Kondisi ini menarik perhatian kami untuk melaksanakan simulasi MBG di sini,” lanjutnya.
Christina juga menekankan pentingnya edukasi terkait migrasi aman. Masyarakat diimbau berhati-hati terhadap iklan rekrutmen mencurigakan di media sosial yang menawarkan gaji fantastis.
“Di era digital ini, mudah untuk mengecek kebenaran informasi. Kami memiliki 23 perwakilan BP3MI dan P4MI yang siap membantu. Jangan mudah percaya dengan tawaran kerja ke luar negeri sebelum memverifikasi kebenarannya,” ujar Christina.
Ia menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk melindungi pekerja migran dari awal keberangkatan, selama di negara tujuan, hingga kepulangan mereka ke tanah air.
“Kami hadir untuk memastikan warga negara kita terlindungi dalam setiap proses migrasi,” ujarnya.
Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, Wahyu Mijaya, menyampaikan dukungan penuh terhadap program MBG dan perlindungan pekerja migran.
“Kabupaten Cirebon terus memberikan perhatian khusus kepada pekerja migran. Kami juga mengalokasikan anggaran untuk perlindungan mereka, baik saat keberangkatan, penanganan saat sakit, hingga pemulangan jenazah jika terjadi hal yang tidak diinginkan,” kata Wahyu.
Ia menambahkan, dari 40 kecamatan di Kabupaten Cirebon, salah satunya, Kecamatan Babakan, dikenal sebagai daerah dengan jumlah pekerja migran yang cukup tinggi.
“Kami berharap arahan lebih lanjut mengenai langkah-langkah terbaik dalam proses keberangkatan pekerja migran, yang sudah kami dukung melalui APBD Kabupaten Cirebon,” ujarnya.
Dengan adanya simulasi ini, diharapkan anak-anak pekerja migran dapat memperoleh nutrisi yang baik, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya migrasi yang aman dan terinformasi. ***













